oleh

Di Wisma Atlit Pacitan, Cluster Pertama Pasien Covid-19 Pacitan Dinyatakan Sembuh, Ini Alasanya

Pacitan – Cluster permata pasien Covid-19 Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pacitan, Jawa Timur  Muhammad Nurul Huda, sudah di nyatakan Negatif oleh Dinas kesehatan. Semua itu karena hasil tes swab sudah menunjukkan hasil negatif sebanyak tiga kali.

Selama kurun waktu (62) hari dirinya di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pacitan dan selama 12 hari di pindahkan ke wisma atlit sebagai rumah karantina yang di sediakan oleh pemerintah daerah.

Huda menerangkan, bahwa dirinya merasakan hidup tenang sebagai orang yang di karantina hanyalah di wisma atlit Pacitan ini, namun terlepas dari semua itu pasti nya ada suatu alasan.

“Alhamdulillah, di sini (wisma atlit) saya menemukan hidup baru, walaupun hanya 12 hari,  tapi pemikiran saya, ketenangan saya merasa mendapatkan angin segar ya di wisma atlit,” terangnya, senin (15/6/2020).

Lebih lanjut, Kepala Kemenag Pacitan ini juga menjelaskan, bahwa dalam masa perawatan dan karantina,ia memakai tiga katagori antara lain religi, roso pangroso dan juga psikologi.

Huda juga menilai bahwa di wisma atlit ia menemukan udara baru, hidup baru dan juga teman baru yang sangat baik hati. Namun Huda tidak mau menyebutkan siapa gerangan yang selalu menjadi teman berbincang, bercanda saat di wisma atlit.

Religi, roso pangroso dan psikologi 

Yang pertama adalah Religi berarti dengan billhikmah wal mauwidzah khasanah. Kita harus selalu banyak berdoa, berikhtiar dan selalu berserah diri kepada Allah SWT.

Yang kedua adalah Roso Pangroso, dalam artian saya ini di anggap bukan pasien,tapi saya ini di anggap teman oleh mereka.

Yang ketiga adalah Psikologi,dalam artian.dirinya bisa merasakan hidup dengan menghirup udara segar langsung dari alam.

Baca Juga  Kerupuk Temulawak Kreasi dari Pacitan

Dari ketiga katagori tersebut,yang membuat Kepala Kemenag Pacitan paling berkesan adalah Religinya, kedua adalah Roso Pangroso nya. Dimana lanjut Huda, bahwa saat di wisma atlit dirinya tidak di anggap sebagai pasien covid-19.tapi sebagai teman.

“Jadi saya ini di wisma atlit,bukan lah di anggap sebagai pasien, tapi di anggap sebagai teman.dan saya sangat merasakan ketenangan saat karantina ya di wisma atlit itu.karena dengan mereka saya bisa ngobrol, diskusi, sharing dengan teman-teman itu,”jelas Huda.

Lalu, siapakah teman yang di anggap oleh Huda, pasti nya orang yang sangat paham, orang yang sangat mengerti dan orang yang bisa di ajak berdiskusi.

“Pastinya ada teman yang membuat hati,pemikiran saya semakin fres.dia tahu apa yang saya pikirkan dia selalu ada buat saya selama di wisma atlit.dan pastinya dialah penyelamat saya,”pungkasnya (RedG/Apri)

Komentar

Tinggalkan Komentar