oleh

Wajah Nusantara, Wajah Ganjar Pranowo

Penulis : Ronggo Wijaya

Semarang – Selama tiga hari berturut-turut Ganjar Pranowo ikut nyadran. Makam-makam leluhur yang didatangi di antaranya para Walisongo. Perjalanan religius itu lalu diakhiri Ganjar dengan bersimpuh di makam orangtuanya.

Apa yang dilakukan Ganjar memang bukan sesuatu yang besar. Bahkan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jawa turun temurun, bahwa di bulan ruwah atau menjelang ramadhan, banyak orang berziarah ke makam leluhur untuk mendoakan mereka yang telah lebih dulu tiada.

Ziarah itu juga dilakukan Ganjar jauh dari atribut istimewa. Dirinya datang tanpa hak-hak khusus sebagai seorang pemimpin. Ia tetap duduk bergelesotan bersama jemaah lain, ikut jadi makmum sholat, dan makan bareng bersama warga.

Nyadran adalah tradisi yang lahir dari hasil perpaduan budaya Jawa dan Islam. Para orangtua terdahulu melakukan nyadran sebagai bentuk rasa hormat kepada leluhur, serta mensyukuri sumber kehidupan yang didapatkannya selama ini.

Dengan menyempatkan waktu untuk nyadran, Ganjar secara tak langsung telah menunjukkan ketegasannya, bahwa ia tak ingin tercerabut dari akarnya.

Kita tahu berbagai inovasi terus dilahirkan Ganjar dalam kepemimpinannya. Ia menjadi gambaran ideal tentang sosok pemimpin modern. Aktif bermedsos, melek digital, transformasi energi terbarukan juga dikembangkan, hingga menghadirkan panel listrik tenaga surya untuk pertanian, dan masih banyak gagasan lain telah diwujudkannya.

Namun, ia tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulunya. Sebab kebersamaan, sikap saling menghargai dan menghormati, terbungkus dalam aktivitas tersebut.

Sikap dan kesadaran akan tradisi inilah yang kemudian menjadi penting bagi seorang pemimpin di negara sebesar Indonesia. Kita tahu ada beragam suku di dalamnya dan semuanya hidup berdampingan. Dari Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Mereka tentu juga memiliki tradisi sendiri-sendiri yang terus dirawat, termasuk kebiasan-kebiasaan saat menjelang ramadhan.

Baca Juga  Lingkungan Terdekat, Faktor Rentan Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan

Masyarakat Bugis misalnya mengenal Suru Maca, tradisi untuk mensucikan jiwa menjelang bulan puasa. Pemilik rumah biasanya menyiapkan makanan khas Bugis Makasar, kemudian mereka mengundang Panrita untuk mendoakan.

Orang Batak di Sumatra Utara juga punya tradisi Marpangir. Yaitu mandi membersihkan badan dengan bahan-bahan alami. Mulai dari jeruk nipis, daun pandan, dan ampas kelapa yang dilengkapi dengan bunga mawar dan lain-lain. Biasanya mereka melakukan ritual itu di pemandian alam terbuka secara beramai-ramai untuk menyambut puasa.

Dan tentu saja masih banyak tradisi lainnya yang tumbuh di berbagai belahan tanah air menjelang bulan ramadhan.

Barangkali inilah yang kemudian disebut sebagai islam nusantara khas Indonesia, nilai-nilai keislaman berbaur dengan tradisi masyarakat yang ada. Semua berjalan dengan beriringan dan damai. Karena pada dasarnya tradisi ada memang bukan untuk mencerai beraikan, melainkan untuk mempererat satu sama lain.

Seniman WS Rendra pernah mengecam, sikap antitradisi adalah ketiadaan pengertian akan hidup bersama. Sikap semacam itu akan membawanya ke arah anarki yang akhirnya akan memisahkannya dari kebersamaan dengan orang lain.

Memang ada kelompok-kelompok yang ingin menolak tradisi nusantara. Sebut saja kelompok islam radikal, yang mengusung konsep khilafah. Mereka berpotensi mengganggu bahkan merusak kerukunan antar sesama karena merasa paling benar sendiri, dan gampang sekali melarang-larang.

Namun kekawatiran akan perpecahan semacam itu nyata-nyata hilang setelah melihat sosok pemimpin seperti Ganjar Pranowo, terus menjunjung tradisi nusantara. Ganjar adalah wajah Indonesia seutuhnya.(RedG)

Komentar

Tinggalkan Komentar