oleh

Susur Pondok Kajen bersama Mahasiswa Undip dan Komunitas Sumohadiwijayan

Oleh: Mohammad Nur Faiz

Pati – Panas terik matahari tak memadamkan semangat puluhan siswa-siswi Sekolah Menengan Atas / sederajat kabupaten Pati berkumpul di balai desa Kajen Margoyoso. Mereka mendengarkan cerita sejarah dari komunitas Sumohadiwijayan. Puluhan siswa-siswi se-kabupaten Pati tergabung dalam Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) duduk berjejer rapi diatas kursi. Kegiatan ini difasilitasi oleh mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang yang tergabung dalam tim Pengabdian Masyarakat yang diketuai oleh Mohammad Nur Faiz (jurusan Sejarah), beranggotakan Ilham (jurusan Fisika), Novita (jurusan Fisika), Kencana (jurusan Biologi). Susur Pondok Kajen ini merupakan implementasi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro.

Sumohadiwijayan sendiri merupakan komunitas asli Kajen yang menguri-uri sejarah dan sadar akan pentingnya benda pusaka serta kebudayaan Kajen. Bermodalkan dengan pengetahuan akan sejarah benda pusaka dan tempat-tempat peninggalan leluhurnya, komunitas Sumohadiwijayan memberikan pengetahuan akan sejarah KH. Ahmad Mutamakkin, makam Kanjengan, bangunan masjid kuno Kajen dan keliling di pondok pesantren tertua yang ada.

“Santri BPUN” ini berangkat dari desa Kadilangu yang berjarak 10 kilometer menuju Kajen menggunakan kendaraan bak terbuka. Kegiatan yang berlangsung awal Mei ini memberikan kesan bagus bagi mereka. Mereka khusyuk mendengarkan sejarah yang selama ini belum mereka ketahui tentang Kajen. Terbukti dengan banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh santri BPUN setelah komunitas Sumohadiwijayan menjelaskan sejarah suatu tempat yang dikunjungi.

Kunjungan pertama, berziarah ke makam kanjengan yang letaknya berada di sebelah barat balai desa. Konon, menurut cerita dari leluhur Kajen, bahwa makam Kanjengan merupakan makam dari Bupati pertama Juwana zaman penjajahan. Setelah itu bergeser ke makam KH. Ahmad Mutamakkin. KH. Ahmad Mutamakkin merupakan penyebar agama Islam pertama di tanah Kajen.

Setelah selesai berziarah, Komunitas Sumohadiwijayan bersama mahasiswa Undip mengajak siswa-siswi ke sebuah masjid kuno yang merupakan masjid bersejarah di Kajen, yaitu Masjid Jami’ Kajen. Masjid tersebut merupakan masjid pertama di Kajen yang sampai sekarang sudah mengalami perluasan dan renovasi dengan gaya khas perpaduan kuno-modern. Gaya khas kunonya terdapat dalam pusat bagian dalam masjid dan gaya modernnya untuk teras dan halaman parkir masjid. Monumen keran melayang sebagai ciri khas kota Pati terdapat juga di halaman depan masjid Kajen.

Baca Juga  Mengenal Kurma Yang Populer Di Indonesia

“Di dalam masjid Kajen ini banyak peninggalan mbah Mutamakkin yang sampai sekarang masih terawat dan masih digunakan, salah satu yang ikonik adalah mimbar untuk khotbah Jumat. Di mimbar tersebut terdapat lambang naga, gajah, dan kuntul (bangau) nucuk bulan.” Ungkap Zuli Rizal (ketua Komunitas Sumohadiwijayan).

Ketiga lambang tersebut memiliki makna dan arti tersendiri yang merupakan cerminan dari masyarakat Kajen untuk selalu berbuat dan bekerja secara baik dan memiliki mimpi yang setinggi-tingginya. Konon siapa saja yang berdoa dan sholat didekat mimbar tersebut akan cepat dikabulkan keinginannya oleh Allah. Selain mimbar khutbah, ada juga benda peninggalan mbah Mutamakkin yang sampai sekarang masih diabadikan yaitu tulisan kaligrafi berbentuk lingkaran yang berada dilangit-langit atap masjid.

“Masyarakat Kajen masih yakin bahwa siapa saja yang berdoa dan bertawasul kepada mbah Mutamakkin didekat mimbar tersebut, doanya akan cepat terkabul,” Terang Zuli Rizal.

Setelah seharian keliling tempat-tempat bersejarah di Kajen, Santri BPUN diajak berkeliling disalah satu pondok tertua di Kajen, yang disebut juga dengan pondok Tengahan. Di Kajen sendiri ada banyak pondok pesantren, beberapa ada yang dibagi menurut wilayahnya yaitu, Pondok Kulon Banon (bangunan makam), Pondok Tengahan, dan Pondok Wetan Banon. Pondok Wetan Banon ini sekarang namanya Pesantren Salafiyah, didirikan pada tanggal 12 Mei 1902 oleh KH. Siroj, beliau ini masih merupakan keturunan dari Syekh Ahmad Mutamakkin. Menurut sumber yang ada, pondok wetan banon (Salafiyah) ini sekarang memiliki lebih dari 50.000 alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Waktu itu belum bisa menyambangi Pondok Wetan Banon karena kebetulan disana lagi ada acara perpisahan, jadi belum bisa dikunjungi pihak luar.

“Kak, kenapa kita transitnya di pondok tengahan?,” Tanya Vyan, salah satu peserta Susur Pondok.

Baca Juga  Menikmati Taman Rancah Bukit Mendelem

“Iya dek, karena pondok tengahan ini letaknya paling dekat dengan masjid jami. Kan tadi kita habis sholat dari sana, jadi kita langsung menuju pondok tengahan,” Jawab Junna, salah seorang pendamping susur pondok.

“Kak Pondok Tengahan ini memiliki nama sendiri seperti Pondok Wetan Banon tidak? Kenapa terkenalnya dengan nama Pondok Tengahan?,” Vyan kembali bertanya.

“Pondok Tengahan ini memiliki nama Pesantren Raudlatul Ulum (PRU), kenapa disebut dengan istilah Pondok Tengahan? Karena letak geografis dari pondok PRU ini tepat berada ditengah-tengah antara Pondok Wetan Banon dan Pondok Kulon Banon dan berdekatan dengan makam Mbah Mutamakkin,” Junna menjelaskan sambil memegang sebuah pengeras suara di tangan kirinya.

Pondok Tengahan ini didirikan oleh KH. Ahmad Fayumi Munji (almarhum) dan sekarang diasuh oleh anak beliau yang bernama Mohammad Ismail Fayumi, atau terkenalnya Gus Mail. Sementara Pondok Kulon Banon sendiri bersebelahan dengan Madrasah Mathali’ul Falah. Pondok ini letaknya sebelah barat makam Kanjengan (makam-makam para ningrat), dan juga sebelah barat Sarean (makam mbah Mutamakkin). Pondok Kulon Banon ini didirikan sekitar tahun 1900 M oleh KH. Nawawi, putra KH. Abdullah. Merupakan keturunan dari KH. Ahmad Mutamakkin juga. Kebanyakan dari santri yang mondok di Pondok Kulon Banon bersekolah di Mathali’ul Falah. Selain dekat, madrasah ini juga merupakan yayasan yang memilki sekolah tinggi sendiri dengan nama Institut Perguruan Mathaliul Falah (IPMAFA). Perlu dicatat bahwa madrasah ini masih asli menerapkan sistem salafnya dalam kurikulum madrasah.

Perjalanan Susur Pondok ini memiliki keunggulan bahwa peziarah yang datang ke Kajen mungkin hanya tahu makam Mbah Mutamakkin. Kami ingin memberikan edukasi berbasis religi dan pengenalan kepada pengunjung/peziarah bahwa di Kajen mempunyai cerita sejarah yang menarik. Selain itu, ada beberapa pondok pesantren yang bisa dijadikan pembelajaran baru khususnya untuk para peziarah dari luar daerah. (RedG)

 

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed