oleh

Momen Idul Fitri: THR Biang Kerok Pertumbuhan ekonomi Meroket

Penulis : Nur Imam (Warga Masyarakat Pemalang)

Pemalang – Pasar tradisional, pasar modern, riteil dan serupa dengan itu ramene ora umum. Berjubel costumer memborong sesuatu yang ingin dibeli untuk menyambut Idul Fitri. Dan On line shop mengalami hal yang sama. Apa maknanya? Artinya orang-orang pegang uang !

Lantas mengapa hampir semua orang punya uang? jawabannya simpel: gara-gara THR dan mekanisme berbagi dikalangan umat berlangsung massif dan berlipat ganda dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

Pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta, BUMN dan BUMD menggelontorkan THR bagi seluruh karyawannya. Majikan-majikan empunya usaha pun sama, membagikan THR bagi ploretarnya.

Orang mampu menebar zakat dan sedekah kepada sesama yang kurang mampu, yang kurang mampu memiliki kerelaan sejenis, berbagi rejeki kepada yang “sangat” tidak mampu.

Semua strata ekonomi berbagi rejeki kepada strata dibawahnya, demikian seterusnya. Sehingga idul Fitri adalah momen ketika perputaran uang melonjak tajam pada saat yang hampir bersamaan. Sungguh ini hal yang menarik untuk dikaji.

Peristiwa jelang Idul Fitri ketika beratus juta pekerja formal dan informal memperoleh pendapatan tambahan yang disebut THR itu, kemudian pada sisi lain praktik sedekah antar sesama dikencangkan pada saat bersamaan, Al hasil hampir semua orang memiliki uang.

Nah tatkala mayoritas orang Indonesia punya uang lebih dari biasanya, berdampak pada peningkatan konsumsi dan belanja masyarakat. Sehingga saat lebaran tiba ada istilah “dodol apa bae dong bada payu kabeh”.

Biang kerok dari semua ini adalah THR, tunjangan hari raya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, setidaknya konsumsi kita semua (rakyat). Maka semua diuntungkan, baik yang mengeluarkan THR dan yang menerima.

Dunia usaha yang menggulirkan THR tak ada ruginya, ada feedback yang didapat. Sebab ketika hampir semua orang pegang uang lebih banyak dari biasanya konsumen tak segan-segan meningkatkan belanjanya, sehingga otomatis dunia usaha memperoleh imbal balik.

Baca Juga  Dampak Aktifitas di Kawasan Konservasi yang Serampangan

Orang bijak bergumam, “Saat menebar kebaikan maka kebaikan itu kembali kepada yang menebarkan.

Lalu bolehlah kita sejenak berandai-andai, manakala praktik pemberian THR berlangsung lebih dari setahun sekali, efek sampingnya positif bagi perekonomian rakyat dan negara Indonesia.

Eh ternyata dengan jurus berbagi antar sesama problem kesulitan ekonomi dapat teratasi. Itulah mengapa Islam mensyariatkan apa yang disebut dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Jurus ekonomi Islam adalah solusi konkrit memecahkan persoalan kemiskinan umat. Terlebih pada saat momentum puasa ramadhan ketika anjuran sedekah ditingkatkan dan gong nya dengan pemberian THR, ini gokil meningkatkan kualitas ekonomi umat Islam.

Semoga kelak regulasi THR tidak cuma pada saat lebaran saja, namun dibagikan pada momen hari raya semua agama, ini keren.

Negara dan swasta menggelontorkan minimal enam kali setahun. Statistik angka kemiskinan pasti turun, siapa tau begitu? Mengapa tak segera dicoba untuk membuktikannya. Dipelopori oleh Pemerintah dahulu, jika swasta memang agak berat, kecuali bagi perusahaan yang amat sehat.

Akhirul kata, selamat Idul Fitri bagi semua yang merayakannya. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.(RedG)

Komentar

Tinggalkan Komentar