oleh

Yayasan Kanopi, Edukasi Masyarakat dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Kulonprogo – Pengelolaan lingkungan menjadi hal yang penting untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat. Hal ini sudah dilakukan oleh Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo yang merupakan bagian dari lanskap karst Menoreh.  Dikelola secara wanatani atau agroforestri secara swadaya oleh masyarakat melalui peraturan desa No. 8 tahun 2014 tentang pelestarian mata air dan keanekaragaman hayati untuk pemanfaatan secara berkelanjutan. Perdes ini merupakan salah satu langkah kalurahan untuk melakukan konservasi SDA dan keanekaragaman hayati di tingkat tapak.

Sebagai bagian dari upaya kegiatan penyadartahuan dan memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2022, Yayasan Kanopi Indonesia dan Perkumpulan BISA Indonesia sebagai CSO lingkungan berkolaborasi dengan KTH Wanapaksi menginisiasi kegiatan pelatihan pengembangan materi pemasaran dan pemantauan keanekaragaman hayati.

Hal ini diungkapkan oleh   Koordinator Program Yayasan Kanopi Indonesia Afrizal Nur Hidayat dikegiatan pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan Kalurahan Jatimulyo

“Kegiatan pelatihan pengembangan materi pemasaran INI, bertujuan untuk peningkatan kapasitas anggota KTH Wanapaksi dalam mempromosikan produk pertanian hutan yang berkelanjutan dan kegiatan konservasi yang telah dilakukan, seperti program adopsi burung dan penanaman pohon.” kata Afrizal, Senin (6/7).

Kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan Kalurahan Jatimulyo yang dilakukan di tiga padukuhan yaitu Karanggede, Gendu dan Sonyo selama dua hari sabtu dan minggu (4 dan 5 juni 2022) dimulai pada pukul 07.00 pagi sampai dengan pukul 10.30 yang diakhiri dengan diskusi. Kegiatan yang dilakukan melibatkan 29 orang yang terdiri dari perwakilan Kanopi-Bisa sebanyak 5 orang, 6 anggota KTH Wanapaksi dan 18 orang merupakan anggota karang taruna yang dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan pengamatan di masing-masing padukuhan yang menjadi target kegiatan dan dijumpai sebanyak 28 jenis. Jenis burung yang teramati diantaranya Burung-madu Jawa (Aethopyga mystacalis)  merupakan burung endemik Jawa Bali, serta burung Empuloh Janggut (Alophoixus bres) yang status secara global yaitu terancam punah (Endangered/EN).

Baca Juga  Rakerdin LP Ma'arif PWNU Jateng ke Delapan Terlaksana di Semarang

“Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan ini memiliki nilai konservasi yang penting” imbuh Afrizal Nur Hidayat setelah pengamatan.

Ketua KTH Wanapaksi, Sujarwo sangat mengapresiasi kegiatan pemantauan keanekaragaman burung yang dilakukan, apalagi selain kegiatan pengamatan juga dilakukan kegiatan diskusi yang memberikan pemahaman dan pengalaman bagi karang Taruna.

“Kegiatan ini akan dijadikan sebagai program yang akan dilakukan oleh bidang konservasi KTH Wanapaksi secara tetap dan disandingkan dengan kegiatan patroli pengamanan. Dengan adanya dukungan berbagai pihak ini, beliau mengharapkan bahwa apa yang dilakukan di Kalurahan Jatimulyo dapat direplikasi di desa maupun kelurahan sekitar dan bahkan ditingkat provinsi maupun secara nasional.” ujar Sudjarwo.

Secara umum Karang Taruna menyambut antusias kegiatan pengamatan burung ini dan berharap dapat bekerjasama dengan KTH Wanapaksi pada kegiatan pengamatan burung maupun kegiatan konservasi secara umum. Hal ini disampaikan oleh Prasetyo, ketua karang taruna padukuhan Sonyo yang mengharapkan KTH Wanapaksi berkenan mendampingi ketika ada kegiatan pengamatan kembali, hal ini karena pengamatan burung ini menarik untuk mengisi kegiatan karang taruna. Selain itu, Prasetyo juga meminta kesediaan KTH Wanapaksi, Kanopi Indonesia, dan BISA Indonesia untuk melakukan diskusi soal konservasi di pertemuan karang taruna.(RedG/Pantiati/Rudy A)

Komentar

Tinggalkan Komentar