oleh

Pembelajaran Online Membuat Guru Bekerja 24 Jam

Semarang– Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang akan diwacanakan pada tahun ajaran baru di bulan Juli 2021 mendatang. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang memastikan akan diadakan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah maupun kampus.

Dengan adanya itu, Guru Sekolah Negeri Kalibanteng Kulon 01, Ringga Dwi Anggraeni mengaku pembelajaran online tidak efektif karena peserta didik yang jenuh dengan kegiatan belajar secara daring menyebabkan siswa menjadi malas belajar.

“Alhamdulillah belajar tatap muka akan dilaksanakan asalkan mematuhi protokol kesehatan, menurutku lebih oke. Saya merasakan semenjak proses pembelajaran online itu praktiknya banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas dari guru, entah siswanya jenuh atau bagaimana, ” kata Ringga Dwi Anggraeni kepada g-news.id, Senin (8-3-2021).

Menurut Ringga, proses pembelajaran online peserta didik banyak yang mendapatkan nilai bagus. Ia menganggap siswanya mengerjakan tugasnya ada bantuan dari orang lain bukan hasil dari siswa itu sendiri.

“Pemahaman materi enggak tau tergantung dari siswanya. Aku tahunya dari proses pembelajaran online, perspektifku mesti dapat bantuan dari orangtuanya. Paham ora pahame mesti diewangi wongtuone (paham tidak pahamnya mesti dibantu orangtua), ” paparnya.

Ringga melanjutkan guru dalam pembelajaran online itu harus siap selama 24 jam seperti membuat perangkat pembelajaran dan mengingatkan siswa dalam mengerjakan tugas, ia mengaku pembelajaran online harus merelakan waktunya berbeda dengan pembelajaran tatap muka siswa tidak paham langsung ditanyakan kepada gurunya.

“Siswa yang rajin ya sekitar 14 sampai 15 siswa dari 17 siswa itu juga banyak yang diingatkan tugas. Pembelajaran online itu cape, kita (guru) kerja 24 jam memantau siswanya. Sedangkan, ada orangtua yang kerjanya pulangnya sampai malam, ya gimana lagi harus menunggu sampai malam, begitu. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, di sekolah ketemu siswa dan ketika siswa tidak paham langsung ditanyakan waktu jam pembelajaran. Waktu malam hari kita (guru) dapat istirahat walaupun tetap mempersiapkan untuk besoknya, “katanya.

Baca Juga  Kiai Ubaid: Pendidikan Bukan Industrialisasi

Selain itu, pembelajaran online itu membutuhkan guru bekerja 24 jam, tambah Ringga, guru juga harus mempersiapkan perangkat pembelajaran melalui video itu membuat kesulitan dan membutuhkan waktu sedangkan belum mempersiapkan soal untuk siswa itu sendiri.

“Media pembelajaran itu kesulitan. Aku sendiri dan enggak mungkin seumpamanya mengasih pembelajaran dengan kerjakan tugas terus, semisal tatap muka kan guru dapat memberikan materi secara langsung dan selama pandemi memberikan materi melalui video. Semenjak semester satu rajin memberikan materi melalui video sedangkan waktu semester dua ya jarang sekali membuat video, karena pengambilan video itu cape yang bikin lama itu editnya yang membutuhkan waktu. Setelah edit juga guru harus mempersiapkan soalnya, “ungkapnya.

Ringga juga pernah mengalami tatap muka tetapi dengan menggunkan sistem kloter dan mematuhi protokol kesehatan.

“Aku sempat uji coba tatap muka. Saat itu, atas permintaan orangtua karena saat itu orangtua kesulitan mengajari matematika. Ya ibaratnya orangtua kan sudah lupa walaupun sudah ada media canggih mesti tidak bisa menyempatkan waktunya untuk anak. Akhirnya, orangtua meminta guru untuk tatap muka hanya pembelajaran matematika saja. Dari situ, saya membuat kloter. Satu minggu itu diadakan tiga kloter. Setiap kloter ada lima sampai enam anak. Waktu itu, saya juga mengatur kursi untuk anak-anaknya agar jaga jarak dan dibikin satu-satu,” ujarnya.

Dia juga mengatakan pembelajaran tatap muka itu harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat dan guru juga harus tegas dalam proses tatap muka seperti siswa tidak pakai masker disarankan untuk mengambil masker terlebih dahulu.

“Kalo pakai masker itu wajib, ada anak yang lupa saya suruh pulang ke rumah mengambil masker lalu wajib cuci tangan sebelum dan setelah pembelajaran, ” pungkasnya.

Baca Juga  Wujudkan Kendal Smart City, Pemkab Kendal Gandeng Tanoto Foundation

Ringga mengharapkan saling mendukung , support, saling tidak menakut-nakuti dan saling menjaga.

“Semisalnya tatap muka ada begini dan begitu, nanti ditutup lagi pembelajarannya. Saya mengharapkan saling mendukung, support, saling tidak menakut-nakuti dan saling menjaga, ” tutupnya. (RedG/Dicky Tifani Badi).

 

 

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed