Pemalang – Menuju proses adaptasi kehidupan baru atau di kenal dengan new normal, para penggiat seni, pelaku seni, pekerja seni maupun pendukung berkesinian, penyedia sounds sistem, layos, panggung, tenaga bongkar pasang dan lain sebagainya meminta ketegasan pemerintah Kabupaten Pemalang untuk dapat mengelar ataupun berkesenian sebagaimana mestinya.

Ratusan pekerja seni dan pendukung kesenian yang didominasi crew sounds sistem ini mengadakan aksi unjuk rasa dengan mengelar pernyataan sikap dan teaterikal di depan kantor DPRD dan pemerintah Kabupaten Pemalang, Kamis (11/6) mulai pukul 12.30 wib.

“Mohon dipahami bersama bahwa kami tak mungkin terus menerus dibatasi aktivitas sosial dan ekonominya dengan bersembunyi di rumah. Harapan “New normal” agar negara tetap mampu menjalankan fungsi-fungsinya sesuai konstitusi. Saat ini Aktivitas ekonomi kami terus berhenti total maka tidak punya alternatif buat mengisi pemasukan, akibatnya kami juga tidak bisa mengurus keluarga seperti biasa dengan segala kebutuhannya.” kata Andi Rustono, Ketua Dewan Kesenian Daerah Pemalang

Ada beberapa hal yang ia sampaikan kepemerintah agar memberi peluang dan ruang aktifitas berkesenian dalam rmuang luas maupun terbatas. Agar pihak keamanan dan pemkab Pemalang memberi ijin kegiatan dalam ruang lingkup aktivitas budaya, adat istiadat dan berkesenian. Meminta kepada pemerintah Pemalang agar kesenian ini dapat digunakan sebagai alat komunikasi berkesenian yang aktif dan terarah.

Bupati Pemalang Junaedi didampingi ketua DPRD Kabupaten Pemalang Agus Sukoco menemui para penunjuk.

Bupati mengakomodasi tuntutan para pendemo dengan mengeluarkan keputusan bupati mengenai adaptasi kehidupkan baru. Bupati meyakinkan para pengunjuk rasa bahwa pertunjukan boleh dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan.

Pada pengunjuk rasa mengelar teaterikal dengan judul “Bupati Mantu”. (RedG).

Tinggalkan Komentar