oleh

Strategi Menghindari Jurnal Scopus Discontinued

Penulis – Hamidulloh Ibda

Temanggung – Ada teman yang sering bertanya, “Mas, bagaimana strategi menghindari jurnal discontinued? Tentu jawabannya beragam. Akhirnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya tulis di sini. Sebelumnya, kita perlu tahu bahwa jurnal internasional terindeks Scopus menjadi penting bagi akademisi dan penelitin. Jurnal ilmiah merupakan salah satu alat penting bagi para peneliti dalam menyebarkan hasil penelitian dan kontribusi ilmiah mereka kepada komunitas akademis.

Jurnal discontinued pada intinya jurnal yang sudah “diceraikan” oleh Scopus. Jurnal ini dihentikan operasinya atau menghentikan penerbitannya secara permanen atau sementara dari database Scopus. Penyebab dari discontinuation ini bisa bermacam-macam, termasuk masalah keuangan, perubahan kebijakan penerbit, kesulitan dalam mencari editor atau peninjau yang berkualitas, atau perubahan strategis oleh penerbit, sehingga ia dihentikan oleh Scopus.

Ketika sebuah jurnal discontinued, dampaknya bisa dirasakan oleh peneliti yang telah mempublikasikan karya-karya mereka di jurnal tersebut, maupun oleh peneliti yang berencana untuk mempublikasikan di masa depan. Peneliti yang telah mempublikasikan karya di jurnal discontinued mungkin mengalami kesulitan dalam mengakses kembali karya mereka atau merujuknya dalam penelitian lanjutan. Selain itu, jika sebuah jurnal discontinues sebelum penelitian selesai dipublikasikan, peneliti harus mencari jurnal alternatif untuk mempublikasikan karya mereka, yang bisa menambah waktu dan usaha.

Bagi kalangan akademisi atau peneliti, discontinuation jurnal juga bisa berdampak negatif. Jika jurnal yang terkenal dengan reputasi baik menghentikan operasinya, ini dapat mengurangi sumber referensi yang diandalkan bagi peneliti dan mengganggu aliran komunikasi ilmiah. Meskipun discontinuation jurnal merupakan situasi yang tidak diinginkan, peneliti dapat mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari masalah ini, seperti memilih jurnal yang terpercaya dan berkelanjutan, memperhatikan indikator kesehatan jurnal, diversifikasi penerbitan, dan memperhatikan kebijakan pengarsipan. Selain itu, tetap terhubung dengan jurnal-jurnal yang dipilih dan berkolaborasi dengan sesama peneliti juga dapat membantu dalam menghindari risiko jurnal discontinued.

Jurnal Scopus Discontinued

Istilah ini merujuk kepada jurnal ilmiah yang sebelumnya terindeks dalam basis data Scopus namun kemudian dihapus atau dihentikan dari indeksasi. Ada beberapa alasan mengapa jurnal tersebut bisa dihentikan dari Scopus. Pertama, standar kualitas. Di sini, Scopus memiliki standar ketat untuk mempertahankan kualitas jurnal yang terdaftar dalam basis datanya. Jika sebuah jurnal tidak lagi memenuhi standar tersebut, misalnya, karena kurangnya kualitas editorial, praktik peer review yang buruk, atau masalah etika, maka jurnal tersebut dapat dihapus dari indeksasi.

Kedua, kebangkrutan atau masalah finansial. Jurnal yang mengalami masalah finansial atau kebangkrutan mungkin tidak lagi dapat mempertahankan operasionalnya dengan standar yang diperlukan oleh Scopus, sehingga dapat dihapus dari indeksasi. Ketiga, pelanggaran kebijakan. Jika sebuah jurnal melanggar kebijakan Scopus, seperti melakukan praktik plagiat atau manipulasi indeksasi, maka jurnal tersebut dapat dihentikan dari indeksasi. Keempat, perubahan fokus atau judul. Terkadang, sebuah jurnal dapat mengalami perubahan dalam fokus atau judulnya yang mungkin tidak lagi sesuai dengan cakupan topik yang diinginkan oleh Scopus. Dalam kasus seperti itu, jurnal tersebut mungkin dihapus atau diminta untuk mengajukan permohonan ulang untuk masuk ke dalam basis data.

Baca Juga  Perguruan Tinggi di Era Digital, Peluang dan Tantangan Bagi Mahasiswa

Ketika sebuah jurnal dihentikan dari Scopus, hal ini bisa mempengaruhi reputasi dan kredibilitas jurnal tersebut di mata komunitas ilmiah. Biasanya, jurnal yang dihentikan dari Scopus akan mencari cara untuk memperbaiki masalah yang menyebabkan penghapusan tersebut agar dapat kembali terindeks atau mencari alternatif lain untuk mendapatkan pengakuan ilmiah.

Strategi Menghindari

Realitasnya, tidak jarang kita mendengar tentang jurnal ilmiah yang menghentikan operasinya atau discontinued. Discontinuation ini bisa menjadi masalah besar bagi peneliti yang telah mempublikasikan karya mereka di jurnal tersebut, serta bagi yang berencana untuk mempublikasikan di masa depan. Untuk menghindari kejadian ini, berikut adalah beberapa strategi yang dapat diimplementasikan.

Pertama, untuk mengetahui update jurnal Scopus yang sudah dihentikan, bisa lansung mengunjungi Scopus.com dan memilih rubrik di sisi kiri bawah tengah “Scopus discontinued sources list” yang diupdate terus-menerus tiap waktu, atau bisa mengunjungi langsung di laman ini https://www.elsevier.com/products/scopus/content#4-titles-on-scopus.

Kedua, pilih jurnal yang terpercaya dan berkelanjutan. Saat memilih jurnal untuk mempublikasikan karya ilmiah, pastikan untuk memilih jurnal yang terpercaya dan memiliki reputasi yang baik dalam komunitas akademis. Tinjau keberlangsungan jurnal tersebut dengan melihat sejarah publikasi, reputasi editor dan penulis, serta kebijakan penerbitan.

Ketiga, diversifikasi penerbitan. Jangan terpaku pada satu jurnal saja. Diversifikasi penerbitan Anda dengan mempublikasikan karya Anda di beberapa jurnal yang berbeda. Hal ini tidak hanya meningkatkan visibilitas Anda dalam komunitas ilmiah tetapi juga mengurangi risiko jika salah satu jurnal discontinues. Keempat, perhatikan indikator kesehatan jurnal. Sebelum memutuskan untuk mempublikasikan karya Anda di sebuah jurnal, perhatikan indikator kesehatan jurnal seperti faktor dampak (impact factor), frekuensi penerbitan, dan kebijakan arsip jurnal. Jurnal-jurnal dengan faktor dampak yang stabil dan konsisten serta frekuensi penerbitan yang teratur cenderung memiliki tingkat keberlangsungan yang lebih tinggi.

Kelima, kita bisa mengajukan pertanyaan sebelumnya. Sebelum memutuskan untuk mempublikasikan karya Anda di suatu jurnal, ajukan pertanyaan kepada editor atau staf editorial tentang keberlangsungan jurnal tersebut. Pertanyaan tentang rencana jangka panjang jurnal dan dukungan penerbit dapat memberikan wawasan yang berharga. Tentu kita bisa berkirim surat melalui email di jurnal tersebut untuk meyakinkan keberlanjutan nasib naskah yang akan kita submit di sana.

Baca Juga  Rencana Tindakan Aksi Nyata Modul Coaching

Keenam, perhatikan kebijakan pengarsipan. Pastikan jurnal yang Anda pilih memiliki kebijakan yang jelas dalam hal pengarsipan dan akses ke konten yang telah dipublikasikan. Jurnal yang memungkinkan pengarsipan mandiri di repositori institusi atau arsip daring cenderung lebih aman dari risiko discontinuation.

Ketujuh, rajin memantau komunikasi dari jurnal. Kita harus tetap terhubung dengan jurnal-jurnal yang Anda pilih dengan cara berlangganan newsletter atau mengikuti akun media sosial mereka. Informasi terkini tentang perubahan kebijakan atau perubahan lain dalam operasi jurnal dapat membantu Anda mengambil tindakan pencegahan jika diperlukan.

Menghindari jurnal discontinued merupakan langkah penting bagi peneliti dalam memastikan bahwa karya mereka tetap dapat diakses dan memiliki dampak dalam komunitas ilmiah. Dengan memperhatikan strategi-strategi di atas, peneliti dapat mengurangi risiko dan menjaga keberlangsungan publikasi ilmiah mereka. Selain itu, kolaborasi dan diskusi dengan sesama peneliti juga dapat memberikan wawasan tambahan tentang jurnal-jurnal yang layak dipertimbangkan. (RedG/*)

 

*–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah international reviewer pada sejumlah jurnal, yaitu Pegem Egitim ve Ogretim Dergisi – Scopus Q4 (2023-present), Cogent Education – Taylor & Francis – Scopus Q2 (2023-present), Journal of Ethnic and Cultural Studies – Scopus Q1 (2023-present), Journal of Learning for Development (JL4D) Scopus Q3 (2023-present), International Journal of Information and Education Technology (IJIET) Scopus Q3 (2023-present), Millah: Journal of Religious Studies – Scopus (2023-present), International Journal of Learning, Teaching and Educational Research (IJLTER) – Scopus Q3 (2023-present), International Review of Research in Open and Distance Learning (IRRODL) – Scopus Q1 (2023-present), Journal of Education and Learning (EduLearn) – Scopus Q4 (2023-present), International Journal of Cognitive Research in Science, Engineering and Education (IJCRSEE) – Scopus Q3 (2023-present), International Journal of Serious Games (IJSG), Italy, terindeks Scopus Q3 (2023-present), Cogent Arts & Humanities – Taylor & Francis – Scopus Q2 (2023-present), FWU Journal of Social Sciences ( Shaheed Benazir Bhutto Women University Peshawar) Pakistan, Scopus Q1 (2024-present), International Journal Ihya’ ‘Ulum al-Din (2023-present), IJSL: International Journal of Social Learning (2023-present), Editorial Board Members in Global Synthesis in Education (GSE) (2023-present), reviewer Qeios Journal (2023-present), International Journal of Special Education (IJSE) (SPED Ltd, Kanada), Scopus Q3 (2024-present), Asian Journal of Education and Social Studies (India) (2024-present), Journal of Global Research in Education and Social Science (India) (2024-present), African Educational Research Journal (Nigeria) (2024-present), dan 25 jurnal nasional dan jurnal nasional terindeks Sinta.

Komentar

Tinggalkan Komentar