oleh

Yurice dan Masa Lalunya

Cerpen

Oleh: Depri Ajopan

Tiba-tiba saja aku diputuskan kekasihku lewat SMS. Aku pun tak tahu apa alasannya. Mengenai cinta kami yang tak direstui dan selalu diintervensi oleh saudaranya, menurutku itu hal yang biasa. Kami sudah berjanji, pelan-pelan melawan hantu-hantu gentayangan yang berdatangan sampai dapat kememenangan yang gemilang. Perjanjian yang menggunakan kalimat sumpah dan menyebut nama Tuhan itu sudah terjadi sejak lama. Dia tidak punya alasan tepat yang bisa dijadikan sandaran kenapa ia mendadak memutuskan aku yang selama ini ia sayangi, aku juga benar-benar bingung. Tega-teganya ia menusuk hatiku dengan ujung tombak paling runcing di dunia. Lebih baik aku mati saja. Dan perbuatan terkutuk seperti itu tidak bisa aku tolerir. Sekarang hatiku yang ciut hancur berkeping-keping seperti pecahan kaca.

Aku yang memiliki mental cengeng tidak tahu bagaimana gerakku membalas kekejaman seperti itu sebelum aku mati. Selama aku kenal dengannya, aku dapat menarik segenggam kesimpulan. Dia termasuk perempuan baik. Kalau dilihat dari segi fisik dia gadis yang jelita. Kulit lembut, kuku lentik berminyak, rambut lurus dan pendek, mata berbinar. Ukuran badan 165 senti, tidak bersangatan kurus, sedikit badannya agak berisi. Untuk ukuran polisi wanita gadis turunan Tiong Hoa itu lulus mulus tanpa seleksi.

Tidak berlebihan dia disebut bidadari dunia. Tak mengenal tempat, pria manapun di dunia ini yang melihat gadis yang suka berpakaian super ketat itu. Baik yang bukan pengagum kecantikan, bibirnya pasti bergetar memuji-muji. Bahkan ada yang kepalanya tertunduk lesu membayangkan berduaan dengan gadis itu di atas ranjang melakukan kesenangan paling puncak. Bercium bibir, sama-sama menanggalkan pakaian. Berpelukan tanpa sehelaikain. Napas terengah-engah merasakan puncak kenikmatan yang tiada tara, setelah memasukkan sesuatu kepada sesuatu akhirnya memuntahkan sesuatu. Tapi sayang seribu kali sayang dia memiliki suatu kekurangan. Menurutku tidak pantas disebut kekurangan, tapi kesalahan besar sebesar dunia hina ini. Waktu itu kami bertiga di tempat yang sunyi dan sempit bersembunyi dalam kegelapan. Tidak ada suara berisik yang mengganggu. Aku memegang leher gadis itu dengan nafsu membuncah. Telunjukku menari-nari melintas di antara dua susunya. Gadis itu terdiam sejenak, tak ada maju dan tak ada mundur sejengkalpun. Matanya masih saja mengerjab-erjab. Aksiku dilanjutkan kembali menggunakan jurus lain. Mencium keningnnya dan mencium pipi kiri pipi kanan. Lalau menjilat telinganya. Sambil menjelajah ke tempat lain. Ujung lidahku bergerak-gerak tepat di bagian bibirnya.

Terakhir kupeluk erat tubuh gadis itu dengan manja. Aturan napasnya terlihat santai. Tidak seperti napasku yang ngos-ngosan menahan asmara hangat. Aku sudah siap melakukan yang satu itu. Melukai kehormatan paling kehormatannya, lemahnya imanku. Otakku dikelabui nafsu angkara murka. Ingin sekali berbuat mesum. Seumur hidup ini aku takpernah merasakan nikmatnya surga dunia itu. Sekaranglah waktu yang tepat untuk aku menerobosnya. Aku tak tahan lagi. Nafsuku yang berontak sudah menguasai sekujur tubuh yang terbunuh. Jantungku bergetar hebat. Iman yang kumiliki lebih tipis dari kertas kosong. Bahkan lebih tipis dari debu yang terbang melayang-layang di jalanan. Atau tidak tepat sasaran kalau posisi miring seperti ini masih bicara tentang nilai keimanan. Lebih tepat mengalihkan pembicaraan tentang kejantanan seorang lelaki. Kalau memang ada kesempatan kenapa tidak disikat. Kalau hamil duluan dari pada menanggung malu gugurkan saja. Orang-orang jahiliah kejam. Sekejam-kejamnya mereka, mereka masih sabar menunggu. Kalau anak laki-laki yang terlahir ke dunia dipelihara dengan baik sampai hidup terhormat. Kalau dia perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup. Zaman sekarang belum lahir sudah dibunuh. Tidakkah perbuatan terkutuk seperti ini lebih kejam? Kau sendiri kawan yang mempelajarinya. Keluarkan opinimu tentang dunia gelap sekarang ini.

Baca Juga  Mutasi Virus N439K Sudah Masuk Indonesia, Tak Mempan Antibodi

“Yurice ayolah kita lakukan saja aku pasti tanggung jawab,” aku menyandarkan tubuhnya yang montok di tembok. Tanganku meluncur ringan ingin menyentuh dan meremas-remas kemaluannya yang tidak sampai berukuran lima ruas jari itu. Sampai ia bergairah. Kemudian kupeluk dia untuk yang kedua kali, sambil mengelus-elus rambutnya yang harum dan lurus. Taksedikitpun ada tangannya membalas pelukanku yang erat dibumbui sahwat. Aku berharap malam ini nafsuku dengan gadis itu bergerak serempak. Teman kami yang satu lagi berjingkrak-jingkrak, sambil bertepuk-tepuk kegirangan asik merayakan kemenangan. Aku tahu itu walaupun takbisa melihat kehadirannya. Dia telah berhasil menaklukkanku. Menggodaku melakukan zina lewat pelukan dan gerak ujung lidah menyentuh pipi dan menyerbu bibir, tanpa bersentuhan daging kemaluan. Setan keparat itu sedikit kecewa melihatku tidak melakukan zina besar-besaran. Bukan karena ia gagal menggodaku, tapi karena Yurice menolakku.  Tapi kalau setan keparat itu menyuruhku memperkosa seorang gadis. Sampai terbakar pantatnya pun aksinya tidak akan manjur. Dan kukatakan padanya dengan nada yang berapi-api.

Urungkan saja niatmu setan keparat, rayuanmu tidak akan pernah berhasil.  Apapun yang terjadi aku tidak mau terjerumus untuk memperkosa seorang perempuan. Menurutku itu lebih keji daripada melakukan hubungan intim di luar nikah yang sama-sama suka. Walaupun keduanya, yang memperkosa dan sama-sama suka perbuatan mereka terseret ke neraka. Aku pegang janjiku, dan aku bersumpah tidak akan pernah memperkosa seorang gadis sampai ada yang meniup sangkakala. Waktu itu bumi ini mulai runtuh. Gunung-gunug terbatuk-batuk, manusia seperti kapas beterbangan. Kecuali kalau gadis itu ikhlas merenggangkan kedua pahanya tanpa kain penutup siap dicicipi. Kalau suka sama suka lain ceritanya. Aku seorang lelaki bodoh yang mudah tergoda kepada keindahan dunia, pantang bagiku mundur setelah diberi kenikmatan yang menggunung meskipun mengundang malapetaka. Aku hanya bisa berbicara di atas mimbar disaksikan publik. Aku menyetir sebuah hadist yang tercantum dalam kitab Abi Jamroh, Hadis yang ke 41. Halaman 57. Salah satu orang yang akan dinaungi Tuhan diakhirat nanti. Seorang laki-laki yang diajak perempuan cantik berzina. Lelaki itu menolak dan berkata, Inniakhofullaha Robbal Alamin, sesungguhnya saya takut kepada Tuhan sekalian Alam.

Baca Juga  Konferensi Pers Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Oleh Polres Pangkal Pinang

Aku tidak termasuk lelaki pilihan seperti yang pernah aku ceritakan dalam ceramahku. Apa bedanya aku dengan pembicara lain. Mulus ketika berbicara seperti air deras menyampaikan hal-hal positif. Tapi sayang tidak bisa mengamalkan. Antara kata dan perbuatan tidak selaras. Orang sepertiku terlebih dulu disiksa daripada penyembah pohon sekalipun. Perbuatanku keterlaluan sekali. Semakin hari maksiatku terus menjadi-jadi. Aksiku gagal merayu gadis itu untuk berbuat mesum menjadi bukti kuat aku belum bertaubat. Aku telah gagal karena gadis itu tidak mau diajak bekerja sama. Aku sendiri yang menariknya ke dalam pelukanku, bukan dia. “Tunggu apalagi, lakukanlah. Ini kesempatan emas, tidak ada yang melihat,” setan keparat terus mendorong-dorong dan merogoh-rogoh hatiku yang busuk dengan bisikan yang masuk akal. Dia iming-imingi aku untuk terjun ke dalam perbuatan keji dengan dalih tidak ada yang melihat. Padahal setan itu lebih tahu Tuhan maha melihat. Aku tidak mengerti kenapa rencanaku tidak membuahkan hasil. Kenapa gadis itu menolakku mentah-mentah. Apa kerena dia itu lesbian suka sesama jenis. Dia telah melakukan kesalahan besar, sebesar dunia hina ini. Atau karena dia lagi ada masalah? Atau sebenarnya dia tidak  mencintaiku.

“Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku apapun nanti yang terjadi.” Kalimat seperti itu pernah meluncur dari bibirnya yang manis dan manja untukku. Apakah dia hanya bermaksud menghiburku. Pura-pura menumbuhkan hatiku yang tenggelam di bawah hatinya. Gadis keparat. Berani-beraninya kau menolak sahwatku yang bergejolak, dan sekarang kau memilih jalanmu sendiri untuk memutuskan aku. Apa alasanmu berbuat kejam seperti itu Yurice. Kenapa setelah ditelpon balik kau tak mau mengangkat? Dan SMS yang kulempar lebih dari sepuluh tak ada satupun dibalas sampai sekarang? Kucoba lagi mengirim pesan lewat WA.

Yurice aku mau bertemu denganmu. Walaupun pertemuan terakhir. Tolong beri kesempatan sekali ini saja.

 

Satu hari kemudian aku dapat balasan. Yurice sudah mati. Ia membunuh dirinya malam itu karena seorang lelaki. Siapakah lelaki itu? Apakah aku yang membunuhnya?

(RedG/Depri Ajopan, Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media. Novelnya barunya Pengakuan Seorang Novelis. Sekarang penulis aktif di Rumah kereatif Suku Seni Riau mengambil bagian sastra.)

 

Komentar

Tinggalkan Komentar