oleh

Kominfo Temukan 2.150 Hoaks Soal Vaksin Covid-19, Facebook Paling Sering

Jakarta – Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dedy Permadi menyatakan, hingga 22 Januari 2021, pihaknya telah menemukan sekitar 2.150 berita bohong alias hoaks mengenai vaksin Covid-19. Diataranya adalah terkait alat pelacak di dalam vaksin virus corona.

Menrutunya, penyebaran berita hoaks terkait Corona ini mulai melonjak setelah adanya program vaksinasi Covid-19 yang dimulai pada 13 Januari lalu. Sejak saat itu, kata dia, ada sekitar 1.372 isu hoaks mengenai virus corona. Sedangkan secara keseluruhan, ada 2.150 isu hoaks terkait vaksin virus corona.

“Salah satunya, video berdurasi 2.04 menit yang menyebutkan adanya alat pelacak di vaksin Covid-19,” ungkapnya seperti dikutip dari Katadata.co.id, Senin (25/1/2021).

Dedy menjelaskan, video tersebut menampilkan cuplikan penjelasan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir terkait barcode di kemasan vaksin. Konten ini, kata dia, diberi narasi bahwa tubuh orang yang disuntik vaksin Covid-19 akan tertanam alat pelacak.

Sementara berita hoaks lainnya, Dedy menyebutkan, yakni berupa pesan yang disebar ke media-media sosial seperti WhatsApp.

Untuk meminimalkan peredaran hoaks ini, Dedy mengatakan, pihaknya tengah berfokus meningkatkan literasi digital dan menggandeng kepolisian.

“Kami mendukung upaya kepolisian menegakkan hukum terhadap pelaku, pembuat dan/atau penyebar hoaks sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan riset Katadata Insight Center (KIC) dan Kominfo, hoaks yang tersebar di masyarakat paling banyak beredar melalui media sosial.

Ada sekitar 71,9% responden mengatakan bahwa Facebook merupakan media yang paling sering menyajikan isu hoaks dan berita bohong. Disusul oleh WhatsApp, YouTube, dan portal berita online masing-masing 31,5%, 14,9%, 10,7%. Kemudian Instagram dan televisi yakni 8,1% dan 7,7%. (RedG/Ong)

Komentar

Tinggalkan Komentar