oleh

Mafia Pertanian dan Pangan Menari Diatas Penderitaan Petani, Ketua LSM Pegiat Anti Korupsi Angkat Bicara Desak KPK dan Aparat Penegak Hukum Tangkap Segera Kartel Pangan dan Pertanian

-Surakarta-40 views

Solo – Di suatu kelas, seorang guru menanyakan cita-cita kepada anak didiknya, si A menjawab ingin jadi dokter, si B menjawab ingin jadi polisi, si C menjawab ingin jadi pengusaha. Semua murid menjawab, tak ada satupun yang menjawab ingin menjadi seorang petani.

Sebuah fakta yang miris, karena Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam. Mengapa profesi petani tidak dianggap keren bagi sebagian besar generasi sekarang.

Ternyata menjadi petani memang membutuhkan jiwa yang besar. Mereka tidak pernah mempunyai bargaining position terkait masa tanam maupun pasca panen.

Permasalahan yang dihadapi selalu ada, kelangkaan bibit, naiknya harga pupuk, langkanya obat pertanian dan harga anjlok adalah hal lazim yang dihadapi para petani.

Dikutip dari cnn.indonesia Peneliti CIPS, Galuh Octania, mengatakan posisi petani tidak menguntungkan. Pasalnya, mereka tidak memiliki kuasa untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG). Saat bertransaksi, petani tidak memiliki posisi tawar yang menguntungkan karena harga komoditas yang mereka hasilkan sangat bergantung pada pasar.

“Alhasil petani hanya bertindak sebagai price taker dan bukan price maker,” katanya dalam riset resmi.

Selain itu Harga Pokok Pembelian (HPP) yang ditawarkan Perum Bulog sebagai perwakilan pemerintah tidak jarang lebih rendah daripada harga pasar. Akhirnya, petani tidak mampu mengantongi keuntungan.

Alih-alih menjual kepada Perum Bulog, banyak petani yang akhirnya lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak. Sebab, para tengkulak ini menawarkan harga yang lebih tinggi daripada Perum Bulog.

Nasib mujur yang kurang berpihak petani ini mendapat perhatian dari Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Penyelamat Asset dan Anggaran Belanja Negara Republik Indonesia ( LSM LAPAAN RI) Jawa Tengah BRM Kusumo Putro, SH,MH.

Kusumo pria yang getol menyoroti tentang tindak pidana korupsi, dikenal sebagai pegiat anti korupsi yang dikenal kiprahnya khususnya di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

“Sebentar lagi Lembaga LAPAAN RI akan menjadi Lembaga yang diakui secara nasional,” katanya.

Kusumo yang saat ini baru menempuh Pendidikan Doktor Ilmu Hukum ( S3 ) di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Kota Semarang menceritakan pengalamannya ketika menemui seorang petani yang menggarap sawah miliknya di kawasan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Baca Juga  SD Muhammadiyah 1 Ketelan Sebarkan Semangat Kemajuan

Keluh kesah si buruh tani membuat hati Kusumo trenyuh, mengetahui beratnya menjadi petani, dia sampai tidak tega mengambil hasil panen yang menjadi haknya.

Setelah obrolan tersebut, Kusumo mempunyai empati kepada petani, kaum marginal yang selama ini tertepikan oleh kepentingan.

Kusumo heran dengan fenomena petani yang mempunyai nasib miris di negara agraris.

“Indonesia adalah negara agraris dengan 60 persen penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, tapi selama ini kebijakan pemerintah kurang pro dengan petani,” jelasnya.

Dijelaskannya, secara terminologi bahasa, petani adalah orang yang bekerja di bidang pertanian, dengan mengolah lahan. Hasil panennya bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual di pasar. Sementara nelayan adalah orang yang pekerjaanya menangkap ikan baik di sungai, danau maupun laut. Hasil tangkapannya biasanya dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) .

“Dia adalah petani, bangun pagi pulang sore hari, hidup sederhana dengan caranya, pikiran dan hatinya bersih dan nggak neko-neko, sangat bersahabat dengan alam sambil merawat padi hingga saat panen tiba,dialah petani kita, yang selalu tidak menentu hasil yang didapatkan dari penjualan hasil panennya karna selalu kalah dengan mereka para pengatur harga, dalam sejarah bangsa ini petani tidak mempunyai kuasa menentukan hasil panennya sendiri, mereka selalu pasrah bahkan terkadang rugi dan tidak mendapatkan keuntungan apa – apa dari hasil panennya, semua tergantung dari si pengatur harga dan para kartel penguasa pupuk, bibit, obat pembasmi hama serta gabah dan beras hasil tanaman padinya,” bebernya.

Kusumo menambahkan mereka adalah pribadi yang lemah dan pasrah yang tidak pernah memberontak sama sekali di negeri ini apalagi melakukan demo.

“Sama sekali belum pernah ada dan terdengar mereka lakukan di seantero bangsa ini, selama ini kita lihat belum ada yang sungguh-sungguh membela hak – hak mereka, kenapa tidak ada yang berteriak lantang ketika bibit padi, pupuk dan obat pembasmi hama harganya menjulang tinggi, ketika harga gabah terjun bebas tak terkendali, ketika harga obat pembasmi hama tidak mampu lagi mereka beli, kemana mereka para pejuang kemanusiaan, para pejuang pangan dan para aktivis,” jelasnya.

Baca Juga  Sosialisasi Doktrin Fungsi Umum Personalia dan Binpers TNI AU di Lanud Adi Soemarmo

Akankah di negeri yang gemah ripah loh jinawi dengan terik sinar matahari terlama dan curah air hujan terbanyak di dunia, sehingga mendapat sebutan tanah paling subur di seluruh dunia akan kehilangan rohnya sebagai negara agraris penghasil padi dengan kwalitas terbaik di dunia karena kehilangan petani dan sawahnya ?

“Di setiap bulir padi yang kita nikmati setiap hari dan menjadikan kita berenergi untuk melanjutkan kehidupan kita selama ini, ada ribuan kisah, keluh kesah dari kaum marginal yang terpinggirkan, mereka adalah petani dan buruh tani,” ucapnya.

Kusumo berharap energi pemerintah juga tercurah kepada petani dan segala kemudahan serta bantuan bibit, pupuk, obat pembasmi hama diberikan gratis.

“Kalaupun harus beli harus dijual dengan harga sangat terjangkau demi kesejahteraan petani kita dan harga gabah hasil kerja mereka mendapatkan harga tinggi yang pantas dan menguntungkan mereka dan pemerintah segera bertindak untuk membasmi para mafia pupuk, bibit padi serta obat-obatan pembasmi hama serta mafia di sektor pangan khususnya gabah dan beras hasil panen para petani kita,” sambungnya.

Kusumo menambahkan rakyat Indonesia menunggu aksi KPK melakukan tangkap tangan dan menangkap para mafia pangan dan perkebunan di Indonesia.

“Kok kayaknya adem ayem saja mereka selama ini, para mafia gabah dan beras serta hasil perkebunan hingga saat ini dengan santainya bermain-main dengan harga dan berdansa ria tidak tersentuh hukum kita, mari kita tunggu KPK dan aparat penegak hukum masuk dan Punya keberanian menyelidiki dan menangkap para mafia pangan dan hasil perkebunan di segala lini mulai dari hulu sampai hilir, mulai dari pejabat sampai pengusaha yang terlibat demi penegakan supremasi hukum dan keadilan di negara Indonesia,” tegasnya.

Kusumo melanjutkan jangan biarkan mereka menari-nari diatas penderitaan para petani.

“Salam petani makmur dan sejahtera, salam penegakan supremasi hukum di sektor pangan dan perkebunan, rakyat Indonesia mendukung dan mendorong KPK dan aparat penegak hukum untuk menangkap para mafia dan kartel di sektor pangan dan perkebunan agar jangan sampai ada monopoli dagang di negeri Indonesia yang kita cintai ini,” tutupnya.

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed