oleh

Reaktor Kubah, Ubah Kotoran Jadi Biogas

Kulon Progo- Salah satu kelompok tani ternak di Desa Banjaroyo adalah “Kelompok Ngudi Kamulyan”. Kelompok ini berada di wilayah RT 09 RW V. Kelompok tani ternak ini telah didirikan sejak tahun 2000, sekarang kelompok ini diketuai oleh Bambang Nilokoco. Sedangkan kelompok tani ternak lainnya adalah kelomok tani ternak “Maju Makmur” RT 05 RW VII. Kelompok tani ini juga dimpimpin oleh Bambang Nilokoco. Kedua UKM ini memiliki jumlah komoditas hewan ternak sapi yang hampir sama, Di kelompok Ngudi Kamulyan terdapat 75 ekor sapi, sedangkan pada kelompok tani Maju Makmur memiliki sapi sebanyak 60 ekor.

Berdasarkan hasil beberapa analisis mengenai usaha ternak oleh petani rakyat secara ekonomis belum menguntungkan. Hal ini dikarenakan petani belum memperhitungkan kebutuhan pakan, curahan tenaga serta perhatian ke ternak sangat sedikit dan belum memanfaatkan secara masimal limbah kotoran sapi yang tiap hari ada. Limbah feses yang dihasilkan sapi hanya dibuang saja ke sungai, tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu. Mengingat jumlah sapi yang terdapat pada mitra cukup banyak dan limbah kotoran sapi yang dihasilkan sangat tinggi ( 1 ekor sapi rata rata dapat menghasilkan feses sekitar 7-10 kg per hari) jika langsung dibuang ke badan air, jelas sekali akan menurunkan daya dukung lingkungan terutama apabila badan air dipakai oleh masyarakat desa Banjarjoyo dan Desa Banjarsari,Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta terutama untuk mencuci, mandi ataupun kegiatan lainnya akan sangat membahayakan bagi kondisi kesehatan masyarakat tersebut.

Pengoptimalan peran ternak terhadap pendapatan dengan menggunakan kotoran ternak sebagai bahan biogas merupakan pilihan yang tepat. Dengan teknologi sederhana ini, kotoran ternak yang tadinya hanya mencemari lingkungan dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan yang sangat bermanfaat. Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara).

Baca Juga  Peduli Pendidikan Berkelanjutan, Fatayat NU Temanggung Beri Beasiswa Mahasiswa STAINU
Tipe reaktor kubah tetap (fixed dome) berkapasitas 125 m³ dan 75 m³

Maka dari itu, tim pengabdian Universitas Diponegoro yang terdiri dari Fahmi Arifan, Murni, dan F.S Nugraheni telah menerapkan biogas tipe reaktor kubah tetap (fixed dome) berkapasitas 125 m³ dan 75 m³
Menerapkan teknologi baru kepada masyarakat desa dilihat dari aspek sosio kultural merupakan suatu tantangan tersendiri akibat rendahnya latar belakang pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Oleh karena itu tim pengabdian Universitas Diponegoro juga akan melakukan sosialisasi dan pelatihan secara terus menerus. Apabila secara ekonomi tidak menguntungkan masyarakat maka aplikasi teknologi tersebut akan gagal.

Aplikasi biogas menjadikan kotoran ternak sangat berharga, oleh karena itu para petani akan rajin merawat ternaknya sehingga kondisi kandang menjadi bersih dan kesehatan ternak menjadi lebih baik. Secara tidak langsung akhirnya akan membawa keuntungan dengan penjualan ternaknya yang sehat, lebih cepat besar dan harga jualnya menjadi lebih tinggi.(RerG)

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed