Brebes- Salah satu mahasiswi jurusan psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2015 ini mengaku suka kulineran terlebih pada makanan pedas. Hal ini diungkapkan perempuan asal Brebes kelahiran 12 Desember 1996, Nadya Winandari yang terobsesi memiliki sebuah rumah makan.

“Sebenarnya, tidak ada bakat usaha tetapi ada beberapa orang dan faktor yang mendorong buat bikin usaha, “kata Nadya, saat dihubungi Gnews.Id, Kamis (18-6-2020) siang.

Saat ditanya darimana ilmu kewirausahaan yang didapatkan, ia menjelaskan hanya ilmu yang dari mengikuti seminar kewirausahaan dan arahan langsung dari kekasihnya.

“Aku dapat ilmu dari seminar sih, sama doi yang ngajarin teknik dan memberikan semangat dalam perintisan usahanya, “akunya.

Tidak hanya sampai disini saja, ia memberanikan diri untuk membuka usaha kulineran di tempat kelahirannya.

“Awal usaha itu membuka Rujak Belut dan Geprek Sri Sondari di rumah. Saat itu, belum punya lapak tidak seperti sekarang. Kendala saat itu, orang-orang banyak yang tidak tau bawa saya buka, “jelasnya.

Menurut Nadya, tidak memiliki lapak menjadi kendala yang dihadapi dalam setahun ini. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap mengembangkan usahanya.

“Terus setelah setahun kita join sama kedai Paradigma sampai sekarang, ” ujar mahasiswi yang juga aktif di organisasi mahasiswa Brebes.

Ia menjelaskan, usaha geprek dan rujak belutnya tersebut akan diserahkan pada orang tua dan partner bisnisnya. Sekarang Nadya hanya fokus ke dunia sambal dan juga membuka warung di Kota Satria tersebut.

“Sekarang usaha di Brebes aku serahin ke orang tua sama partner dari pihak Paradigma. Aku lagi fokus ngrintis usaha aneka sambal “Mbak Ya”. Rencananya juga mau buat tempat makan di Purwokerto, “paparnya.

Dalam paparannya, Nadya mengungkapkan jika olahan sambal buatannya serta warung yang bakal dirilis tersebut akan diberi nama seperti nama produk sambalnya.

“Iya asli bikinan aku. lumayan suka pedas tetapi tidak banget sih. Tempat makannya juga nanti namanya Mbak Ya, “imbuhnya.

Dijelaskan, Perempuan pecinta kopi dan makanan pedas, ia akan tetap optimis dan inovasi dalam usahanya.

“Doain ya semoga cepat terlaksana kedai kopi dan warung makan. Soalnya, kedai kopinya masih milik pihak Paradigma. Aku belum mainan kopi, “ujarnya.

Saat disinggung mengenai inovasi apa yang akan ia konsep pada warungnya, Nadya masih merahasiakan dan tentunya akan ada konsep aneka sambalnya.

“Menu masih rahasia ya. Intinya, aneka sambal bakalan masuk di tempat makan ini. Saya kasih bocoran nih, harga nanti bersahabat banget buat kantong mahasiswa, “ungkapnya.

Saat Gnews.id menggali informasi tentang omset usahanya, ia menjelaskan dalam per hari dapat mengantongi sekitar 1 hingga 2 juta.

“Omset usaha untuk saat ini sedang turun, karena dampak dari covid-19. Normalnya kisaran 1 juta – 2 juta per hari terutama malam minggu. Ramai pengunjung, kedai biasanya mengadakan live musik. Semenjak pandemi omset menurun kisaran 500 ribu sampai 1 juta, “akunya.

Lebih lanjut, Nadya berproses dalam usaha bukan untuk ikut trending saja, tetapi optimis untuk membuka lapangan pekerjaan.

“Bukan karena mengikuti tren saja. Tetapi buat membuka lapangan pekerjaan yang sebenarnya. Cita-cita dari dulu seperti itu buka lapangan pekerjaan, melihat jumlah lowongan kerja sama orang yang mencari kerja banyakan orang yang cari kerja,” tutupnya. (RedG/Dicky Tifani Badi)

Tinggalkan Komentar