oleh

Perjalanan Biksu Ke Borobudur, Apa Yang Mereka Cari?

Penulis : Nur Iman (Warga Masyarakat Pemalang) 

Pemalang – Entah berapa juta langkah kaki para biksu dari titik keberangkatan di Thailand menuju Borobudur. Tak terlupakan dibenak mereka, mungkin seumur hidupnya berjuta kenangan menyusuri setapak demi setapak perjalanan spiritual.

Kenangan manis dan pahit dikecap, berjumpa dengan bermacam karakter orang, menemukan kultur yang berbeda-beda dan melebur dengan itu. Merasakan sensasi penyambutan yang tak mungkin sama di setiap tempat.

Apa yang mereka cari ??

Pujian dari umatnya kah? atau belas kasihan dari saudara seagamanya? Atau mereka haus akan penghormatan dan penyambutan dari sesama manusia ?

Atau mungkin sekedar healing mencari pengalaman? Melancong ke negeri orang mencari jeda dari rutinitasnya sebagai biksu? Bukan ! Jelas bukan itu.

Mereka tengah melakoni thudong, melansir dari berbagai sumber Thudong adalah ritual pengembaraan. Berjalan kaki sejauh mungkin, bisa ribuan kilometer dari tempat asal. Thudong merupakan bentuk loyalitas para banthe atau biksu mematuhi perintah sang Buddha karena bagian tak terpisahkan dari 13 praktik pertapaan.

Thudong menurut bahasa Pali, bahasa kuno Sri Lanka sejak abad pertama sebelum Masehi, Thudong berasal dari kata dhutanga yang berarti “latihan keras”.

Maka thudong bagaikan kawah candradimuka-nya para Banthe untuk menyatu dengan dunia luar atau bersua dengan masyarakat umum. Namun melansir dari berbagai sumber pula, pelaku thudong adalah banthe yang telah disumpah menjadi biksu pengembara atau disebut biksu Aranyaka.

Latihan keras atau thudong tersebut untuk menempa para biksu menjadi istimewa. Ibarat besi yang dipukul-pukul berulangkali, di bakar dengan bara api lalu endingnya menjadi pedang atau keris.

Berkelana menyusuri tempat yang beragam budaya dan etnik, karakteristik masyarakat yang berbeda-beda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya, Itulah maksud dan tujuan thudong. Menggembleng para banthe tentang sejauhmana tingkat pertahanan diri mereka menyikapi hiruk-pikuk dunia luar.

Baca Juga  Peranan Majalah Kisah dalam Perkembangan Sastra Indonesia 

Penulis lansir dari berbagai sumber, ritus Thudong 32 biksu tersebut berangkat dari sebuah vihara di Propinsi Nakhon Sri Thammarat, Thailand. Para banthe itu berjalan kaki menuju Borobudur. Menyusuri Thailand, melewati Malaysia kemudian Singapura.

Dari Singapura para banthe menyeberang ke Indonesia yaitu pulau Batam via kapal laut. Lalu dari Batam mereka terbang ke bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Dari titik inilah kemudian 32 biksu berjalan kaki menyusuri pulau Jawa hingga finis di candi Borobudur, Magelang.

Dan kemarin rombongan para banthe sampai di kota kesayangan kita Pemalang. Di kota ikhlas sambutan Pemerintah daerah, ormas Islam dan masyarakat luas demikian antusias mirip apa yang terjadi di kabupaten atau kota lainnya. Warga mengabadikan momen tersebut dengan selfi atau sekedar memotret rombongan para banthe.

Sehingga lapak-lapak media sosial masyarakat Pemalang hari kemarin sampai dengan hari ini berisi jurnalisme warga (dalam tanda kutip) menyajikan peristiwa ritual thudong 32 biksu yang sebagian besar berasal dari Thailand itu. Cuma masing-masing dua biksu yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Melihat dan meresapi respon masyarakat Indonesia terhadap perjalanan spiritual 32 biksu dari Thailand menuju candi kebanggaan kita Borobudur, inilah bukti negeri Pancasila. Sambutan kita (masyarakat Indonesia) begitu hangat dan penuh persaudaraan.

Tak sedikit pun terbersit dihati kita ketidaksukaan apalagi kebencian kepada mereka meski berbeda agama dengan kita. Inilah “hati Pancasila” merespon perbedaan agama serta keragaman-keragaman lainnya dengan biasa saja ! Karena akar dari bangsa Indonesia adalah masyarakat yang heterogen.

Bukan begitu dulur??

(RedG)

Komentar

Tinggalkan Komentar