Sukoharjo- Tokoh masyarakat asli Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo Djoeyamto,SH,MH melaunching lagu berjudul Kartasura Greget di Hotel Pramesti, Kartasura, Sabtu (4/7) pukul 10.00 WIB.

Jajaran Forkompinca Kartasura hadir, bersama pelaku industri, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama dan Setiawan, S.M, M.Si dari
AD 1 PM Family.

Acara yang juga disiarkan secara langsung oleh Channel Youtube Relinkspeed.TV dan dipandu dengan lugas namun kocak oleh Widhi Ruminto atau yang lebih dikenal dengan Widhi Kocrit.

Acara dibuka dengan drama musikal penuh makna oleh para remaja Kartasura. Letkol Bobi Gaol pelantun Alun-Alun Boyolali menyumbangkan suara emasnya lewat lagu legendaris milik Pance Poondag berjudul Kucari Jalan Terbaik, lengkingan nada tinggi mampu membius para hadirin. Staso Prasetyo, putra almarhum Sang Maestro Didi Kempot tak mau ketinggalan, lagu ciptaannya berjudul Pepujaning Ati dilantunkan pria 20 tahun tersebut.

Ketua Pelaksana kegiatan tersebut Agung Nugie mengatakan acara seremonial tersebut dilaksanakan dengan menerapkan aturan pemerintah tentang pencegahan penyebaran COVID 19.

“Meski digelar secara sederhana, namun tidak mengurangi makna Lagu Kartasura Greget, sebuah upaya untuk membuat Kartasura menjadi lebih baik di segala bidang kehidupan. Terima kasih kepada Bapak Djoeyamto yang telah membuat lagu yang penuh makna bagi Kartasura yang makin guyub, Nyawiji ing Paseduluran,” ungkapnya.

Camat Kartasura, Suyadi Widodo,S.Sos mewakili jajaran Forkompinca Kartasura menilai acara tersebut merupakan agenda spesial, dimana karya budaya yang masih bisa ditampilkan di masa pandemi COVID19.

“Kita menyadari semua harus sesuai prosedur protokol kesehatan seperti memakai masker, menerapkan physical distancing, pengukuran suhu tubuh dan pemakaian hand sanitizer,” katanya.

Camat menuturkan Kartasura Greget adalah upaya untuk bersama menggugah semangat warga Kartasura untuk membangun daerah secara bersama.

“Dalam forum ini ada tokoh agama, perwakilan pemerintah, dunia usaha dan dari dunia pendidikan. Saran dan pendapat demi Kartasura yang lebih maju , karena Kartasura adalah pintu gerbang berada di pertigaan Kota Solo, Jogja dan Semarang,” bebernya.

“Lagu Kartasura Greget menggugah warga Kartasura dari berbagai lini demi Kartasura lebih baik dengan tingkat kondusifitas tinggi,” lanjutnya.

Djoeyamto,SH,MH sang pemrakarsa acara tersebut menceritakan masa kecilnya di Kartasura. Sebagai putra daerah, dirinya terpanggil untuk memberi sesuatu bagi tanah kelahirannya tersebut.

“Saya terpanggil untuk berbuat untuk tanah kelahiran saya Kartasura meski itu kecil artinya. Saya ingin mengulang sejarah episode emas Keraton Kartasura yang guyub, rukun dan gotong royong,” jelasnya.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai hakim tersebut menambahkan alasannya menggunakan lagu dalam menyampaikan pesan moral mulia tersebut karena akan lebih mudah diterima oleh alam bawah sadar sehingga akan menjadi pemantik semangat yang akan diaplikasikan bagi para pendengarnya.

Andi Zate, seniman sekaligus pelaku industri musik asli Kartasura menjelaskan dirinya memulai berkarya sejak tahun 1989. Membuat lagu-lagu berbahasa Jawa, menuturnya adalah upaya untuk nguri-nguri Budaya Jawa yang adi luhung.

“Setelah mengenal karakter suara Pak Djoeyamto segera kita buat musik yang sesuai dengan pesan lagu Kartasura Greget dan shooting video klipnya menggunakan semua ormas dan kelompok yang ada di Kartasura,” tegasnya.

Budayawan asal Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Sri Narendra Kalaseba menegaskan lagu Kartasura Greget memberikan semangat kepada generasi muda agar meninggalkan sifat negatif dalam kehidupan.

Sri Narendra Kalaseba menuturkan berbicara Kartasura adalah soal sejarah panjang salah satu kerajaan yang pernah ada di tanah Jawa.

“Berbicara sejarah jawa harus menggunakan 2 cara yakni eling sangkan paran dan mendhem jero mikul duwur,” katanya.

Pada acara tersebut juga diadakan penggalangan donasi bagi seniman asal Kartasura yang kini terbaring sakit yakni Sukadjiman si pencipta lagu Lingsir Wengi. (AR15)

Tinggalkan Komentar