oleh

Lingkungan Terdekat, Faktor Rentan Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan

Solo-Hidup di Indonesia sebagai perempuan dengan keadaan yang seperti sekarang bukanlah perkara yang mudah. Hampir tiap hari puluhan kasus kekerasan dengan target utama perempuan menjadi hal yang marak sekali terjadi. Kekerasan bisa terjadi dimana saja, entah itu diranah paling kecil seperti rumah maupun ruang publik.

Tiap tahunnya angka kekerasan di Indonesia terus merangkak naik, dikutip data bahwa sebagian besar data Catahu yang dikompilasi Komnas Perempuan bersumber dari data kasus/ perkara yang ditangani oleh PA. Dari total 406.178 kasus kasus kekerasan terhadap perempuan yang dikompilasi Komnas Perempuan pada tahun 2018, sebanyak 392.610 kasus atau 96% adalah data PA dan 13.568 kasus atau 3% adalah data yang berasal dari 209 lembaga mitra pengada layanan yang mengisi dan mengembalikan formulir pendataan Komnas Perempuan.

Dari data berdasarkan kuesioner tersebut tampak kekerasan terhadap Perempuan di tahun 2018 dalam Catahu 2019 mengalami peningkatan yaitu sebesar 406.178 kasus nsepanjang tahun 2019 terdapat 2.988 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan, itu belum termasuk kekerasan yang belum dilaporkan. (Sumber dari Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2018, Komnas Perempuan, Jakarta, 6 Maret 2019).

Berbicara tentang kekerasan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, tingkat ekonomi yang lemah, ketidakharmonisan keluarga, dan masih kuatnya budaya patriarki menjadikan perempuan sebagai objek dan sasaran empuk untuk melampiaskan segala bentuk hasrat.

Kita mulai dari lingkup kecil seperti rumah, kebanyakan orang mengartikan rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman tapi pada kenyataannya kasus kekerasan yang banyak terjadi di Indonesia adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pada tahun 2018 muncul kasus seorang suami yang menendang perut istrinya yang sedang hamil tua, hanya karena curiga bayi yang sedang di kandung istrinya bukan darah dagingnya sendiri, akibatnya istrinya mengalami keguguran. Itu baru satu kasus belum lagi kasus-kasus yang tidak terekspose media.

Baca Juga  Anggota Komisi IV DPR RI : Keikutsertaan Indonesia di WTO Berdampak Buruk pada Pertanian dan Kedaulatan Pangan

Dalam lingkup pacaran pun kasus kekerasan juga tidak bisa dipandang sebelah mata, baru-baru ini kasus mahasiswi di UIN Alauddin Makasar yang dibunuh kekasihnya sendiri mencuat ke publik. Begitu banyaknya kasus yang beredar di masyarakat semakin menegaskan bahwa begitu banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan.

Seperti yang sudah dibahas diatas budaya patriarki menjadi salah satu faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan, laki-laki yang memegang teguh seksis dan maskulinitas cenderung melakukan kekerasan terhadap perempuan. Mereka beranggapan bahwa menjadi laki-laki berarti mempunyai hak untuk melakukan apapun, perilaku tentang kejantanan laki-laki mencakup pemikiran bahwa menjadi laki-laki harus tangguh, kuat, tegas dan dominan, sementara perempuan dianggap lebih rendah. Budaya ini jika tidak dihentikan akan semakin memakan banyak korban, kesadaran akan keseteraan gender sangat dibutuhkan untuk memutus tali kekerasan terhadap perempuan. Upaya yang dilakukan pemerintah dengan membuat UU tentang perlindungan perempuan dan hukuman bagi laki-laki yang melakukan kekerasan nampaknya belum juga membuat jera. Lalu hal apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan ? Cukup sulit untuk mengubah budaya yang sudah melekat lama di masyarakat namun dengan pendekatan yang tepat dan kesadaraan masyarakat bukan tidak mungkin kekerasan pada perempuan akan berkurang. Seperti contoh pendekatan ke laki-laki maupun perempuan dilakukan sedini mungkin untuk memberi pemahaman tentang apa itu kesetaraan gender, maskulinitas, dan kampanye untuk mengubah norma sosial yang bisa diterapkan di masyarakat agar tercipta lingkungan yang aman dan nyaman.

Ketri Afifa
Mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Surakarta

Komentar

Tinggalkan Komentar