oleh

Tak Hanya Dikenal Lumpia Saja, Semarang Juga Punya Toko Legendaris Layangan

Semarang– Layang-layang menjadi alat permainan yang tak lekang zaman. Peminatnya pun tak hanya kalangan anak-anak saja, melainkan kalangan muda dan tua ikut bermain.

Apalagi saat musim layang-layang, biasanya menjelang sore hari itu tampak semua kalangan ramai-ramai bermain layangan.

Bagi pecinta permainan layang-layang di Kota Semarang, pasti sudah tidak asing lagi dengan sebuah toko kecil yang beralamat di Jalan MT Haryono Nomor 530 Kota Semarang.

Toko itu merupakan toko penjual layang-layang yang legendaris di Kota Semarang, yang dikenal dengan nama Maganol.

Terkait itu, Toko Maganol sendiri menyediakan beberapa perkakas layang-layang, yakni dimulai dari benang, layangan dan kaleng-kaleng penggulung layangan.

Saat musim layangan tiba, toko ini nyaris tidak pernah sepi. Baik anak-anak, orang tua sampai remaja, berjubel untuk membeli layangan.

Mulyono selaku pemilik Toko Maganol itu mengatakan, saat kondisi pandemi saat ini, belakangan layangan musim kembali.
Menurutnya, apalagi permainan tradisional ini hampir punah karena tergerus kemajuan zaman.

“Kalau lagi musim ya begini ini. Nanti kalau sudah bosen, stok kami jadi sisa-sisa. Sekarang saja sampai habis,” kata Mulyono, Minggu (4/7/2021).

Mulyono mengaku, bahwa dirinya generasi kedua dan dirinya bukan orang yang merintis usaha tersebut. Melainkan, Toko Magonol dirintis oleh orang tuanya.

Ia menceritakan, awal berdiri Toko Maganol merupakan sebuah toko kelontong yang dibuat oleh orang tuanya
ketika profesi mereka sebagai guru harus mandek gara-gara peristiwa G30S/PKI.

Baginya, ungkap dia, toko kelontong itu menjadi penyambung hidup, apalagi dirinya sudah mengurus tokonya sejak usia remaja.

“Toko ini kan dulu jualannya mainan tradisional anak-anak. Misalnya seperti kelereng, karet, umbulan termasuk layangan,” terangnya.

Kemudian, ia membeberkan terkait arti nama dari Maganol. Berdasarkan Maganol itu berasal dari penyebutan angka ‘530’.

Baca Juga  Suami Pembakar Istri, Sudah Diringkus

Namun, lanjutnya, bahwa arti itu sendiri sebetulnya tidak ada pemaknaan khusus melainkan nama itu dipilih berdasarkan nomor rumah.

Menariknya, toko layangan legendaris di Kota Semarang tersebut sudah memiliki produk sendiri seperti benang hingga layangan. Sedangkan benang, Maganol punya merek Pinokio, Hiu, Lumba-Lumba sampai Singa.

“Meskipun produk sendiri, produksinya bukan di toko melainkan di Bandung. Toko ini juga yang datang tidak hanya pengguna layangan saja, namun toko-toko yang lainnya untuk kulakan, ya disini kami juga jadi tempat grosir, ” ujarnya.

Dikatakannya, sejak musim ke musim atau tahun ke tahun tersebut Toko Maganol menjadi tempat favorit untuk membeli layangan. Seakan-akan orang-orang yang datang, menurut Mulyono, tempat ini terpercaya dan tiada yang mengalahkan.

Hal itu Mulyono mengamini anggapan tersebut dan mempunyai alasan logis kenapa Maganol selalu jadi langganan.

Menurutnya, bikin orang puasa adalah kualitas dikarenakan memang dalam membuat produk dia berkomitmen untuk mengedepankan kualitas.

“Orang tua saya mengajari seperti itu (utamakan kualitas). Sekarang kamu mau dicari orang atau orang yang mencarimu? Kalau mau dicari ya tunjukkan kualitas,” pesannya.

Sementara itu, prinsip yang selalu dia tanamkan kepada semua pegawainya, yaitu dimulai dari toko atau yang produksi benang dan layangan. Karena itu, pekerjaan harus dikerjakan secara cermat dan penuh kehati-hatian.

Dalam kesempatannya, kemudian dia memberikan rekomendasi produk yang terbaik di Magonol. Produk tersebut yakni benang merek Pinakio dan Hiu.

Dijelaskannya, merek Pinokio produk benang merupakan peninggalan orang tuanya dan merek Hiu itu sendiri adalah produk bikinannya.

Ia juga mengungkapkan benang di Toko Magono beragam dan tergantung pada ukuran gulungannya. Dimulai dari harga Rp 500 rupiah hingga Rp 150 ribu.

Baca Juga  Dua Spesialis Perampok Pecah Kaca Mobil diamankan Tim Gabungan Resmob Polda Jambi

“Pinokio itu paling mahal. Tapi yang paling banyak dicari Hiu. Kalau layangan Rp 1.500,” pungkasnya.(RedG/*)

 

Komentar

Tinggalkan Komentar