oleh

Ruang Tamu Pekan Kebudayaan Nasional di UIN Syarif Hidayatullah: Naskah Puisi dalam Pertunjukkan Drama

Jakarta – Pekan Kebudayaan Nasional merupakan salah satu acara dwitahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Tema PKN Nasional tahun ini adalah ‘Merawat Bumi, Merawat Kebudayaan’. Ruang tamu PKN terdapat pada 40 titik tempat berbeda, salah satunya di UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Jakarta dengan Kemendikbudristek. Tema yang diusung dalam Ruang Tamu PKN di UIN Jakarta adalah “Resonansi Budaya Islam: Dari Ciputat untuk Dunia”. Terdapat banyak rangkaian acara yang diselenggaarakan mulai dari Semakan Puisi, Workshop Stand Up Comedy, Diskusi Resonasi Budaya Islam dalam Sastra dan Seni Rupa, Workshop Penulisan dan Pembacaan Puisi, dan Tribute: Budayawan Muslim Ciputat”.

Salah satu penampilan yang begitu menyita perhatian penonton dalam acara “Semakan Puisi” adalah pertunjukan drama musikal kelas 3C mahasiswa jurusan PBSI yang merupakan alih wahana dari sebuah naskah puisi. Tidak hanya tampil pada acara “Semakan Puisi”, ternyata penampilan ini lolos kurasi, sehingga menjadi salah satu penampilan pada acara puncak ”Tribute: Budayawan Muslim Ciputat” Ruang Tamu Pekan Kebudayaan Nasional di Aula Student Center, UIN Jakarta.

Penampilan tersebut disajikan kedua kalinya pada hari Sabtu, 28 Oktober 2023. Mahasiswa yang tampil pada drama tersebut yakni Ahmad Dailami, Ratri, Akhdan, Siti Nurhaliza, dan Iqbal Husni. Mereka mengadopsi naskah puisi berjudul “Aku, Kamu dan Iblis” karya Vanessa yang diperoleh pada media Medium dan dapat diakses melalui tautan berikut https://medium.com/@dellaayu291/aku-kamu-dan-iblis-kumpulan-puisi-a51b825733f.

Berikut ini isi puisi tersebut:

 

Aku, Kamu dan Iblis.

Mereka bilang,

Hanya ada tujuh dosa mematikan, Tetapi mereka lupa

Bahwa ada perihal aku dan kamu. Asmodeus,

Sang penggenggam nafsu yang sempat mengadu kita berdua

menuntun kita ke arah surga dunia ternikmat. Lalu bertemu Mammon,

Sang pembawa jiwa serakah membuat kita ingin saling memiliki satu sama lain hingga akhir.

Sang iblis Baal membantu, tebarkan rasa rakus di antara kita

Bukan, bukan rakus dengan satu sama lain Melainkan rakus terhadap rasa yang lain. Hingga Belphegor,

menuai sebuah rasa kemalasan Kamu dan aku,

Hampir tak lagi bertegur sapa. Tak lupa Leviathan menumbuhkan benih iri hati, cemburu

yang melahap habis tubuh kita. Perlahan semua tumbuh besar hingga menjelma menjadi sebuah kemarahan, Lalu datanglah Sang Maha Lucifer, Sehingga kini,

kesombongan menghiasi kita. Lucifer pun tersenyum puas,

berhasil membuat dua insan tak berdosa menjadi pendosa paling unggul yang sudah pasti beradu maut.

Mari kita bahas secara ringkas isi puisi tersebut. Naskah puisi yang ditampilkan Dailami dan kawan-kawan, berjudul “Aku, Kamu dan Iblis” karya Vanessa. Puisi ini tentu menjadi salah satu puisi yang menarik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, yaitu “Iblis”. Jika ditinjau dari judul, maka kita dapat berpikir sekilas bahwa puisi ini bercerita tentang manusia dan Iblis. Tetapi yang perlu menjadi pertanyaan adalah, sebenarnya bercerita tentang apakah puisi ini? Dan apa tema minor serta mayor dalam puisi ini?

Baca Juga  Kenang WR. Soepratman, Heningkan Cipta Sejenak

Secara singkat, puisi ini bercerita tentang godaan dari para iblis terhadap dua orang sahabat atau teman yang saling membanggakan diri satu sama lain. Yang menyebabkan muncul sikap rakus, rasa iri hati, dan kesombongan. Sehingga manusia-manusia tersebut menjadi manusia yang berdosa. Tema mayor puisi ini adalah tentang religuisitas atau keimanan yang sedang diuji dengan adanya sosok Iblis. Sedangkan, tema minor pada puisi ini bercerita tentang macam-macam iblis yang menggoda manusia agar menjadi sosok yang berdosa. Sehingga manusia tersebut akan merasa sombong, iri hati, dan tidak suka satu sama lain.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang naskah puisi menjadi drama tersebut, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu alih wahana. Damono (2005:09) menjelaskan bahwa alih wahana adalah proses pengalihan dari suatu jenis ‘kendaraan’ ke jenis ‘kendaraan’ lain. Lebih lanjut, dijelaskan Ardiansyah dkk (2020: 334) sebagai ‘kendaraan’, yakni suatu karya seni merupakan alat yang bisa mengalihkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Berdasarkan pandangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa alih wahana merupakan perubahan suatu bentuk kesenian menjadi kesenian lainnya. Ada banyak sekali contoh dari alih wahana, khususnya dalam sastra. Misalnya, alih wahana dari novel ke film, alihwahana cerpen menjadi dramatisasi. Alih wahana yang tidak kalah menarik adalah naskah puisi menjadi sebuah pertunjukan drama. Alih wahana ini sangat menarik untuk ditonton, karena memadukan antara pembacaan puisi dan drama singkat. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa alih wahana ini menjadi salah satu penampilan pada acara Ruang Tamu Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

Tentunya, drama singkat tersebut menggambarkan isi dari puisi. Pada awal penampilan, mahasiswa yang bernama Dailami membacakan setengah isi puisi. Lalu datanglah sosok Iblis yang diperankan oleh Akhdan. Sosok Iblis tersebut bermain peran dalam menggoda dua orang manusia yaitu Iqbal dan Siti Nurhalizah. Tokoh Iqbal pada drama ini memerankan sosok yang sombong akan harta kekayaannya, diperlihatkan pula adegan ketika sosok Iblis menggoda Iqbal. Selanjutnya, sosok Siti Nurhalizah memerankan orang yang sombong akan prestasi dan kepintaran yang dia miliki. Hal ini dapat diketahui berdasarkan akting dan dialog dari Siti Nurhalizah.

Baca Juga  Rakernas LPP PP Muhammadiyah, Revitalisasi Pesantren Muhammadiyah

Naskah puisi kembali dibacakan oleh Dailami. Setelahnya, sosok Iblis yang diperankan oleh Akhdan muncul kembali dan menggoda mereka. Pikiran dan sifat jahat mulai merasuki mereka berdua, yaitu sifat iri dan dengki. Tokoh yang diperankan Iqbal merasa iri terhadap kepintaran dan prestasi-prestasi dari sosok yang diperankan oleh Siti Nurhalizah. Sebaliknya, sosok Nurhalizah merasa iri terhadap kekayaan yang dimiliki oleh Iqbal dan mengeluh bahwa dia hanya anak seorang petani. Pada akhir penampilan, muncullah Ratri yang menyanyikan lagu “PadaMu Kubersujud” karya Afgan.

Mereka melakukan adegan tambahan pada pertunjukan drama tersebut, yang tidak terdapat dalam naskah puisi. Mereka menambahkan adegan ketika sosok yang diperankan oleh Iqbal dan Siti Nurhalizah sadar akan dosa mereka, yaitu sombong dan iri hati. Akhirnya, ditampilkanlah adegan ketika kedua sosok ini memohon ampun akan dosa-dosa mereka kepada Tuhan. Satu hal yang begitu berkesan adalah ketika mereka memadukan antara pertunjukan drama dengan pembacaan puisi, lalu diakhiri dengan nyanyian.

Menurut saya, alih wahana naskah puisi menjadi pertunjukan drama singkat ini begitu menarik. Perihal bagaimana naskah puisi diubah menjadi pertunjukkan drama dengan segala ide kreatifnya. Pesan yang terkandung dalam naskah puisi tersebut pun, dapat tersampaikan melalui visualisasi pertunjukan drama. Lalu, mereka juga melakukan improvisasi tanpa mengubah maksud yang terkandung dalam naskah puisi, yaitu dengan adegan berdoa seraya memohon ampun kepada Tuhan atas sikap sombong dan iri hati mereka.

Selain itu, dengan adanya alih wahana ini, dapat menambah wawasan kita sebagai penonton, bahwa ternyata naskah puisi dapat dikemas secara menarik menjadi sebuah pertunjukan drama. Selain itu, nilai-nilai puisi khususnya nilai religius yang ingin disampaikan kepada para penonton, terasa lebih mudah diserap dan diperoleh. Hal tersebut karena pertunjukkan drama ini cenderung mengadopsi peristiwa-peristiwa nyata, yang sesuai dan relevan dengan kehidupan penonton. Misalnya pada adegan yang menunjukkan perasaan sombong, tentu sebagai penonton gambaran sikap sombong dapat terealisasi lebih jelas melalui penampilan drama.

Berdasarkan pemaparan di atas, telah dikemukakan bahwa telah terjadi alih wahana sastra yaitu naskah puisi berjudul “Aku, Kamu dan Iblis” dialihwahanakan menjadi sebuah pertunjukan drama. Drama tersebut mampu menggambarkan isi dan maksud dari naskah puisi.

Pesan yang terkandung dalam naskah puisi pun dapat terealisasi lebih jelas melalui pertunjukan drama. Tentu, penampilan alih wana ini sangat menarik dan telah disajikan penuh penghayatan dalam acara Ruang Tamu Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Acara PKN merupakan ajang sangat bermanfaat dalam menambah wawasan maupun pengetahuan kita mengenai sastra dan budaya Indonesia. (RedG /Rania MN)

Komentar

Tinggalkan Komentar