Para pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru madrasah di Jawa Tengah mendeklarasikan Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Jawa Tengah.

Semarang – Para pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru madrasah di Jawa Tengah mendeklarasikan Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Jawa Tengah. Deklarasi ini dilakukan pada akhir kegiatan pelatihan penguatan kapasitas pendidik inklusi di Jawa Tengah yang diselenggarakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah (GTK) Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI melalui program Madrasah Education Quality Reform World Bank tanggal 5 – 9 November 2020 di Semarang.

Deklarasi FPMI Jateng ini dihadiri oleh pejabat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Agus Mahasin, yang merupakan Kasi Guru Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Agus Mahasin menyampaikan apresiasi atas deklarasi FPMI Jawa Tengah dan menyampaikan bahwa perjuangan lembaga pendidikan untuk menjadi inklusi tidaklah mudah.

“Ada tantangan untuk kita agar bisa melayani ABK dan menyebarkan mindset inklusi kepada yang lain. Selain kepala madrasah dan guru, para pengawas juga memiliki peran mengawal penjaminan mutu di madrasah inklusi” ucapnya.
Sementara ketua FPMI tingkat pusat, Supriyono, mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya atas terbentuknya FPMI Jawa Tengah. ini menjadi salah satu amanat Direktorat GTK setelah memfasilitasi terbentuknya Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) yang dideklarasikan pada tanggal 9 September 2020 di Serpong Tangerang.

“Keterlibatan penuh para pengawas, kepala madrasah, dan guru selama pelatihan lima hari ini membuat saya yakin bahwa madrasah-madrasah kita akan menjadi pionir pendidikan inklusi di Jawa Tengah. Dan dengan dideklarasikannya FPMI jateng semoga menjadi semangat perjuangan inklusi di masa yang akan datang” tegas Supriyono yang juga menjadi kepala MI Maarif NU Keji Ungaran Barat Kabupaten Semarang.

Setelah deklarasi kemudian dipilih secara aklamasi ketua FPMI Jawa Tengah yaitu Sri Ayu Sipah, kepala MTs Darul Hikmah Subah Batang. Usai ditunjuk untuk memimpin FPMI Jawa Tengah, Ayu mengatakan bahwa perjuangan melaksanakan pendidikan inklusi tidaklah mudah dan pihaknya akan selalu berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait.

“sistem perlu dibentuk dan dikawal oleh birokrasi. Kita sudah mendengar dukungan pak Muhamad Zain dan Bu Siti Sakdiyah dari Direktorat GTK terhadap madrasah inklusi. Alhamdulillah data ABK sudah diakomodir dalam simpatika sehingga perjuangan menuju inklusi di madrasah sangat terbantu” tuturnya.

Hadir dalam deklarasi FPMI Jateng tersebut tim pendidikan inklusi dari LP Maarif PWNU Jawa Tengah, Miftahul Huda, perwakilan pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru madrasah dari beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah, di antaranya kabupaten Semarang, kabupaten Kebumen, kabupaten Banyumas, kabupaten Brebes, kabupaten Tegal, kabupaten Pekalongan, kabupaten Batang, kabupaten Wonosobo, kabupaten Temanggung, kabupaten Sukoharjo, kabupaten Magelang, kota Semarang, kabupaten Demak, kabupaten Rembang, dan kabupaten Blora. (RedG/HI)

Tinggalkan Komentar