Pacitan – Dinas Kesehatan Pacitan kedatangan tamu dari anggota Komisi II, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dalam rangka  inspeksi mendadak (sidak) mengenai perkembangan Covid-19 di Pacitan.

Maksud dan tujuan rombongan anggota komisi II,ini untuk menanyakan beberapa poin, antara lain bagaimana perkembangan Covid-19 dan juga seberapa besar anggaran yang sudah di pergunakan.

Pasalnya, anggaran yang sangat besar berjumlah kurang lebih bernilai 25 milyar rupiah tersebut baru terpakai sekitar 12 milyar rupiah lebih-lebih tentang desas-desus untuk tambahan para tenaga medis yang khusus menangani covid-19 di pacitan akan mendapatkan tunjangan berdasarkan profesinya.

Hal tersebut di katakan oleh Rony Wahyono, Ketua Komisi II, DPRD Pacitan, ia mengatakan, bahwa kedatangan nya untuk menanyakan tentang bagaimana perkembangan Covid-19 dan kisaran anggaran yang sudah di gunakan untuk keperluan apa saja.

“Pada intinya kami ingin mengetahui perkembangan Covid-19, oleh karena itu kami ke Dinkes.untuk melakukan pemaparan. Jadi dari pemaparan ini ternyata sudah banyak yang di lakukan oleh Dinkes,” kata Rony, Rabu,(17/6/2020).

Terlebih, lanjut Rony Wahyono, pemaparan ini bukan hanya saja menanyakan tentang perkembangan saja, tidak hanya masalah kesehatan tapi juga bagaimana aspek sosial dan bagaimana juga ekonomi masyarakat.

“Tentunya kita tidak hanya menanyakan bagaimana tentang pelayanan kesehatan, tapi juga sosial dan bagaimana juga perekonomian masyarakat saat ini maka dari itu kita juga melakukan sidak ke berbagai dinas baik itu sosial, kesehatan dan juga dinas pariwisata,” terangnya

Adapun dari hasil sidak yang di lakukan oleh komisi II, tersebut untuk bisa mengetahui semua, bagaimana kaitannya di masyarakat Pacitan.

Terkait anggaran Covid-19 yang begitu besar di Dinkes, Rony mengatakan, bahwa saat sidak Dinkes,  ia sudah menyampaikan dan  menilai apa yang di lakukan oleh Dinkes sudah benar dan tepat sasaran tapi ada suatu masalah terkait keputusan dari pusat.

“Untuk anggaran tadi juga sudah di sampaikan, dan haruslah tertib administrasi dan juga masalah intensif tenaga medis masih ada kendala dari pusat karena tidak boleh dobel. Pusat sendiri saat di tunggu juga tidak kunjung datang keputusannya,” pungkas Rony Wahyono.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Hendra Purwaka, juga memberikan penjelasan terkait anggaran insentif untuk tenaga medis dan pihaknya juga masih menunggu keputusan dari pusat juga.

Lalu bagaimana status anggaran sebesar 5,5 milyar untuk tenaga kesehatan, yang berkiprah menangani pasien Covid-19 di Pacitan tersebut?

“Sebenarnya untuk insentif tenaga medis tersebut, kita juga masih menunggu hasil dari pusat, namun kita juga ada informasi tentang bayarnya tidak boleh lebih dari aturan pusat,” kata Hendra Purwaka

Tapi, nampaknya Dinas Kesehatan sendiri menurut kata Hendra Purwaka sudah menyediakan untuk tenaga medis. Bervariasi, karena harus menurut kreteria nya.

“Ya tergantung kreteria nya dari 1 juta rupiah untuk dokter, 750 ribu rupiah untuk paramedis dan 500 ribu rupiah untuk administrasi nya dan intensif itu akan di berikan selama tiga bulan” pungkas Hendragu. (RedG/Apri).

Tinggalkan Komentar