Brebes – Siapa yang tahu kuliner khas Brebes? So pasti, telur asin dan bawang merah. Kali ini, Gnews Id bertemu dengan pelaku usaha kecil mikro menengah (UMKM). Pelaku UMKM tersebut inovasikan telur asin dan bawang merah menjadi kerupuk sehingga menjadi sukses dalam UMKM.

Dalam kesempatan ini, Gnews Id disuguhi produk krupuk telur asin oleh Ayuning. Saat kami (red-Gnews Id) mencicip kerupuk telur asin, rasanya itu gurih dan khas telur bebeknya masih terasa di lidah. Tekstur kerupuk, bulat kecil dan di tengah kerupuk ada warna kuning.

Salah seorang pelaku UMKM, Ayuning, 30 tahun, usaha yang digeluti mulai tahun 2019 dan merintis membuat produk tersebut identik khas Brebes serta diinovasikan menjadi kerupuk telur asin dan bawang merah.

“Praktek saya mengawali pembuatan produk kerupuk telur asin dari bulan Juli 2019. Awal merintis yaitu inovasi produk kerupuk bawang. Lalu, saya mengembangkan bisnisnya yang juga identik Brebes yakni kerupuk telur asin, “ungkap Ayuning, Jumat (19-6-2020) malam.

Diceritakan Ayuning, ia menceritakan awal mulai produksi kerupuk bawang merah dia mengikuti Program Keluarga Harapan (PKH) di bawah koordinasi Dinas Sosial Kabupaten Brebes sehingga dia bisa menjadi pelaku UMKM sejahtera.

“Awal mulai saya memproduksi kerupuk bawang, berawal dari aktifitas saya di PKH. Lalu, selanjutnya bertemu dengan teman UMKM yang sangat dinamis. PKH membuat saya dan teman UMKM lainnya mampu beralih dari keluarga pra sejahtera menuju sejahtera, “ujarnya.

Saat ditanya darimana ilmu kewirausahaan yang didapatkan, ia menjelaskan hanya ilmu yang dari mengikuti pelatihan kewirausahaan dan arahan langsung dari Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Brebes.

“Inspirasi dari saya sendiri. Lalu, saya belajar dan riset serta dukungan dan motivasi sesama pelaku UMKM. Riset saya jalani dengan bertanya pebisnis telur asin serta mengikuti pelatihan dari dinas terkait yang membawahi pengembangan UMKM,”paparnya.

Lebih lanjut, Ayuning mengatakan kewirausahaan yang dia tekuni sampai sekarang masih di bimbing oleh dinas dan sesama pelaku UMKM.

“Tidak lepas bimbingan dari pendamping UMKM Provinsi Jawa Tengah Perwakilan Brebes, Ka Daniel Afrianto. Bimbingan dari seseorang pegiat UMKM Brebes sekaligus pelopor kelompok UMKM Klubanostic yaitu Mas Tyo, “ungkapnya.

Proses dalam UMKM, Ayuning mengatakan inovasi produknya dari masa revisi sampai tahap memiliki resep paten.

“Meski pertama tampil masih banyak revisi rasa dan tampilan. Saat ini, kerupuk telur asin Ayuning sudah memiliki resep paten sehingga dapat menjaga cita rasa, ” katanya.

Usaha yang ditekuni Ayuning tersebut berhasil, buktinya, pemimat kerupuk telur asin dan bawang tidak hanya masyarakat Brebes saja. Bahkan, memiliki reseller di Pulau Jawa.

“Saat ini antusias tidak hanya masyarakat Brebes saja. Alhamdulillah produk kerupuk telur asin Ayuning dapat diterima oleh lidah banyak kalangan. Karena saat ini, sudah memiliki reseller di luar Pulau Jawa yakni Balikpapan, Banjarmasin, Medan, Manado, dan Makassar, “akunya

Sementara itu, Ayuning berpesan menjadi pengusaha kuncinya adalah semangat mencari ilmu, kerja keras, dan menerima kritikan dari oranglain.

“Bahwa saya yang dulu masuk dalam kategori keluarga pra sejahtera. Setelah masuk di PKH, mampu beranjak menuju keluarga sejahtera. Tentunya dengan kerja keras, semangat ingin belajar dan berani menerima masukan,”pesannya.

Selain itu, Ayuning juga berkeinginan mengembangkan usahanya dengan berskala besar sehingga dapat membuka lowongan pekerjaan.

“Saya ingin usaha kerupuk telur asin menjadi sebuah pabrik besar di Brebes sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja, “harapannya.

Saat Gnews.id menggali informasi tentang omset usahanya, ia menjelaskan dalam per bulan dapat mengantongi puluhan juta.

“Alhamdulillah. Usaha yg saya jalani sekarang punya omset rata-rata perbulannya 60 juta. Karyawan saat ini hanya empat orang saja, “ungkapnya.

Omset kecil maupun besar, lanjut Ayuning, ia menceritakan perjalanan yang berliku-liku dalam merintis UMKM. Saat itu, ia sedang mengikuti pelatihan cuma membawa uang untuk transportasi menuju Semarang.

“Saya selalu bersyukur diberi rejeki. Dulu awal peralihan dari PKH ke UMKM. Saya mengikuti pelatihan di Balatkop Semarang hanya bermodal uang 50 ribu untuk transportasi kereta api saja. Sesampai di tujuan, saya rela meminjam uang teman untuk naik ojek online dari Stasiun Tawang menuju Srondol, “ujarnya. (RedG/Dicky Tifani Badi).

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar