oleh

Tembang Macapat Jadi Alat Moderasi Beragama

Yogyakarta – Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tugas dan kewajiban setiap dosen. Dalam mewujudkan hal tersebut, dosen yang juga PJs Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Sumarjoko menggelar pelatihan macapat pada hari Senin (20/9/2021) pukul 19:00 WIB hingga selesai.

Pelaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) mengusung tema moderasi beragama melalui pelatihan dan peningkatan macapat pada objek dampingan Paguyuban Anggoro Kasih, Kembang, Kepanewonan Nanggulan, Kulon Progo.

Sumarjoko selaku pendamping sekaligus Rektor INISNU Temanggung dalam sambutan pembukaan acara tersebut mengatakan, tujuan dilaksankannya PkM adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kreativitas macapat.

Dalam acara tersebut dihadiri narasumber dari Keraton Ngayogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung Projosuasono yang akrap dikenal sebagai Romo Projo. Romo Projo melatih tembang dihadapan 30 peserta paguyuban Angoro Kasih dari kalangan Muslim dan Katholik.

Menurut Romo, macapat itu sebagai media belajar sejarah. Macapat juga sebagai sarana pembangunan masyarakat dalam menciptakan moderasi beragama. Sebenarnya, sebagian kecil peserta sudah layak dalam “nembang” namun belum layak untuk tampil secara publik.

Oleh karena itu, harapannya, setelah perlaksanaan ini, peserta dapat meningkatkan secara maksimal. Acara tersebut juga dihadiri oleh pemerhati kesenian dan budaya, Raden Mas Anton Sutopo dan beberapa tamu undangan dari pemuka Muslim dan Katholik.

Dalam kesempatan tersebut, R.M. Anton Sutopo memberikan kajian sejarah macapat.Menurutnya,macapat bukan berasal dari Keraton melainkan telah ada sebelum Islam di Jawa.

Dia juga menyayangkan kebanyakan generasi milineral tidak mengenal budaya macapat ini. Oleh karena itu, kegiatan malam ini diharapkan menjadi motivasi para generasi milenial. (RedG/R)

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed