Wonogiri- Bertempat di Masjid AL-Hidayah Dusun Josari, Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro telah dilaksanakan kegiatan Pengajian Akbar dan Halal Bihalal dengan tema “Merajut Ukhuwah Menebar Rohmat Menuju Masyarakat Madani Dalam Bingkai Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Gofur”, Sabtu(7/7).

Pjs. Kepala Desa Jimbar Suhardi, SE dalam sambutannya menyampaikan acara tersebut dapat terselenggara atas sumbangsih dan guyub rukun warga Desa Jimbar.

“Kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Habib Muhammad Adnan AL-Habsyi dari Cilacap di desa kami. Adapun jamaah yang hadir disini terdiri dari, Eromoko, Giriwoyo, Giritontro dan Pracimantoro dan semoga apa yang disampaikan Bapak Habib Muhammad Adnan AL-Habsyi bisa bermanfaat bagi warga kami,” ujarnya.

Sambutan yang disampaikan oleh Camat Pracimantoro Warsito, mengatakan bahwa kegiatan tersebut terselenggara murni dari masyarakat dengan ABPD Desa serta guyup rukun warga.

“Saya mengucapkan banyak terimakasih karena dalam Pilgub 2018 dalam keadaan aman, tentrem, damai dan kondusif. Saya secara pribadi mengucapkan Mohon Maaf Lahir batin kepada semua warga Desa Jimbar,” jelasnya.

Tausyiah yang disampaikan oleh (Habib Muhammad Adnan AL-Habsyi) makna dari Halal Bihalal antara lain Halal bi halal adalah bid’ah dan istilah ini tidak dikenal di Arab, akan tetapi halal bi halal itu prasyarat kembali pada fitrah manusia. Istilah ‘halal bi halal’ ini khas budaya Indonesia dalam mengemas kegiatan keagamaan.

“Sebenarnya, tradisi dan substansinya telah ada sebelum kemerdekaan, yaitu tradisi sungkeman dan silaturrahim. Pada awal kemerdekaan di Indonesia banyak polemik dan perbedaan pandangan para tokoh bangsa. Lalu Presiden Soekarno hendak melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi nasional meminta pandangan kepada Kiai Wahhab Hasbullah. Kiai Wahhab mengusulkan diadakan silaturrahim. Tapi istilah ini ditolak karena Presisden Soekarno ingin ada istilah baru yang lebih spesifik. Kiai Wahhab mengusulkan nama Halal Bihalal,” jelasnya.

Dia menambahkan filosofi, bahwa orang yang punya salah dan bermusuhan itu sedang melakukan yang haram kepada yang lain sehingga perlu dihalalkan dan saling menghalalkan antara anak bangsa sehingga tak ada haram dan dosa antar sesama serta kembali pada kerukunan dan kesatuan. Halal bi halal itu prasyarat kembali pada fitrah manusia. Sebab fitrah kembali pada asal kejadian dan kesucian. Mana kala masih ada haram kepada orang lain dan belum dihalalkan, pastinya belum menggapai fitrahnya. Dosa kepada orang lain tak cukup hanya istighfar dan taubat kepada Allah SWT, tetapi juga perlu maaf/halal dari orang yang disakiti atau dianiaya.

“Halal Bihalal kandungannya adalah maaf-memaafkan dan silaturrahim secara langsung. Al Qur’an Al Karim menjelaskan bahwa orang yang memaafkan kepada yang lain adalah ciri orang yang bertakwa, dan ini selaras dengan tujuan puasa, yaitu menggapai takwa dan memberi maaf jauh lebih afdhal dari pada minta maaf. Nah, momentum Lebaran dan Idulfitri adalah sarana saling minta maaf dan memaafkan. Silaturrahim yang dikemas dalam acara halal bi halal juga perintah Rasulullah sebagai implementasi keimanan jika hidupnya ingin bahagia, mudah rezeki dan umur panjang,” tuturnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Pracimantoro Warsito, Danramil 13/Pracimantoro yang diwakilkan kepada Pelda Suef dan Serda Sarmono, Pjs. Kepala Desa Jimbar Suhardi, SE, Ustadz dari Cilacap Habib Muhammad Adnan AL-Habsyi dan Ketua Penyelanggara Suparso. (RedG Aris)

Tinggalkan Komentar