oleh

Tabrakan Mobil vs Motor di Jalan Pandanaran, Salah Satu Korban Luka Parah

Semarang – Seorang warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang, pada Selasa seminggu lalu, menjadi korban kecelakaan tabrakan motor vs mobil,  di Jalan Pandanaran simpang Jalan Pekunden, Kota Semarang.

Korban tersebut bernama Hokie Budiyanto, umur 32 tahun, ia kini hanya bisa duduk di kursi roda. Dia mengalami luka parah di bagian kaki kiri hingga jarinya putus akibat kecelakaan tersebut.

Tidak hanya itu saja, bagian tubuh lainnya juga mengalami luka-luka mulai dari kepala, punggung dan pantat. “Saya juga kehilangan pekerjaan akibat kecelakaan itu,” ujar Hokie kepada Gnews.id, Senin (26/4/2021). Hokie mengaku, sebelumnya sebagai sales oli

Hokie juga masih sangat ingat dengan kejadian nahas yang menimpanya dengan adiknya Bella Bunga Wahono (23).

Saat itu, pada sore hari dia sedang memboncengkan adiknya menggunakan sepeda motor Honda Revo. Mereka pulang kerja dari kawasan Industri Candi Kota Semarang.

Setiap hari, mereka sudah biasa pulang melintasi Jalan Pandanaran simpang Jalan Pekunden, Kota Semarang. Nahas, sore itu setiba di lokasi kejadian, mereka diterjang mobil Ayla bernomor polisi H9497QE yang saat itu dikemudikan Lili Koeswati.

Akibat kejadian itu, dia dan adiknya terpental. Badan Hokie terlempar ke atas kap mobil dan terseret sepanjang kurang lebih 15 meter. Hingga menyebabkan Hokie tak sadarkan diri.

“Saya memang tak sadarkan diri setelah ditabrak mobil itu. Tetapi saya masih teringat betul sebelum saya ditabrak sempat melihat pengemudi seorang perempuan,” paparnya.

Perempuan itu, ungkap dia, sebelum menabrak pengemudi mobil tampak sedang menunduk dan tangan kirinya berada di bawah tak memegang stir kemudi.

Selain itu, mobil yang melaju dari arah Tugu Muda menuju Simpang Lima seharusnya berhenti lantaran traffic light menyala merah. Soalnya, kendaraan lainnya yang searah dengan pengemudi mobil tersebut juga berhenti sesuai nyala lampu traffic light.

Rekaman CCTV Pukul 17.22, mobil Ayla menerobos lampu merah dengan cepat menyeruduk dua pengendara motor yang melintas (Foto: Satlantas Polrestabes Semarang)

Namun, mobil Ayla itu menyerobot dengan melaju kencang yang langsung menghantam motornya yang melaju dari arah selatan ke utara.

Berdasarkan laju mobil yang kencang itu, diperkirakan pengemudi mengendarai mobil dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam.

“Mobil itu melaju kencang tanpa mengerem sedikit pun. Di tempat kejadian tidak ada garis bekas rem mobil. Selain itu tak ada suara klakson yang terdengar,” terangnya.

Dia mengatakan, selepas kecelakaan tersadar sudah dirawat di RSUP Kariadi Semarang dengan sejumlah luka. Luka yang dialami oleh korban, diantaranya luka robek pada betis kaki kiri, tulang kaki kiri patah, jari telunjuk kaki kiri putus, kepala robek, punggung belakang luka-luka. Kaki kirinya juga dipasang pen lantaran luka parah.

Baca Juga  Tunggulah Tunggu, Silent Band Unjuk Diri

Akibat luka itu dia mengalami 14 jahitan di kepala, kaki 8 jahitan, dan belasan luka jahitan lainnya.

Selain itu, jari kaki yang putus juga sempat ditemukan oleh petugas Dishub. Lalu, dia dirawat di rumah sakit selama enam hari. Hingga kini belum dapat beraktivitas kembali seperti sediakala.

“Kata dokter butuh proses penyembuhan berbulan-bulan. Untuk lepas pen nanti butuh waktu satu tahun itu pun kalau lancar,” katanya.

Atas kejadian itu, kehidupan korban mengalami perubahan yang drastis. Selain tak bisa beraktivitas, dia juga tak mampu menghidupi keluarga kecilnya. Apalagi istrinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Sedangkan dia masih memiliki anak semata wayang berusia 18 bulan.

Oleh sebab itu, kondisi ekonomi kian tak stabil karena harus kontrol rutin ke rumah sakit. Kondisi ekonomi yang tidak stabil, ungkap dia, agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga dirinya sempat terpikirkan untuk jualan es.

“Sebab saya sakit tak ada pemasukan. Pekerjaan juga hilang karena harus PHK,” jelasnya.

Dengan kasus kecelakaan itu, Hokie berharap agar penabrak ditangani oleh kepolisian dengan baik.

Pasalnya dia butuh keadilan dari kejadian ini, mengingat si penabrak selama ini tak kooperatif kepadanya sebagai korban sehingga memilih untuk membawa kasus ini ke pihak kepolisian.

Selama dirawat di rumah sakit hingga pulang ke rumah itu penabrak tak pernah menjenguknya.

“Harapannya pihak Satlantas Polrestabes Semarang dapat menyelesaikan kasus ini tanpa pandang bulu dengan seadil-adilnya,” bebernya.

Rekaman CCTV Pukul.17.22.55, tampak benturan tabrakan pun terjadi terhadap dua motor (Foto: Satlantas Polrestabes Semarang)

Sementara itu, paman korban, Mikhel menjelaskan, sebelumnya keluarga korban telah membuka ruang mediasi kasus kecelakaan tersebut. Pasalnya dari awal pelaku memohon menempuh kasus itu secara kekeluargaan. Lalu, pelaku menyanggupi untuk menanggung biaya pengobatan korban.
Pihak polisi juga mempersilahkan kedua belah pihak untuk saling mediasi.

“Hanya saja sampai lima kali mediasi tersangka tak menepati janjinya. Dia sempat bawa pengacara,
Dalam perjalannya tiga pengacara tersangka juga mundur karena sikap kliennya yang mangkir ,” kata Mikhel.

Mikhel pun berharap, pihak kepolisian bisa menengakan hukum dalam kasus ini. Menurutnya, kejadian tersebut juga sempat menjadi perbincangan publik di media sosial. Lantaran, banyak saksi yang melihat mobil tersebut bersalah.

Beberapa netizen mengomentari kejadian tersebut, dan ada beberapa yang melihat langsung di tempat.

Baca Juga  Terancam Hukuman Lima Tahun Penjara, Edarkan Ribuan Pil Psikotropika

Pihak keluarga juga sempat geram lantaran korban harus menanggung rasa sakit bahkan anggota tubuhnya tak seperti sediakala dan tak utuh lagi. “Tersangka masih bisa bekerja, masih bisa tertawa-tertawa sedangkan di sini korban kesakitan tidak ada penghasilan sedangkan dia tidak memikirkan posisi korbannya,” katanya.

Dia menyebut, kejadian itu sudah gamblang siapa yang salah. Tersangka dengan sengaja mengendarai mobil dari jarak 200 meter dengan kecepatan tinggi di atas 60 kilometer perjam.

Mobil tetap melaju meski lampu merah menyala di traffict light. “Pelaku tidak mau menghentikan mobilnya kalau tidak menabrak para korban,” kata Mikhel.

Menurut dia, kencangnya mobil terbukti dengan kondisi di lokasi kejadian. Di antaranya airbag mobil mengembang yang menjadi bukti ada benturan keras.

Kerusakan mobil juga parah akibat menabrak para korban berupa bodi depan sisi kanan rusak parah.

“Tersangka mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan tak seperti pengemudi normal lainnya. Lampu merah saja diterjang. Semua sudah jelas. Kami mau tersangka di penjara. Bukan tahanan kota,” katanya.

Mikel berharap untuk pihak terkait dari mulai kepolisian hingga pengadilan, memberikan hukuman yang setimpal dan harus menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa memihak salah satu pihak tertentu demi rasa kemanusiaan yang ada.

Sementara itu Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Sigit mengaku, kasus tersebut memang sebelumnya dilakukan mediasi namun proses hukumnya dilanjutkan lantaran tak ada titik temu dari kedua belah pihak.

“Perkembangan dalam proses penyidikan nanti kami sampaikan,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebuah mobil Ayla bernomor polisi H 9479 QE menabrak motor Honda Beat bernomor polisi H 2493 BNG dan Honda Revo pelat H 2591 CQ, Selasa (16/4/2021) sekira pukul 17.21.

Diketahui, pengemudi Ayla dikemudikan oleh Lili Koeswati, Beat dikendarai Roy Haryanto dan Revo dikendarai oleh Hokie Budiyanto.

Kejadian yang bermula disaat Ayla melaju dari arah barat atau Tugu Muda menuju ke timur atau Simpang Lima. Setiba di Jalan Pandanaran simpang Jalan Pekunden dari arah barat lampu traffic light menyala merah. Hal itu juga, mobil dan motor di lajur kanan dan kiri berhenti.

Selain itu, berdasarkan rekaman CCTV tampak sebuah mobil Ayla menerobos kampus tersebut meski kendaraan lain tengah melintas. Dua pemotor yang tengah melintas searah dari selatan utara, tak pelak menjadi sasaran Ayla. (RedG/Dicky Tifani Badi)

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed