oleh

Luasnya Kebaikan Allah

OPINI

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* *Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

Yogyakarta – Kesempatan Beramal sebagai di antara wasilah atau perantara, baik dalam mencari berbagai kebaikan dari Allah, memohon ampunan atau dosa juga berbagai keburukan diri juga sebagai perantara mencari kemuliaan atau derajat di sisi Allah dan yang menjadi paling utama adalah mencari keutamaan di mata Allah.

Penulis pribadi hendak membagi pengalaman ketika menempuh jalan penuh tantangan dengan aktualisasi melalui tulisan atau menulis terutama dalam bentuk artikel sebagai penulis lepas. Bagi penulis, jalan ini adalah karunia di antara karunia-karunia besar yang Allah karuniakan. Dengan segala keterbatasan diri juga prioritas kegiatan dan tantangan dari luar, Alhamdulillah Allah senantiasa bantu dan diberiNya kesempatan dan berbagai kebaikan.

Keterbatasan adalah pada ilmu, kemampuan penulis dan hambatan khas manusia lainnya. Sebagai tantangan adalah di antaranya dalam penyesuaian tulisan dalam dunia digital saat sekarang ini. Belum lagi resiko besar terkait pemahaman agama, yang tidak hanya menuntut sekedar disampaikan, namun juga refleksi diri seberapa pengampunan diri khususnya ilmu.

Dua di antara banyak ayat al-Qur’an yang mengungkapkan keluasan Allah sebagai satu di antara Nama-nama MuliaNya adalah pada ujung ayat 73 dalam Surat Aali Imraan, berikut terjemah Idonesianya: “Janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu atau mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

Baca Juga  Pasar Manipulatif yang Perlu Diwaspadai

Tentang keluasan Rahmat Allah untuk tidak berputus asa dalam berusaha meraihnya pada az-Zumar ayat 53 berikut artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka! Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali dosa syirik)! Sungguh Dialah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Hidup harapannya dapat dimaknai sebagaimana pengibaratan kesempatan yaitu untuk menanam berupa amal yang akan dipetik hasil di akhirat kelak baik amal salih atau sebaliknya. Berwaspada pada dosa terbesar sekaligus puncak kezaliman berupa kesyirikan dengan berlindung kepada Allah agar terhindar darinya hingga menjelang akhir hayat.

Senantiasa berusaha dan berdo’a kepada Allah memohon kebaikan yang semata dariNya berupa petunjuk, berbagai kebaikan dan dijauhkan dari berbagai bentuk dosa-dosa. Sebagaimana diserukan untuk tidak berputus asa dari RahmatNya senantiasa beramal salih, “Allahu a’lam!”. (RedG)

Komentar

Tinggalkan Komentar