oleh

Serabi Likuran Desa Penggarit, Kearifan Lokal Yang Dipertahankan

Pemalang – “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.” Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, orang Jawa mempunyai tradisi likuran.

Tradisi likuran ini, unik sebagai salah satu hubungan komunikasi dan sosial di masyarakat. Di likuran ini ada tradisi saling berbagi, saling memberi antar keluarga.

Tradisi likuran dalam kunjungan dan berbagi serabi yang diberi kuah kincau ini juga ada di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Akan tetapi tradisi ini di jaman sekarang sudah mulai luntur.

Kepala Desa Penggarit Imam Wibowo beserta para tokoh masyarakat, terutama tokoh kebudayaannya untuk mencoba kearifan lokal likuran ini dengan membuat acara “Serabi Likuran”.

Menurut Imam, ide dasar membuat pasar “Serabi likuran” berawal dari keprihatinan sebagian tokoh masyarakat dimana sebetulnya setiap tahun dari zaman dulu kala itu disaat bulan Ramadan di 10 hari terakhir ini warga masyarakat Penggarit selalu ada kegiatan yang dinamakan serabi likuran. Sebagian besar warga masyarakat Penggarit membuat serabi sendiri kemudian diberi kuah kincau, yang terbuat dari gula arèn dan diberi santan kelapa muda yang diparut dan direbus. Serabi-serabi ini diberikan atau diantar ke tetangga tetangga, demikian pula para tetangga lain yang membuat serabi.

“Berawal dari keprihatinan sebagian tokoh masyarakat dan saya sendiri selaku kepala desa di mana sebetulnya setiap tahun dari zaman dulu kala itu di saat bulan Ramadhan di 10 hari terakhir warga masyarakat penggarit selalu ada kegiatan yang dinamakan serabi likuran. Warga bagian besar ini membuat serabi sendiri kemudian diberi kuah kincau kemudian diberikan atau diantar kepada tetangga dan saudara ini menjadi salah satu media komunikasi dan silaturahmi antar warga namun belakangan ini sudah mulai meluntur sehingga jarang sekali masyarakat yang masih melestarikan kebiasaan tersebut sehingga kami dari para peduli kebudayaan yang ada di desa dan teman- teman perangkat desa ini mengadakan kegiatan ini “jelas Imam, Sabtu (8/5).

Kegiatan yang gelar di salah satu ruas jalan desa Penggarit, Jl. R. Sudibyo sepanjang 750 m mengikuti sekitar 30 orang pembuat serabi yang berjualan di Serabi Likuran.

“Pedagang-pedagang ini memang dulunya adalah para pengrajin pembuat serabi jadi usianya yang sudah sepuh (tua) ternyata masih punya keahlian membuat serabi dan diharapkan nanti bisa memberikan edukasi kepada generasi penerus” jelas Imam.

Menurut Ketua pelaksana sekaligus ketua pokdarwis Desa Penggarit Hartoyo, dalam transaksi di Serabi likuran ini juga unik. Masyarakat yang ingin bertransaksi membeli serabi menggunakan “Uang Klithik” berupa Koin kayu. Koin ini dapat diperoleh di panitia dari seribu rupiah. Warga dapat membeli data dari pedagang menggunakan uang Klithik tersebut.

Hartoyo menjelaskan dengan uang klithik seribu rupiah akan mendapat setangkep (dua) serabi yang biasanya diberikan dua sampai tiga ribu rupiah.

Uang Klithik yang digunakan dalam transaksi Serabi Likuran Desa Penggarit Pemalang

Panitia memberi subsidi kepada pembeli karena setelah acara selesai para pedagang menukar uang klithik ke panitia dengan harga serabi dipasaran pada umumnya.

“Tanggapan masyarakat terhadap serabi likuran sangat bagus, ini terlihat dari habisnya semua barang dagangan” jelas Hartoyo.

Dalam masa pandemi ini, kegiatan ini menerapkan protokol kesehatan .. Penjual pembeli pembeli menggunakan masker, dan ada Satgas desa yang berkeliling untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.

Desa Penggarit akan tetap mengembangkan kebudayaan lokal yang dahulu ada di desa tersebut guna diwariskan ke generasi yang akan datang.

Desa penggarit menjadi percontohan Desa Pemajuan Kebudayaan yang ditunjuk oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Budaya lokal yang pernah ada di desa Penggarit memang kita upayakan untuk kita lestarikan kata Imam Wibowo.

Desa Penggarit pernah mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam pekan kebudayaan Nasional serta menjadi desa pemajuan kebudayaan. Melalui Desa Pemajuan Kebudayaan diharapkan mampu melestarikan dan nguri – uri kebudayaan lokal yang ada di Desa tersebut. (RedG / SWE)

 

Baca Juga  Ganjar : "Modal Saya Adalah Mau Bekerja dan Mau Melayani Masyarakat

Tonton Video

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed