oleh

NAHDLIYIN & PEMILU 2024

Penulis : Mohamad Masruri *)

 

Pemalang – Pemilihan umum tahun 2024 sudah didepan mata, tinggal hitungan hari lagi tanggal 14 Februari tiba, pesta demokrasi yang dinantikan setiap 5 tahun sekali ini menjadi momen yang penting untuk menentukan sosok pemimpin yang nantinya diharapkan dapat mengemban Amanah yang diberikan oleh Masyarakat Indonesia.

Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi dan kepentingan bangsa. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama. Imamah dan Imarah dalam Islam, harus sesuai dengan syarat-syarat sesuai ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. Umat islam tidak benarkan untuk golput atau tidak menggunakan hak pilih. Jika golput akan berdampak pada gagalnya pemilihan umum dan rusaknya tatanan pemerintahan, maka hukumnya haram.

Sebagai pemilik saham mayoritas warga negara, Nahdlatul Ulama (NU) menjadi lokomotif untuk menggerakkan demokrasi melalui rel yang benar. Sekaligus menjadi pembangkit bagi partisipasi dengan tenaga besar. Pemilu sebagai syarat demokrasi dijalankan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Melaksanakan pesta lima tahunan dengan riang gembira. Menjadikan pemilu sebagai sarana untuk menciptakan pemerintahan perwakilan yang bertanggung jawab dan penuh pelayanan.  Menjaga pemilu di jalur rel yang benar berarti menjalankan roda penyelenggaraannya sesuai dengan konsensus dan aturan main yang berlaku. Sepanjang dasar hukumnya belum berubah, kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangandijalankan.

Tujuan penyelenggaraan pemilu tidak lain adalah untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Pemilu adalah momentum untuk saling menghormati pilihan. Jangan sampai hanya karena perbedaan pandangan politik, lantas harmoni dipertaruhkan. Sebagai sarana memilih pemimpin bangsa, pemilu diselenggarakan dengan derajat keterwakilan yang tinggi dan mendorong para calon untuk menyajikan gagasan membangun bangsa ini lebih maju dan berkeadilan.

Baca Juga  Koneksi Antar Materi  Nilai dan Peran Guru Penggerak 

Menghadapi situasi mendatang, pesan Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengingatkan, pemilu adalah peristiwa lima tahunan. Sementara menjaga kebhinekaan berlaku sepanjang hayat. Tidak perlu menghadapi pemilu seperti perkara hidup mati. Jangan sampai karena pemilu, memecah persaudaraan sesama anak bangsa. Persaudaraan yang pecah merendahkan martabat negara. Bahkan Gus Dur menegaskan, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Proses demokrasi seyogyanya semakin menciptakan ruang kontrak sosial dan mengarah kepada kesejahteraan rakyat. Proses pemilu adalah penyampaian janji politik yang disampaikan dengan kehalusan budi pekerti. Pada akhirnya, perjalanan menuju demokrasi yang berkualitas wajib menyertakan banyak pihak. Menjaga proses pemilu untuk keselamatan bangsa dan negara adalah tanggung jawab kita semua.

Semoga kita semua mampu melewati pesta demokrasi ini dengan sukses dan selamat, untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia kita tercinta ini. Menjaga keutuhan bangsa menjadi prioritas dan kwajiban kita semua. (RedG/Mohamad Masruri, Kader Nahdlatul Ulama (opini jelang pemilu 2024 dari beberapa referensi))

Komentar

Tinggalkan Komentar