oleh

Sosialisasi SAM Sebagai Rintisan Pasar Penjualan Karya Seni di Kota Solo

Surakarta – Berawal dari belum adanya wahana atau media yang representatif bagi seniman lukis, crafter, kreator, dan pelaku kreatif lainnya untuk memajang dan memasarkan produk karya seni dan fungsional, khususnya di kota Solo Raya, diadakan sosialisasi Solo Art Market (SAM) sebagai rintisan pasar penjualan karya seni di Kota Solo.Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100an pelaku kreatif dari Solo Raya ini diselenggarakan di Cinema Room, Omah Sinten, Ngarsopuro pada Kamis, 6 Pebruari 2020.

Basnendar Herryprilosadoso dari Divisi Penelitian dan Pengembangan SAM, Sabtu (8/2) mengatakan keberadaan SAM berawal dari kecintaan dan kepedulian terhadap budaya dan seni, serta untuk menghidupi para kreator yang bekerja di bidang seni, mengangkat eksistensi dan kontribusi seniman dan pelaku industri kreatif se-Solo Raya.

“Konsep SAM akan disajikan secara unik dan menarik dengan melibatkan pelaku kreatif yang melakukan workshop dan demo berupa aksi langsung di lokasi sehingga pengunjung maupun pembeli dapat melihat para seniman dalam proses kreatif membuat karya, sekaligus menjadi daya tarik sebagai destinasi wisata baru di kota Solo ini,” ungkapnya.

Basnendar menambahkan SAM akan jadi pusat pasar seni di Solo Raya yang akan digelar rutin seminggu sekali di lokasi sekitar Omah Sinten, Ngarsopuro ini diharapkan nanti layaknya Place du Tertre di Paris Perancis.

“Tim manajemen pasar seni ini akan melakukan kurasi terhadap karya milik peserta, juga ada tema dan narasi yang akan dibangun sehingga akan didapat peserta dengan karya yang berkualitas dan para peserta juga harus melakukan workshop, demo, lukis bersama, body painting, lukis wajah, sketsa bersama, dan aktifitas lainnya,” bebernya.

Dijelaskannya, konsep SAM sebagai ruang kreatif berupa pasar seni yang unik dan apik dibuat untuk menunjukkan eksistensi industri kreatif sehingga dapat menarik wisatawan dan menjadi destinasi wisata di Solo, melalui produk yang dijual bersifat mass product berupa karya buatan tangan dengan jumlah produk terbatas dan memorabilia seperti souvenir yang mudah dibawa. Karya yang dijual digarap dengan kemasan yang serius, unik, sebagai produk kenangan ini sementara akan dibatasi kuota sementara 50 peserta dan siap untuk dikurasi, karya yang dikurasi adalah karya sendiri dan bukan kulakan (reseller).

Baca Juga  Sambangi Dapur Umum Joyotakan, Warga Harap Gibran Selalu Berpihak Pada Rakyat

Sosialisasi tersebut dengan dipandu oleh Yayok Aryoseno (penggiat seni) menghadirkan beberapa narasumber sebagai penggagas SAM yaitu Heru Mataya (Mataya Art and Heritage) memaparkan konsep SAM dibuat secara gotong-royong dan diorganisasikan secara baik serta akan ada evaluasi rutin untuk menjaga dan meningkatkan kualitas keberlanjutan acara.

Selanjutnya Agussis, mewakili seniman juga memaparkan seputar berkarya seni yang unik, menarik serta menjual, kemudian Basnendar Herry Prilosadoso yang juga Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Surakarta dan co-founder Komunikotavisual memberikan materi seputar mengemas karya agar bernilai lebih dan bersifat memoribilia, serta presentasi terakhir oleh Dyah Yunik Dosen FSRD Universitas Sebelas Maret, Surakarta mengenai regulasi dan aturan dari Solo Art Market.

Diharapkan dari kegiatan sosialisasi tersebut semangat kemandirian dan gotong royong para peserta yang terdiri dari pelukis, sketcher, pematung, crafter, kreator, serta pelaku industri kreatif Solo Raya untuk ikut serta di Solo Art Market yang rencana akan dimulai 1 Maret mendatang yang direncanakan berlokasi di kawasan Omah Sinten sebagai galeri besar serta jalur pedestrian juga yang ada dikawasan Ngarsopuro, Solo.( red )

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed