Pati – Ketua PCNU Pati didampingi oleh Ketua RMI PCNU Pati KH. M. Liwa’udin, M.Pd., Ketua LKNU PCNU Pati, Dr. Moh. Qosim, MM., Perwakilan pesantren KH. Moh. Niam Sutaman, Lc, dan KH. Moh. Shobur melakukan audiensi dengan bupati pati selaku selaku Ketua Gugus Tugas Covid 19,  Jum’at pagi (5/6).

Dalam proses menuju normal baru (New Normal) tentunya harus ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap pesantren di Kabupaten Pati.

Ada sebanyak 220 pesantren dengan 25.000 an santri tentunya perlu pembenahan khusus terutama di sarana dan prasarana pesantren.

Menurut ketua PCNU Pati, dari jumlah pesantren sebanyak itu sebagian besar sarana prasarana yang dimiliki baik ruang tidur santri, MCK sarana kesehatan obat-obatan dan juga ruang pembelajaran masih banyak yang belum memadai.

Sedangkan santri yang berada di pesantren Kabupaten Pati tidak hanya berasal dari wilayah Pati, ada yang berasal dari kita lain yang saat ini masih masuk zona merah. l

“Oleh karena itu perlu kerjasama pemda dan satgas pesantren pada saat mereka kembali ke pesantren harus benar-benar steril dari penyebaran virus covid 19.” kata ketua PCNU Pati.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sampai saat ini pesantren-pesantren belum ada kesamaan sikap dalam menyikapi new normal karena belum adanya koordinasi dengan seluruh pengasuh pengasuh pesantren. Belum ada kebijakan ataupun edaran yang dikeluarkan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pati maupun gugus tugas covid 19 sehingga pesantren membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya lokal menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing Pesantren.

Hal ini terlihat di Pesantren Roudlotul Ulum Guyangan Trangkil sudah membuat edaran kepada Wali santri dengan an-nur normal mempersiapkan santri kembali ke pesantren dilaksanakan rapid test secara mandiri oleh biaya dari pengasuh pesantren tetapi banyak juga Pesantren lain yang belum siap dengan rapid test karena biayanya yang agak memberatkan kepada Wali Santri.

Perlu adanya koordinasi yang terpadu antara pengasuh pengasuh Pesantren ormas dan juga Pemerintah Daerah Kabupaten Pati melalui gugus tugas covid-19 agar benar-benar bisa melaksanakannya normal di pesantren tanpa harus menimbulkan munculnya kelas terbaru penyebaran Corona

Bupati Pati  H. Haryanto SH, MM. M.Si, menanggapi hal ini, dimana persyaratan new normal yang diberikan oleh pemerintah pusat sampai ke daerah harus benar-benar diperhatikan oleh pesantren khususnya terkait dengan physical distancing Santri pada saat berada di pesantren.

“Pengamatan saya di beberapa Pesantren Kabupaten Pati masih banyak yang belum bisa menyediakan ruang tidur santri dengan mempertimbangkan physical distancing. ini sangat berbahaya dan akan menambah masalah baru jika santri masih berkumpul dalam satu kamar tanpa ada physical distancing bisa jadi kalau Pesantren terburu-buru tidak mempertimbangkan ini maka akan bisa menimbulkan cluster baru di pesantren.” jelas Bupati.

Bupati menegaskan agar  santri yang datang kembali ke pesantren harus benar-benar steril dari virus covid 19 dibuktikan tidak hanya menggunakan rapid test karena rapid test tidak bisa serta-merta menjamin mereka itu negatif virus Covid 19. Banyak juga yang rapid test nya tidak reaktif tetapi hasil SWAB-nya positif.

Terkait dengan bantuan Pemda untuk rapid test nanti akan di sesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah karena anggaran Pemkab Pati terbatas.

Untuk menyikapi kesamaan pandangan pengasuh pesantren di Kabupaten Pati disepakati rencananya minggu depan akan dilaksanakan rapat bersama dengan FORKOPIMDA, PCNU dan perwakilan pengasuh pesantren untuk membahas tentang antisipasi dan langkah-langkah yang harus diambil saat memasuki new normal pesantren di Kabupaten Pati. (RedG).

Tinggalkan Komentar