oleh

Lanskap Menoreh, Surga Burung di Batas Provinsi

Kulonprogo – Tiga jenis burung endemis jawa telah tercatat pada pemantauan layanan alam yang dilakukan oleh masyarakat Kalurahan Jatimulyo dan Kalurahan Purwosari Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo serta masyarakat Desa Donorejo dan Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing, Purworejo. Kawasan Menoreh telah ditetapkan sebagai bagian dari Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh oleh UNESCO pada tahun 2020. Kolaborasi para stakeholder terkait diperlukan dalam pengelolaan kawasan Cagar Biosfer termasuk Lanskap Menoreh.

Oleh karena itu, pemantauan layanan alam ini melibatkan masyarakat di empat desa dan juga Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) mengirimkan 14 orang perwakilan untuk berproses bersama masyarakat dalam mempelajari metode pemantauan layanan alam. Pemantauan layanan alam dilakukan pada tanggal 1 sampai 2 Juli 2022 di kawasan agroforestri masyarakat ke-4 desa tersebut. Kegiatan ini diselenggarakan oleh KTH Wanapaksi dan Yayasan Kanopi Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kalurahan Jatimulyo dan Burung Indonesia.

Secara keseluruhan, telah tercatat 52 jenis burung pada kegiatan pemantauan layanan alam di 4 desa. Tiga jenis burung endemis yang tercatat oleh para peserta pemantauan layanan alam pada tanggal 2 Juli 2022 adalah Mixornis flavicollis (Ciung-air jawa), Pellorneum capistratum (Pelanduk topi-hitam), dan Aethopyga mystacalis (Burung-madu jawa). Selain itu juga tercatat 2 jenis burung yang rentan terhadap kepunahan (vurnerable) meliputi Cucak delima (Rubigula dispar) dan Kacamata pleci (Zosterops melanurus).

Ikmal Maulanal Huda, salah satu pengamat burung anggota PPBJ menyampaikan,  “Ciung-air jawa dan Pelanduk topi-hitam termasuk burung pengoceh yang sering mencari makan di semak-semak. Pengamat harus jeli menelisik pergerakan di sekitar semak-semak maupun tumbuhan bawah lainnya. Sementara itu Burung-madu jawa memiliki warna yang lebih mencolok dan cenderung mudah dikenali. Burung-madu jawa dapat dijumpai pada tanaman yang berbunga seperti kopi, bunga sepatu dan tanaman berbunga lain yang tumbuh di kawasan agroforestri ini.

Baca Juga  Kapolres Bateng Pastikan Wilayahnya Aman di Bulan Ramadhan

Pencatatan hasil pemantauan dilakukan menggunakan platform amatisekitar.info.

Pantiati, Program Manager Yayasan Kanopi Indonesia menyampaikan, “Harapannya masyarakat lokal mampu melakukan pengamatan secara mandiri dan menginput data pemantauan kedalam database layanan alam Lanskap Menoreh yang telah disiapkan dalam platform tersebut. Dengan database ini diharapkan masyarakat di Lanskap Menoreh terutama masyarakat 4 desa mulai berproses melakukan pengelolaan layanan alam secara kolaboratif untuk kepentingan konservasi burung di kawasan Lanskap Menoreh.

Sebelum melakukan pengamatan di lapangan, pada hari Jum’at 1 Juli 2022 pukul 15.00 peserta pengamatan melakukan simulasi pencatatan data jenis burung melalui platform www.amatisekitar.info. Simulasi pencatatan difasilitasi oleh Pantiati dari pengenalan platform hingga praktik langsung cara mencatat jenis burung yang ditemui di lapangan. Pengamatan burung di empat desa (Jatimulyo, Tlogoguwo, Donorejo dan Purwosari) dilaksanakan keesokan harinya. Peserta pengamatan dibagi menjadi 4 tim,  setiap desa diterjunkan 1 tim untuk melakukan pengamatan.

Nicosius (Koordinator PPBJ) menyampaikan bahwa “Pelaksanaan pengamatan burung di-4 desa akan membuka wawasan para pengamat dan pemerhati burung mengenai potensi keragaman burung di Lanskap Menoreh secara umum. Selain itu masyarakat di sekitar 4 desa juga akan menjadi lebih mengenal kegiatan penelitian maupun pengamatan keragaman hayati secara umum”.

Di desa Donorejo tercatat 22 jenis dan jenis burung yang mendominasi desa ini adalah Cucak kutilang. Jenis burung menarik yang dijumpai Tim Donorejo adalah burung Delimukan zamrud (Chalcophaps indica) atau “manuk doro lumut”, begitu masyarakat Donorejo biasa menyebutnya. Tidak kalah dari tim sebelumnya, Tim Purwosari mencatat adanya 29 jenis burung dengan burung Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus) adalah catatan terbanyak.

Selanjutnya Tim dari Desa Tlogoguwo menemukan 28 jenis burung dengan beberapa jenis burung yang mendominasi seperti Tepekong jambul (Hemiprocne longipennis), Kancilan bakau (Pachycephala cinerea) dan Cinenen pisang (Orthotomus sutorius). Jenis burung yang menarik adalah burung Kacamata (Zosterops melanurus) atau lebih dikenal dengan nama Pleci. Jenis burung ini merupakan salah satu jenis yang sekarang sangat sulit dijumpai di alam liar.

Baca Juga  Simpan 3 Paket Sabu, Warga Namang Diamankan Polisi

Tim terakhir dari Desa Jatimulyo mencatat 22 jenis burung dan yang paling banyak dijumpai adalah burung dari keluarga Nectariniidae (Penghisap nektar) meliputi Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis), Pijantung gunung (Arachnothera affinis), Pijantung kecil (Arachnothera longirostra), Burung-madu belukar (Chalcoparia singalensis) dan Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis). Selain keragaman burung, peserta juga mencatat ancaman terhadap keragaman hayati di semua lokasi yaitu penangkapan burung.

Menurut Arif Rudianto (Direktur Yayasan Kanopi Indonesia), “Informasi keanekaragaman hayati dan ancamannya ini menjadi penting untuk dasar dalam perumusan peraturan desa, sesuai dengan rencana pembuatan peraturan desa di  Kalurahan Purwosari Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo serta Desa Donorejo dan Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing, Purworejo. Hal ini menjadi salah satu harapan terlaksananya pengelolaan Lanskap Menoreh secara berkelanjutan.”

Konservasi tidak lepas dari dukungan seluruh pihak. Tidak hanya dari pihak yang berwenang namun juga dari pihak akademisi bahkan masyarakat umum. Pelibatan masyarakat dalam pencatatan layanan alam dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai arti penting konservasi. Selain dapat menumbuhkan kesadaran arti penting konservasi, data pemantauan layanan alam dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan pengelolaan kawasan secara umum.(RedG/ Ikmal Maulana Huda, Nicosius Liontino Alieser, Pantiati)

 

Komentar

Tinggalkan Komentar