oleh

Hamid Noor Yasin : Defisit Pangan di Beberapa Propinsi, Dapat Disuplai dari Daerah Surplus, Jangan Lakukan Impor

Jakarta-Anggota DPR RI Asal Dapil Jawa Tengah IV, Hamid Noor Yasin meminta pemerintah jangan melakukan impor pangan pasca pengumuman defisit pangan di beberapa propinsi. Karena defisit pangan di suatu propinsi di Indonesia, bila jalur distribusi logistik lancar, akan dapat ditambal dari daerah surplus.

Presiden mengumumkan defisit pangan termasuk defisit beras di tujuh propinsi di Indonesia, menurut Hamid untuk saat ini bukan sesuatu yang darurat untuk disikapi dengan melakukan Impor. Tapi hal yang sangat penting adalah penyikapan distribusi yang baik pada transportasi logistik antar propinsi menjadi sangat urgent terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Kondisi pangan saat ini persoalannya bukanlah masalah tingginya komoditas pangan saja. Namun untuk komoditas tertentu, para petani dan peternak menghadapi persolan murahnya harga sehingga mengancam kebangkrutan dunia usaha pertanian maupun peternakan”, ucap Hamid, Sabtu (2/5).

Politisi PKS tersebut mencontohkan, seperti ayam hidup di tingkat peternak, harganya terlalu murah dibandingkan biaya produksi (pakan) ataupun bila dibandingkan dengan harga jual di pasar. Begitu juga harga cabai. Ia mendapat laporan di beberapa petani sentra cabai seperti Malang atau di Dompu, harga cabai terpuruk hingga Rp. 5.000 per kilogram. Ia menengarai ada permainan tingkat pengepul atau tengkulak nakal yang merusak harga jatuh cabai.

Hamid menambahkan, untuk komoditas gula dan bawang putih, memang persoalannya harga tinggi yang menyusahkan konsumen. Bahkan pemerintah akan mengusulkan revisi HET (Harga Eceran Terendah Gula).

“Dilema produk pangan, bila terlalu rendah mendzalimi petani atau peternak. Bila terlalu tinggi menyusahkan rakyat banyak. Jadi harus wajar,” ucap Hamid yang duduk di Komisi IV DPR ini.

Legislator dari Kabupaten Wonogri Jawa Tengah tersebut menjelaskan, dari berbagai diskusi ilmiah baik lembaga kajian maupun di kampus, stok pangan saat ini masih sangat aman hingga tiga bulan kedepan. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi beras Indonesia pada Juni 2020 surplus 6,4 juta ton. Perkiraan ketersediaan beras tersebut didasarkan pada produksi dan kebutuhan konsumsi bulanan, serta memperhitungkan stok yang ada. Stok pada akhir Maret 2020 terhitung sebanyak 3,45 juta ton. Rinciannya stok dari Bulog 1,4 juta ton, penggilingan 1,2 juta ton, pedagang 754.000 ton, dan di Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) 2,939 ton.

Baca Juga  Hamid Noor Yasin : Fokus Pemulihan dan Pembangunan Sektor Pertanian yang Maju, Mandiri, dan Modern Terkendala Anggaran dan Regulasi

Hamid meminta kepada kementerian pertanian, agar janjinya sebagai sektor yang bertanggungjawab terhadap penyediaan pangan, mesti sesuai kenyataan akan persiapan berbagai strategi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, khususnya dalam situasi pandemi Covid-19.

“Bukti realisasi janji pemerintah adalah tidak Impor pangan. Karena dengan penjelasan kesiapan, kecukupan stok dan rencana-rencana strategis itu, bila masih saja impor, itu berati membohongi rakyat. Saya berharap defisit di beberapa propinsi akan produk pangan tertentu, dapat di tambal dari propinsi lain yang surplus. Karena inilah fungsi negara hadir untuk rakyat”, tutup Hamid Noor Yasin.(red)

Komentar

Tinggalkan Komentar