Semarang- Kata siapa di masa pandemi korona tidak bisa mengadakan kegiatan ? Buktinya, Prodi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pascasarjana Universitas PGRI Semarang (Upgris) dapat mengehelat kegiatan secara daring yaitu Sering (Seminar Daring) dan Paring (Panggung Daring).

Hal ini, dua kegiatan tersebut dinilai sudah sukses dalam perhelatannya. Kali ini, Sering #2 dengan tajuk “Berkarya Ilmiah di Masa Pandemi”. Wakil Rektor 1 UPGRIS, Dr Sri Suciati M.Hum dan Ahmad Nurul Huda, Alumni S-2 PBSI UPGRIS menjadi pembicara di Seminar Daring.

“Jika pada kali pertama penyelenggaraan Sering telah menghadirkan pembicara untuk mengupas penulisan kratif karya sastra, kali ini kami fokus pada penulisan karya ilmiah. Selama dua jam berlangsung, antusias peserta begitu bagus. Pertanyaan-pertanyaan ditujukan kepada dua pembicara dalam hal proses penulisan karya ilmiah, dari mulai penggalian ide hingga karya ilmiah tersebut diterbitkan media,” ungkap Dr Harjito MHum, Ketua Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pascasarjana Universitas PGRI Semarang dalam wawancara melalui pesan singkat seusai acara, Rabu (10/06-20).

Menurut Harjito, kegiatan daring ini merupakan kali ketiga yang terselenggara, selepas beberapa waktu lalu diselenggarakan pula Sering (Seminar Daring) #1 dengan tajuk “Karya Bersemi di Masa Pandemi”, kemudian Paring (Panggung Daring) #1 “Kami untuk Indonesia”.

“Sungguh kami tak menduga jika antusias peserta begitu besar dalam mengikuti segala kegiatan daring kami. Meski tetap kami batasi dengan hanya seratus peserta saja dalam setiap penyelenggaraanya. Hanya satu dua hari saja pendaftar sudah penuh, bahkan sudah banyak yang memesan tiket untuk kegiatan daring selanjutnya. Termasuk yang dalam waktu dekat ini akan melanjutkan Paring (Panggung Daring) #2, yang rencananya akan ada penampilan penyair yang tinggal di Belgia.” Tutur Harjito.

Dalam penyampaian materi, pembicara pertama, Sri Suciati menyampaikan mengenai tahapan-tahapan dalam menulis. Pertama mengenai bagaimana pilihan media, berupa jurnal ilmiah atau media massa.

“Penting pula memperhatikan ragam tulisan, gaya selingkung media pilihan, serta etika tulisan. Kemudian mau menulis apa, pertama pilih masalah, di antaranya tentu masalah tidak terlalu luas, berangkat dari substansi yang menyebabkan orang bertanya-tanya, karya ilmiah selalu diawali dengan formulasi gap (kesenjangan), disparity (ketimpangan),” tutur Sri Suciati yang mengisahkan proses penulisan artikel ilmiah serta pengalamannya dalam menulis artikel populer di berbagai media massa.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana, Dr Ngasbun Egar MPd, mengapresiasi upaya yang dilakukan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

“Bahkan selanjutnya, prodi S-2 PBSI juga akan berencana membuka program menarik, yakni program klinik produktif untuk pendekar pendidikan (guru dan penggiat pendidikan) dalam berkarya ilmiah, akan kian produktif dalam kondisi apa pun, “tandasnya (RedG/Dicky Tifani Badi).

Tinggalkan Komentar