oleh

Nadia: Jenis Vaksin Mandiri dan Vaksin Pemerintah Berbeda

Jakarta – Pemerintah berencana mempersilahkan pihak swasta untuk pengadaan vaksin Covid-19 atau yang disebut program vaksin mandiri atau gotong royong.

Namun, menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jensi vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi mandiri tersebut harus berbeda dengan vaksin yang saat ini digunakkan dalam program vaksinasi pemerintah.

“Di dalam vaksin gotong royong (mandiri) vaksinnya harus berbeda dari alokasi yang memang sudah ditentukan oleh pemerintah. Jadi on top 18,5 juta dan jelas vaksinnya harus vaksin yang merek dan jenisnya berbeda dari yang digunakan pada program pemerintah,” kata Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi dalam kanal YouTube Changeorg Indonesia, seperti dikutip g-news.id, Kamis (18/2/2021).

Seperti diketahui, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/ 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, terdapat tujuh jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia, yakni vaksin produksi Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc and BioNtech, dan Sinovac Biotech.

Sementara itu, terkait teknis pelaksanaan vaksinasi mandiri, Nadia mengatakan, tidak akan mengganggu program vaksinasi pemerintah. Sebab, dari 12 ribu fasilitas nonkesehatan seperti klinik, hanya 4 ribu yang saat ini tercatat difungsikan sebagai tempat vaksinasi pemerintah.

“Vaksin gotong royong tidak boleh menggunakan RS, puskesmas, klinik yang sudah ditunjuk sebagai faskes vaksinasi pemerintah,” imbuhnya.

Untuk proses penyuntikan vaksin gotong royong, menurut dia, bakal dihelat bersamaan dengan tahapan ketiga hingga keempat saat pemerintah memulai vaksinasi pada masyarakat umum.

Sedangkan pekerja sektor padat karya yang bakal menerima vaksinasi mandiri ditaksirkan tidak sebesar seperti target pemerintah.

“Saya rasa jumlahnya juga tidak akan sebesar target pemerintah 181,5 juta. Swasta [mandiri] itu paling coveragenya mungkin tidak akan lebih dua juta saya rasa,” tutur Nadia.

Baca Juga  Jubir Vaksinasi: Data Penerima Vaksin Covid-19 Dijamin Aman

Meski demikian, Nadia mengatakan, upaya ini dilakukan untuk menurunkan transmisi penularan virus corona di lingkungan kerja yang mayoritas terjadi pada industri padat karya.

Ia pun berharap, dengan upaya ini pemerintah dan pelaku dunia usaha mampu bersama-sama membantu Indonesia mencapai target herd immunity atau kekebalan kelompok.

“Pada prinsipnya pendekatan klaster yang kita inginkan,” pungkasnya. (RedG/ong)

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed