Ganjar Jadi Magnet Anak Muda Kreatif di Bandung

Bandung – Ratusan peserta dari berbagai penjuru nusantara tampak begitu antusias saat bincang bareng Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Membahas tentang ekonomi kreatif selama dua jam di markas Bandung Creative City Forum (BCCF), Sabtu (7/3) sore, Ganjar pun jadi magnet anak-anak muda kreatif di Bandung.

Para peserta datang dari berbagai kota seperti Bali, Kendari, Blitar, Semarang, Solo dan beberapa kota lain di luar Jawa. Mereka tergabung dalam Indonesia Creative City Network (ICCN) yang menaungi pegiat kreatif seluruh Indonesia. Sedang peserta dari Bandung adalah anggota BCCF.

Dari obrolan itu, Ganjar pun secara khusus berencana mengaktivasi ruang diskusi kreatif di Jateng. Ia pun mengundang secara khusus para perwakilan ICCN untuk bisa hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) untuk berbagi pengalaman di hadapan bupati dan wali kota se Jateng.

“Bagaimana kalau saya mengundang teman-teman ke musrenbang, silahkan ngomong tentang kota kreatif, kebutuhan dan aktivasinya, nanti saya fasilitasi,” katanya.

Selain itu, Ganjar juga bercerita bagaimana ia membuat kebijakan untuk menampung industri kreatif di Jateng. Salah satunya kewajiban mengenakan baju adat nusantara bagi ASN.

“Sederhana saja, dengan memakai baju adat dari berbagai daerah, akan tumbuh kecintaan pada budaya Nusantara, lalu industri batik dan lurik pun tumbuh pesat,” katanya.

Selain itu, booming sosial media menurutnya juga harus disikapi sebagai pemantik kreatifitas produktif untuk menghasilkan sesuatu yang substantif.

“Tiktok misalnya, setiap hari orang bermain-main lagu dan gerakan, tidak bisa hanya berhenti sebagai hiburan, harus dimasukkan unsur budaya di situ, pesan toleransi, coba bagaimana bikin tiktok soal pancasila, soal berketuhanan,” tambahnya lagi.

Keinginan Ganjar itu pun disambut antusias oleh Ketua ICCN Fiki Satari dan Ketua BCCF Tita Larasati. Jaringan ICCN di Jateng yang hadir seperti Adin Hysteria dan Anggit dari Solo pun menyambut baik tawaran itu.

Fiki Satari mengatakan, sumber daya kreatif anak muda di negeri ini begitu berlimpah. Sebab itu, Indonesia butuh pemimpin yang mampu mengakomodasi sumber daya itu.

Caranya antara lain yakni dengan melakukan riset dan pengembangan.

“Itu untuk menumbuhkan pembangunan ekonomi, dengan mewujudkan ide atau gagasan yang kreatif dan inovatif, serta ditopang oleh kelengkapan infrastruktur kelembagaan,” ujarnya.

ICCN, lanjut Fiki, dimulai dari Bandung dan kini telah memiliki jaringan di 200 kota lebih. Mereka mengaktivasi kampung hingga taman kota jadi ruang-ruang publik yang menggairahkan iklim berkreasi dan berinovasi. Dari kerajinan lokal hingga start up bisnis yang mendunia.

“Bahkan bicara Nasionalisme dan toleransi bisa dimulai dari industri kreatif ini, karena kita bisa mencintai produk lokal dengan beragam unsur budaya,” katanya.( sumber PDI Perjuangan )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *