oleh

Lebaran Syawalan di Kota Semarang, Tradisi Warga Pedurungan Tengah Bagikan Kupat Jembut

SEMARANG – Ada yang unik dalam menyambut momen Lebaran Ketupat atau Syawalan. Di Kota Semarang, ada tradisi unik dalam menyambut momen Syawalan yakni membuat Kupat Jembut.

Kupat Jembut merupakan ketupat dengan isian kecambah atau tauge, kelapa hingga lombok. Menariknya, di dalam ketupat diisi penuh dengan isiannya hingga terlihat dari luar.

Walaupun namanya terdengar vulgar, eits jangan berfikir yang aneh-aneh dulu ya. Kupat Jembut dapat disantap secara langsung tak perlu menggunakan sayur opor saja sudah enak cita rasa ketupatnya.

Nah salah satunya di RW 1 Kelurahan Pedurungan Tengah, Pedurungan, Kota Semarang yang menggelar tradisi Kupat Jembut.

Berdasarkan cerita dari warga, Kupat Jembut sudah ada sejak tahun 1950 dan
konon kupat ini tercipta dari kehidupan warga yang serba terbatas. Dari situ, masyarakat yang membuat Kupat Jembut akan dibagikan kepada anak-anak setempat.

“Acaranya (tradisi kupat jembut) dilaksanakan setelah subuh. Yang membuat kupat nanti dibagikan kepada anak-anak yang datang. Bagi yg tidak sempat membuat bisa memberikan sedekah berupa uang,” ujar Ketua RW Wasi Darono.

Ada hal yang menarik, anak-anak RW 1 berdatangan dengan membawa plastik setelah matahari muncul. Saat itulah, seorang warga akan memukul tiang listrik dengan batu.

Hal tersebut menjadi tanda jika tradisi kupat jembut akan dilaksanakan. Kemudian anak-anak dengan tertib, menerapkan protokol kesehatan dan dibariskan menyusuri kampung.

Para warga mengantre dalam bagi-bagi Kupat Jembut.

Tentunya agar menerima Kupat Jembut dari rumah-rumah warga yang membuat.

“Setiap satu tahun sekali kalau Lebaran biasa tradisinya halal bi halal di pinggiran jalan setelah Shalat Ied. Untuk Syawalan ini tradisi untuk anak anak,” imbuhnya.

Menurutnya, tradisi Kupat Jembut sebagai simbol perjuangan orang-orang di zaman dahulu. Ia mengharapkan tradisi seperti ini tetap dilestarikan yang diadakan tujuh hari setelah Lebaran.

Baca Juga  Dandim - Kapolres Pati Boncengan Pantau Keamanan

Dirinya bersama warga RW 1 Kelurahan Pedurungan Tengah mencoba mempertahankan tradisi tersebut meskipun di tengah era modernisasi.

“Harapannya, yang penting warga masyarakat menunjukkan bahwa ini tradisi yg baik untuk diuri-uri dalam rangka untuk silaturahmi dan untuk kebersamaan dalam masyarakat,” pungakasnya. (RedG/Dicky Tifani Badi)

Komentar

Tinggalkan Komentar