Wonogiri- Bagi seorang pemancing mencari ikan tentu sebuah tujuan utama, mereka rela menunggu berjam-jam, berpanas-panas bahkan menceburkan badan di dalam sungai ataupun waduk. Hasil ikan yang didapat bisa dikonsumsi atau dijual demi menjaga dapur agar tetap ngebul.

Wawan, seorang pemancing asal Desa Miri, Kecamatan Kismantoro sedikit berbeda, dia bersama komunitasnya yang bernama Gerojok rela berjam-jam menunggui mata kailnya disambar ikan, namun setelah didapat ikan tersebut tidak diolah menjadi makanan atau dijual namun dipindahkan dalam keadaan hidup di tempat lain.

“Biasanya hasil yang kami dapat kami release di tempat lain yang jumlah ikannya belum banyak,” bebernya.

Wawan mengatakan Gerojok adalah komunitas pelestari sumber daya air dan sumber daya perikanan. Komunitas tersebut beranggotakan 103 orang yang tersebar di Kecamatan Purwantoro, Kismantoro, Bulukerto, Puhpelem dan Slogohimo.

“Kami berusaha memberikan edukasi kepada masyarakat luas agar memperhatikan kelestarian lingkungan air, kami melarang penggunaan setrum dalam mencari ikan serta melarang membuang sampah di sungai,” katanya.

Bagi yang tertangkap basah melakukan tindakan penyetruman ikan , sanksi adat siap menanti yakni mengganti ikan yang mati dengan bibit ikan dan ditebar di tempat tersebut.

“Kami berharap warga masyarakat sadar akan pentingnya kelestarian air dan ikan,” tegasnya.(red)

 

 

Tinggalkan Komentar