oleh

Menurunkan Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal Pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal

Erwin Ediyanto Erapraja,S.Pd

SMK Muhammadiyah 6 Comal

 

ABSTRAK

Permasalahan dalam penelitian ini Apakah Bimbingan Klasikal dapat menurunkan Bahaya Bullying pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal ? Adapun tujuan penelitian ini Untuk Menurunkan Bahaya Bullying pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal melalui Bimbingan Klasikal. Hasil analisis data menunjukan ada peningkatan perilaku baik siswa dari siklus ke siklus. Hal tersebut ditunjukan oleh analisis perilaku siswa pada setiap siklus. Pada siklus I Dari 26 orang keseluruhan jumlah siswa, terdapat 18 orang siswa yang yang memperoleh nilai 75 keatas (perilaku baik) atau sebanyak 69,2%. Pada siklus II sudah mengalami peningkatan yakni dari 26 orang keseluruhan jumlah siswa, yang memperoleh nilai 75 ke atas (Perilaku baik) berjumlah 25 orang atau 96%. Simpulan dari Penelitian ini adalah bimbingan klasikal ternyata dapat Menurunkan Bahaya Bullying pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal.

 

PENDAHULUAN

Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada tidaknya landasan hukum atau ketentuan dari pemerintah. Namun yang lebih penting adalah adanya kesadaran atau komitmen untuk memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya. Di sekolah yang terdiri dari berbagai karakter siswa, tak jarang terjadi suatu perbedaan pendapat, permusuhan dan lain sebagainya untuk itu bimbingan dan konseling mengambil peran dalam hal ini, khususnya agar pendidikan mampu berjalan secara efektif dan efisien. Sekolah yang merupakan tempat terselenggaranya proses pendidikan ternyata tidak semata-mata dijadikan tempat untuk belajar mengajar. Penyimpangan perilaku kekerasan seperti tawuran, berkelahi dan lain sebagainya. Justru banyak dilakukan dan berawal di sekolah. Fenomena kekerasan antar siswa ini ditemukan pada hampir seluruh sekolah dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah lanjut tingkat atas. Namun kesadaran sekolah untuk menanggulangi hal tersebut masih sangat rendah. Hal ini sangat ironis, karena sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar harus dinodai dengan penyimpangan perilaku seperti kekerasan. Hal lain yang lebih ironis adalah kekerasan yang harusnya semakin lama semakin berkurang justru saat ini kekerasan semakin bertambah. Sesuai dengan peraturan pemerintah dan kebijakan-kebijakan sekolah yang mengatur pendidikan, siswa memiliki hak untuk merasa aman dan memperoleh pendidikan.

Tetapi nampaknya peraturan-peraturan yang ada tidak berjalan dengan baik, sehingga masih banyak kasus-kasus kekerasan atau penyimpangan lainnya yang tidak diselesaikan atau bahkan dibiarkan begitu saja. Hal ini dibuktikan dengan adanya kasus bunuh diri yang terjadi pada siswa akibat ulah temannya yang selalu menghina dan menganiayanya, kasus kekerasan ini banyak diberitakan pada beberapa surat kabar. Penanganan kasus ini menyadarkan banyak pihak, sayangnya banyak pihak yang tersadar setelah adanya korban. Jika peraturan dan kebijakan yang telah ada dijalankan dengan baik dunia pendidikan tidak harus menelan korban bunuh diri. Banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di sekolah menjadikan pendidikan tidak dapat terlaksana secara maksimal. Menurut beberapa ahli kekerasan yang terjadi di sekolah berasal dari tindakan bullying. Menurut Priyatna (2010: 2) “satu dari tiga anak di seluruh dunia mengaku pernah mengalami bullying, baik itu di sekolah, di lingkungan masyarakat maupun di dunia maya”. Begitupun sebaliknya satu dari tiga anak mengaku pernah melakukan tindakan bullying pada temannya. Bullying di sekolah bisa dilakukan oleh individu ke individu, kelompok ke individu atau kelompok ke kelompok. Tak jarang pula terjadi dari guru ke siswa. Tujuannya adalah pelaku ingin menunjukkan kekuatan kepada yang lain. Menurut Sucipto (2012) bullying dapat berbentuk fisik seperti pukulan, tendangan,tamparan, dorongan, serta serangan fisik lainnya. Yang berbentuk non fisik bullying dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu verbal maupun nonverbal.

Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika kehidupan bersosial terutama dalam lingkup sekolah. Umumnya orang umum lebih mengenalnya dengan sebutan pengucilan, pemalakan, penekanan, pennggencetan, intimidasi, dan lain – lain. Istilah bullying sendiri memiliki artian yang luas mencakup berbagai bentuk penguasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. Disinilah peranan penting sekolah yang menjadi wadah bagi pembentukan karakter anak atau siswa agar lebih perhatian dan terhadap apapun yang berhubungan dengan proses perkembangan mereka. Selain peran sekolah dan komponennya, disini guru Bimbingan Konseling (BK) Sangat berperan penting. Beberpa penanganan yang dilakukan untuk bullying yang jauh untuk mengantisipasi fenomena yang terjadi saat ini. Seperti memberikan layanan yang bersifat preventif dengan memberikan layanan klasikal

 

KAJIAN TEORITIS

Priyatna (2010 : 2) bullying yaitu “tindakan yang sengaja oleh pelaku pada korbannya yang dilakukan secara berulang-ulang, dan disadari perbedaan power yang mencolok”. Jadi, menurut Priyatna bullying adalah tindakan dari pelaku yang lebih kuat kepada yang lebih lemah, jika ada perkelahian yang dilakukan antar anak yang memiliki ukuran fisik dan kekuatan yang sama itu bukan termasuk tindakan bullying. Menurut Olweus (Sanders & Phye 2004:3) menyatakan bahwa bullying adalah ”tindakan siswa yang sedang ditindas atau menjadi korban secara berulang kali dan dari waktu ke waktu secara negatif oleh satu atau lebih siswa lain”. Menurut peneliti dapat disimpulkan bahwa bullying adalah tindakan menyakiti seseorang yang ditunjukkan dengan perbedaan kekuatan yang menonjol dan dilakukan secara sengaja serta berulang-ulang baik oleh individu ke individu lain maupun dari kelompok individu ke individu lain. Pelaku bullying adalah seseorang yang secara langsung melakukan agresi baik fisik, verbal atau psikologis kepada orang lain dengan tujuan untuk menunjukkan kekuatan atau mendemonstrasikan pada orang lain.

Tindakan bullying itu berakibat buruk bagi korban, saksi, sekaligus pelakunya itu sendiri. Bahkan efeknya terkadang membekas sampai si anak telah menjadi dewasa. Menurut Priyatna ( 2010 : 4-5) “dampak buruk bullying dapat menimpa korban, pelaku dan juga orang yang menyaksikannya”. Berikut akan dijelaskan dampak buruk dari bullying: Dampak buruk yang dapat terjadi pada anak yang menjadi korban tindakan bullying, antara lain : 1) Kecemasan, 2) Merasa kesepian, 3) Rendah diri,4) Tingkat kompetensi sosial yang rendah, 5) Depresi, 6) Simtom psikosomatik, 7) Penarikan sosial, 8) Keluhan pada kesehatan fisik, 9) Kabur dari rumah, 10) Penggunaan alkohol dan obat, 11) Bunuh dari dan 12) Penurunan performasi akademik.

 

Selain itu, dampak buruk yang dapat terjadi pada anak yang menjadi pelaku tindakan bullying, antara lain: 1) Sering terlibat dalam perkelahian, 2) Resiko mengalami cedera akibat perkelahian, 3) Melakuan tindakan pencurian, 4) Minum alkohol, 5) Merokok, 6) Menjadi biang kerok disekolah, 7) Kabur dari sekolah atau minggat, 8) Gemar membawa senjata tajam, 9) Yang terparah : menjadi perilaku tindak kriminal. Dalam sebuah studi, 60 % dari anak yang biasa melakukan tindakan bullying menjadi pelaku tindakan kriminal sebelum mereka menginjak usia 24 tahun. Sementara untuk siswa yang biasa menyaksikan tindakan bullying pada kawan – kawannya berada pada resiko : 1) Menjadi penakut dan rapuh, 2) Sering mengalami kecemasan, 3) Rasa keamanan diri yang rendah. Dampak buruk dari tindakan bullying sangat membahayakan terutama bagi kelangsungan belajar siswa di sekolah, siswa akan sulit mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Bahkan tidak hanya di sekolah di lingkungan masyarakat bullying juga ikut andil dalam penyebab tindak kriminal. Tidak hanya itu semua pihak ikut menaggung dampak buruk bullying, tidak hanya korban bahkan pelaku dan siswa yang melihat kejadian bullying itu memiliki dampak yang buruk. Terlebih jika bullying dilakukan terus menerus tentu akan menimbulkan efek yang tidak baik.

Baca Juga  Satgas Pangan Polda Jambi dan Provinsi Sidak ke Pasar Angso Duo Cek Ketersediaan Bahan Pokok Hadapi Bulan Suci Ramadhan

Berdasarkan penjelasan para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan kepada siswa secara terus menerus agar siswa mampu mengarahkan diri, memahami diri sehingga siswa mampu menyesuaikan diri di lingkungannya.

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa layanan bimbingan klasikal adalah salah satu layanan dasar dalam bimbingan konseling yang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan siswa secara terjadwal, berupa kegiatan diskusi kelas, tanya jawab, dan praktik langsung yang dapat membuat siswa aktif dan kreatif dalam mengikuti kegiatan yang dilakukan ( Ainur Rosdah, 2014)

Mastur, bimbingan klasikal merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegiatan secara klasikal yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal. Bimbingan klasikal dapat membantu siswa dalam menyesuaikan diri, mengambil keputusan, meningkatkan harga diri, konsep diri, dan mampu menerima dukungan dan memberikan dukungan pada temannya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan klasikal adalah layanan yang dapat diberikan kepada semua siswa. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses bimbingan sudah disusun secara baik dan siap diberikan kepada siswa secara terjadwal. Kegiatan ini berisi informasi yang diberikan oleh seorang pembimbing kepada siswa.

Untuk mencapai sebuah hasil dari proses bimbingan yang diharapkan, maka bimbingan klasikal harus memiliki tujuan dan fungsi sebagai berikut :

 

 

  1. Tujuan bimbingan klasikal

Rumusan tentang tujuan dan manfaat bimbingan klasikal dalam kajian literatur belum banyak ditemukan, oleh karena itu untuk merumuskan tujuan bimbingan klasikal menggunakan rumusan tujuan pada bimbingan dan konseling yang dikaitkan dengan kegiatan di kelas. Tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan dan konseling adalah tercapainya perkembangan yang optimal, penyesuaian diri yang baik, penyelesaian masalah yang dihadapi, kemandirian dan kebermaknaan dalam hidup. Kaitannya dalam layanan bimbingan dan konseling adalah meliputi layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Layanan bimbingan klasikal sangat dibutuhkan siswa, baik yang memiliki masalah ataupun yang tidak memiliki masalah.

Menurut Soetjipto, tujuan bimbingan dan konseling di sekolah adalah : 1) Mengatasi kesulitan siswa dalam belajar sehingga memperoleh prestasi yang lebih baik. 2) Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar. 3) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani. 4) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi. 5) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan perencanaan dan pemilihan karir.

  1. Fungsi bimbingan klasikal Layanan bimbingan klasikal

Memiliki fungsi sebagai berikut : 1) Adanya interaksi saling mengenal antara guru pembimbing dengan siswa. 2) Terjalinnya hubungan emosional antara guru pembimbing dengan siswa sehingga akan tercipta hubungan yang bersifat mendidik dan membimbing. 3) Terciptanya keteladanan dari guru pembimbing bagi siswa yang dapat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik. 4) Sebagai media komunikasi langsung antara guru pembimbing dan siswa, sehingga siswa dapat menyampaikan pemasalahannya secara langsung. 5) Adanya kesempatan bagi guru pembimbing melakukan tatap muka, wawancara, dan observasi terhadap kondisi siswa dan suasana belajar di dalam kelas. 6) Sebagai upaya pemahaman, pencegahan, penyembuhan, pemeliharaan dan pengembangan pikiran, perasaan, dan perilaku siswa.

Media pembelajaran dalam bimbingan klasikal menurut Belawati dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : a. Media cetak adalah sejumlah media yang disiapkan dalam bentuk kertas dan berfungsi untuk keperluan pembelajaran dan penyampaian informasi. Contoh media cetak antara lain buku teks, majalah, leaflet, modul, handout, dan lembar kerja siswa. b. Media non cetak adalah sejumlah media yang disiapkan tidak pada kertas, yang berfungsi untuk keperluan pembelajaran dan penyampaian informasi. Contoh media non cetak antara lain overhead transparancies, audio (bersifat suara atau bunyi misalnya radio atau tape), video (berupa gambar dan bunyi seperti film), slide dan komputer.17 c. Media display adalah jenis media pembelajaran yang berisi materi tulisan atau gambaran yang dapat ditampilkan di dalam kelas ataupun luar kelas, dalam kelompok kecil ataupun kelompok besar tanpa menggunakan alat proyeksi. Contoh media display antara lain flipchart, adhesive, chart, poster, peta, dan foto.

Saiful Umam (2014) mengemukakan bahwa untuk dapat melaksanakan layanan bimbingan klasikal secara baik dalam meminimalisir perilaku Bullyng, terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

 

  1. Melakukan analisa pemahaman siswa (menentukan kelas layanan, menyiapkan instrumen pemahaman siswa, pengumpulan data, analisis data, dan merumuskan pemahaman).
  2. Menetukan kecenderungan kebutuhan layanan bimbingan klasikal bagi siswa atau konseli atas dasar hasil pemahaman siswa.
  3. Memilih metode dan teknik yang sesuai untuk memberikan layanan bimbingan klasikal (ceramah-diskusi, ceramah-simulasi-diskusi, atau ceramah-tugas-diskusi).
  4. Persiapan pemberian layanan bimbingan klasikal dapat disiapkan secara tertulis merupakan suatu bukti administrasi kegiatan, dengan demikian materi layanan disajikan secara terencana dengan harapan mencapai hasil yang optimal, sebab disusun atas dasar kebutuhan dan literatur yang relevan
  5. Memilih sistematika persiapan yang dapat disusun oleh guru BK atau konselor, dengan catatan telah mencerminkan adanya kesiapan layanan bimbingan klasikal dan persiapan diketahui oleh koordinator BK dan atau Kepala Sekolah.
  6. Mempersiapkan alat bantu untuk melaksanakan pemberian layanan bimbingan klasikal sesuai dengan kebutuhan layanan.
  7. Evaluasi pemberian layanan bimbingan klasikal perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses, tepat tidaknya layanan yang diberikan atau perkembangan sikap dan perilaku atau tingkat ketercapaian tugas-tugas perkembangan. Secara umum, aspek yang dievaluasi meliputi: kesesuaian program dalam pelaksanaan, keterlaksanaan program, hambatan-hambatan yang dijumpai, dampak terhadap kegiatan belajar mengajar, respon siswa dan orang tua serta perubahan perkembangan siswa (tugas-tugas perkembangan) atau perkembangan belajar, pribadi, sosial, dan
  8. Tindak lanjut, perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan pemberian layanan bimbingan kelas. Kegiatan tindak lanjut senantiasa mendasarkan pada hasil evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal. Penelitian ini dilakukan untuk Menurunkan Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal pada Siswa kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2023. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal yang berjumlah 26 orang dengan karakteristik yang berbeda.

Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel Input

Variabel input dalam penelitian ini adalah siswa sebagai subjek penelitian, guru sebagai konselor, media dan metode yang digunakan dalam pemberian layanan, serta perangkat yang mendukung pelaksanaan pelayanan.

  1. Variabel Proses

Variabel proses dalam penelitian ini adalah proses untuk Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal.

  1. Variabel output

Variabel output dalam penelitian ini adalah Meminimalisir Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal.

Baca Juga  Spesialis Pencuri Handphone, Tertangkap Polisi

 

 

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan 2 siklus. Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi sebagai penjajagan untuk memperoleh informasi dan gambaran terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, diteliti dan tindakan yang telah dilakukan oleh guru. Dan dilanjutkan dengan membahas hasil observasi serta merencanakan dan menetapkan tindakan. Rencana penelitian ini menggunakan model proses yang berkesinambungan, mulai dari proses penelitian siklus 1 , ditindaklanjuti proses penelitian siklus 2

Tim Penyusun (2010:33) mengemukakan bahwa prosedur penelitian tindakan kelas terdiri atas 4 langkah yaitu (1) Persiapan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan (4) Analisis dan Refleksi

Untuk mencari data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain:

  1. Observasi

Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat hal-hal penting yang terjadi pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal yang diamati adalah proses pembelajaran serta aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.

  1. Tes

Teknik ini meliputi tes awal, proses dan tes akhir

  1. Dokumentasi

Teknik ini berupa pendokumentasian hasil-hasil observasi dalam penelitian serta instrumen yang digunakan.

Dalam menganalisis hasil minimalisir Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal digunakan rumus:

Daya Serap = Capaian Siswa x 100%

Total Siswa

 

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian pada penelitian tindakan kelas ini mencakup hasil observasi kegiatan guru yang didasarkan pada Menurunkan Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Untuk jelasnya hasil penelitian tindakan kelas ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:

 

Siklus 1

Kegiatan Siklus I dilakukan dengan memperhatikan secara optimal kekurangan pada observasi awal. Adapun hasil tindakan bimbingan klasikal Di Kelas X pada siklus ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

 

Tabel 1 Hasil Bimbingan Klasikal Di Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal

Nilai Jumlah Siswa Capaian Kualifikasi
SB B C K
50 – 70 8 400
75 – 85 18 1350
90 – 100 0 0
Jumlah 26 1750
Nilai 75 keatas 69,2%
Daya Serap 67,3%

Data Hasil Penelitian, 2023

Keterangan:

  1. SB = Sangat Baik
  2. B = Baik
  3. C = Cukup
  4. K = Kurang

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dijelaskan bahwa:

  1. Dari 26 orang keseluruhan jumlah siswa, terdapat 8 orang yang perilakunya masih membully/dibawah standar dengan kategori nilai 75 ke bawah atau sebanyak 31,8%.
  2. Dari 26 orang keseluruhan jumlah siswa, terdapat 18 orang yang perilakunya diatas standar/perilaku baik (tidak membully) dengan kategori nilai nilai 75 ke atas atau sebanyak 69.2 %
  3. Daya serap siswa mencapai 67,3%

Siklus 2

Pelaksanaan tindakan pada siklus II diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 2 Pengamatan Hasil Belajar Siswa Siklus II

Nilai Jumlah Siswa Capaian Kualifikasi
SB B C K
70 – 74 1 70
75 – 85 17 1275
90 – 100 8 720
Jumlah 26 2065
Nilai 75 keatas 96%
Daya Serap 80%
Hasil Penelitian,2017

Keterangan:

  1. SB = Sangat Baik
  2. B = Baik
  3. C = Cukup
  4. K = Kurang

Berdasarkan tabel mengenai bimbingan klasikal dalam Meminimalisir Bahaya Bullying Di Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal pada pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus II, bahwa:

 

 

  1. Dari 26 orang siswa, hanya terdapat 1 (4%) orang siswa yang memperoleh nilai 75 ke bawah atau kategori perilaku tidak baik,
  2. Sedangkan yang perilaku baik memperoleh nilai 75 ke atas berjumlah 25 orang atau 96 %
  3. Daya serap siswa mencapai 80%.

Setelah melaksanakan tindakan pada siklus II maka peneliti bersama guru mitra melaksanakan refleksi Berdasarkan hasil refleksi,walaupun proses konseling yang laksanakan guru terdapat aspek yang kurang, namun pada pelaksanaan siklus II sudah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Sehingganya pelaksanaan tindakan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka menurunkan Bahaya Bullying Melalui Bimbingan Klasikal pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal telah memenuhi indikator kinerja. Data yang diperoleh melalui pelaksanaan tindakan siklus I menunjukan bahwa masih terdapat 8 orang yang perilakunya masih membully/dibawah standar dengan kategori nilai 75 ke bawah atau sebanyak 31,8%. Hal ini membuktikan bawah perilaku siswa masih sering membully, untuk itu perlu ditinjau kembali kelemahan-kelemahan pada saat berlangsungnya proses konseling yang telah disebutkan pada deskripsi data siklus I, dengan demikian pelaksanaan tindakan dalam penelitian harus dilanjutkan pada siklus II dengan memperhatikan kekurangan dan kelemahan pada kegiatan sebelumnya. Dari hasil perbaikan langkah-langkah pembelajaran tersebut, nampak pada hal-

hal sebagai berikut:

  1. Siswa yang perilakunya kurang baik/masih membully memperoleh nilai 75 ke bawah berjumlah 1 orang (4 %)
  2. Siswa yang perilakunya sudah baik memperoleh nilai 75 ke atas berjumlah 14 orang atau 96%, dan daya serap mencapai 80%
  3. Kegiatan konseling pada siklus I, dari 14 aspek yang dinilai untuk kualifikasi sangat baik dan baik mencapai 14%.
  4. Kegiatan konseling pada siklus II, dari 14 aspek yang dinilai, untuk kualifikasi cukup mencapai 8%.

Berdasarkan gambaran di atas, sangatlah jelas perilaku siswa meningkat pada siklus I sampai dengan pelaksanaan tindakan Siklus II, dengan demikian terbukti setelah melalui penelitian tindakan kelas ini, bimbingan klasikal Di Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal dapat Menurunkan Bahaya Bullying. Dengan demikian hipotesis tindakan dalam penelitian ini dapat Diterima.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka penulis membuat kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan di SMK Muhammadiyah 6 Comal yaitu : bimbingan klasikal ternyata dapat Menurunkan Bahaya Bullying pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 6 Comal.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis membuat saran – saran berikut:

  1. Guru pembimbing dapat memberikan layanan bimbingan klasikal kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman bahaya bullying, tentunya harus dilakukan secara konsisten dan optimal..
  2. Guru pembimbing hendaknya bekerjasama dengan guru wali kelas dalam memantau siswa di sekolah, dan guru pembimbing hendaknya pula bekerjasama dengan orang tua dalam memantau sikap siswa di rumah.
  3. Guru pembimbing harus memiliki sikap ketetgasan pada siswa dengan penuh kasih sayang dan dapat menjadi contoh bagi siswa dalam upaya meningkatkan pemahaman bahaya bullyin

 

DAFTAR PUSTAKA

Ainur Rosdah. 2014. Layanan Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Konsep Diri Siswa Underachiever, Jurnal Fokus Konseling STKIP Muhammadiyah Pringsewu.

Astuti, Ponny Retno. 2008. Meredam Bullying. Jakarta: PT Grasindo.

B, Coloroso. Penindas, Tertindas, Dan Penonton. 2004. Resep Memutus Rantai Kekerasan Anak Dari Pra Sekolah Hingga SMU. Jakarta: Serambi

Priyatna, Andi. 2010. Let’s End Bullying (Memahami, Mencegah & Mengatasi Bullying.

Jakarta: Grasindo

Ponny Retno Astuti. 2008. Meredam Bullying. Jakarta: PT Grasindo

Romlah, Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang.

Saiful Umam. 2014. Penggunaan Teknik Modelling Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa, Jurnal Bimbingan Konseling UPI 1, no. 1

Sukardi, Dewa Ketut. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Yusuf, Syamsu. 2006. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy

Komentar

Tinggalkan Komentar