Brebes- Hello kawula muda? Kalian pecinta kopi? Bingung cari tempat kongkow? So pasti, cocok sekali dengan kalian pecinta kopi dan kongkow di malam hari.

Salah satunya, Rong Tjangkir, yang berada di Jalan Taman Siswa itu berdiri. Tepatnya di Ruko Perumahan Gren Nirwana.

Kedai kopi ini bisa menjadi pilihan tempat untuk menikmati secangkir kopi sembari kumpul bersama kerabat entah itu untuk meeting, diskusi, atau hanya sekadar kongkow. Soal rasa, tak diragukan lagi. Pasalnya, Rong Tjangkir menawarkan menu dengan bahan baku kopi yang asli dari berbagai tanah air.

Ada empat jenis kopi single origin yang bisa dinikmati di Rong Tjangkir. Tinggal pilih, mau kopi dengan metode V60, V Drip, Frech Press, dan Javanese Iced Coffe. Tidak hanya itu saja, ada juga basic espresso yakni Cappucino, Latte, Espresso, Americano, Long Black, Ko Cok Su.

Gnews Id disuguhi secangkir kopi Espresso dengan kopi si Jambe Robusta, namanya. Keasaman natural kopi ini kemudian menemani perbincangan Gnews Id bersama Fitriadi Prakoso.

“Kita hanya menyediakan kopi khas nusantara. Setiap 3 hari sekali kita mengganti tema kopi yang disediakan, “ungkap pemilik Kedai Kopi Rong Tjangkir, Fitriadi Prakoso sering disapa Miko (32) kepada Gnews Id pada Jumat (19-6-20) malam.

Kedai tersebut dibuka mulai dari pukul 7 malam sampai 01.00 malam. Fitriadi Prakoso mengatakan pengunjung yang datang dikedainya rata-rata menikmati sigle origin.

“Arabika single origin metodenya V60 yang sering dinikmati oleh pengunjung kedai,” katanya.

Menurut Fitriadi Prakoso, kopi yang ada di kedainya merupakan kopi lokalan (red- Brebesan) hingga sampai berbagai daerah di nusantara.

“Kopi Brebesan kalo Robustanya dari Kecamatan Salem dan Arabikanya dari Kecamatan Sirampog. Selain itu, ada Gayo, Toraja, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, ” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kopi yang lokalan diambil langsung dari petani dan kopi yang dari luar lokalan diambil dari pihak kedua petani.

“Kopi lokalan kedai kami mengambil langsung dari petani dan luar lokalan kami mengambil dari suplier atau pihak kedua dari petani, “akunya.

Dalam sela-sela obrolan bersama kami (red-GnewsId), Fitriadi Prakoso mengatakan kedainya dia harganya tidak terlalu mahal cukup merogoh kocek sekitar 12-15 ribu saja sudah menikmati kopi.

“Ya harganya relatif buat kantong pelajar mas, karena, itunganya dari bahan baku dan operasional mencukupi, “paparnya.

Diceritakan Fitriadi Prakoso, kedainya memiliki ciri khas dengan olahan kopi lokalan diinovasikan antara perpaduan susu dan gula aren.

“Ciri khas di kami adalah kopi Signature. Kopi ini dipadukan dengan susu dan gula aren. Akhirnya, inovasi kami namakan “Es Moka Gula Semut” dengan metode moka pot, “ungkapnya.

Saat ditanya menjamurnya kedai kopi di Brebes, Fitriadi Prakoso menyikapinya dengan santai dan buat ajang silaturahmi atar pemilik kedai kopi.

” Kita tetap merangkul pelanggan kami dan menjaga cita rasanya. Menjamurnya kedai kopi di Brebes, kita menyikapinya buat ajang silaturahmi sekaligus sharing mengenai kopi. Bahkan, kami sering menawarkan kopi lokalan dari kami dan sebaliknya dari kedai kopi lainnya, “jelasnya.

Lalu, Fitriadi Prakoso mengatakan, dia bangga adanya kopi lokalan sehingga dapat memperkenalkan kopi kelahirannya melalui kedai yang dimiliki.

“Ada kebanggan sendiri dari pelanggan dan pemilik kedai. Otomatis, petani mendengar seperti ini lebih semangat dalam bertani. Intinya, mendukung produk lokal,” paparnya.

Diakhir obrolan, Fitriadi Prakoso mengharapkan, kopi lokalan ini dapat dinikmati seluruh nusantara dan menjaga ciri khas kopi buatan kedainya.

“Kedai kami agar tetap eksis mengenalkan kopi nusantara dan menjaga ciri khas di kami. Adanya kopi lokalan, saya berharap dapat dikenal dikalangan masyarakat sini sendiri (red-Brebes) hingga merambat ke nasional,” tutupnya.
(RedG/Dicky Tifani Badi)

Tinggalkan Komentar