oleh

Sastra Balai Pustaka Menuju Sastra Angkatan 60

Penulis :  Rachel Camila 

Jakarta – Zaman sekarang, banyak karya sastra yang mudah kita nikmati kapanpun dan dimanapun. Secara tidak sadar kita akan terbawa suasana yang dibuat oleh penulis karya tersebut. Semuanya sangat menyenangkan, perasaan dalam membaca karya akan selalu menyenangkan.

Sastra yang sekarang kita nikmati tentunya tidak sama dengan sastra era sebelumnya. Sastra mengalami perubahan dan perkembangannya setiap waktu. Sastra sudah melalui banyak sejarah, sastra mengalami proses hingga bisa sampai di masa sekarang. Kita sebagai penikmat sastra, sudah seyogyanya selalu menghargai perihal sejarah sastra. Sastra di Indonesia mengalami banyak perubahan, perubahan tersebut dikelompokkan menjadi beberapa periode angkatan. Dalam sejarah sastra akan ada perbedaan di tiap angkatan yang membedakan sastra angkatan satu dengan lainnya.

Setiap periode sastra memiliki karakteristiknya masing-masing. Dalam artikel ini, penulis akan membahas tentang karakteristik yang berupa ciri-ciri sastra tiap-tiap angkatan.

Periode sastra angkatan balai pustaka

Periode sastra angkatan ini berdiri pada tahun 1917. Bentuk karya sastra yang dihasilkan pada periode balai pustaka ini sebagian besar adalah roman. Selain itu, ada juga jenis sastra berbentuk puisi yang berupa syair dan pantun. Dan tentu saja isi dari pantun dan puisinya pastilah mengandung unsur roman, yang bertujuan untuk memberi nasihat kepada para pembacanya.

Ciri-ciri angkatan balai pustaka, yaitu: Gaya bahasa yang digunakan merupakan perumpamaan klise, pepatah, dan peribahasa. Sebagian besar karya-karya angkatan ini memiliki alur yang lurus. Dalam teknik penokohan dan perwatakannya menggunakan analisis langsung. Karyanya tidak menentang pemerintah. Tidak memihak salah satu agama yang ada

 

Periode sastra angkatan pujangga lama

Periode pujangga baru merupakan  periode sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Periode Pujangga Baru muncul setelah periode Balai Pustaka. Pada angkatan ini karya sastra yang banyak dihasilkan adalah syair, pantun, gurindam, dan hikayat.

Baca Juga  Jokowi Gagal Usung Nama Ganjar Pranowo Dianggap Paradok Disaat Berkuasa

Ciri-ciri karya sastra Pujangga Baru yang membedakan dengan periode lainnya yaitu: Bersifat statis; Pengarang bersifat anonim; Bahasa yang digunakan biasanya bahasa hikayat sastra lama; Gaya bahasa klise, memakai bahasa sehari-hari

 

Periode sastra angkatan sastra melayu lama

Sastra melayu lama didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Melayu lama memiliki hubungan dengan agama Islam yang kuat, khususnya di daerah Sumatera dan semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu terutama karya-karya keagamaan. Ciri-ciri angkatan ini yaitu Pengarang karya sastra biasanya bersifat anonim; Terikat dengan Aturan yang Baku, Khususnya Berbentuk Puisi; Disampaikan secara lisan, mulut ke mulut; Memiliki banyak versi, dikarenakan penyampaiannya secara lisan; Periode sastra angkatan pujangga baru

Angkatan Pujangga Baru diterbitkan pada bulan Mei 1933, oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Memiliki tujuan yaitu untuk menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai semangat zamannya dan mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah karena sebelumnya banyak sastrawan yang menulis di berbagai majalah. Ciri-ciri angkatan ini yaitu: Bertema persatuan, nasionalisme, dan rasa kebangsaan; Terdapat beberapa karya yang berpengaruh dari karya sastra tahun 1980an dari Belanda; Berani mengangkat persoalan emansipasi wanita; Alirannya disebut romantis idealis; Dalam karyanya, sastrawan menyiratkan tentang idealisme

 

Periode sastra angkatan 1945

Angkatan ini lahir pada saat masa kemerdekaan Indonesia, Jiwa nasionalisme telah mendarah daging. Oleh karena itu, suaranya lantang dan keras. Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Manifestasi Angkatan ’45 lebih mementingkan wujud pernyataan pikiran, kepribadian seseorang, nilai-nilai baru, kebebasan penuh, dan kebudayaan yang bersifat universal. Ciri angkatan ini yaitu: Bertemakan humanisme, sahala, penderitaan rakyat, moral, keganasan perang dengan keroncongnya perut lapar; Mengutamakan ekspresi yang jernih; Bersifat masing-masing, individualis; Bersifat kemanusiaan; Membentuk suatu gebrakan baru yang sesuai dengan kemerdekaan; Bahasa yang digunakan singkat, padat, namun tetap harus jelas.

Baca Juga  Yogyakarta Daerah Pertama Memiliki Perda Tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan

 

Periode sastra angkatan 1950-1960an

Adanya sastra angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah Asuhan H.B. Jassin. Memiliki ciri-ciri sebagai berikut Semakin bertambah dan meluas jumlah pusat kegiatan sastra, hamper di seluruh Indonesia, tidak hanya berpusat pada ibukota saja. Mulai menuju pada perwujudan sastra nasional Indonesia. Karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi; Memiliki ragam corak. (RedG)

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Komentar