Pemalang – Kirab Merah Putih, Apel Kebangsaan dan tausiyah kebangsaan digelar dalam rangka memperingati Hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 Tahun 2018, yang dipusatkan di alun-alun kecamatan Moga.

 

Prosesi yang dimulai dari pendopo kabupaten Pemalang pada pukul  08.15 wib,  penyerahan Bendera Merah putih dari Habib Luthfi kepada Bupati Pemalang, kemudian diserahkan kepada Pemuda KNPI Kabupaten Pemalang dan diserahkan kepada Personil Kodim 0711/Pml. Bendera di kirab  dari   depan pendopo Kabupaten Pemalang melalui  Jl. A.Yani – Jl. Gatot Subroto – Jl. Di Panjaitan – Jl Raya Bantarbolang – Jl. Raya Randudongkal – Jl. Raya Moga – Lapangan Moga. Sampai di Moga peserta Kirab bergabung dengan peserta festival merah putih yang berada di PTP IX Semugih.

Peserta Kirab berjalan dari PTP IX Semugih menuju ke alun-alun kecamatan moga. Pawai yang menampilkan kreativitas seni, semangat perjuangan dan mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa ditampilkan untuk menghibur masyarakat yang menonton di kanan kiri ruas jalan tersebut.

Dibuka dengan penampilan Drumband dari kesatuan Batalyon Infanteri 407/Padma Kusuma  (Yonif 407/PK) dari Ujung Rusi, Slawi, Tegal. Dilanjutkan dengan drama Kolosal dari Lentera teater SMAN 1 Moga yang membawakan kisah perjuangan diawal awal kemerdekaan.

Apel kebangsaan dengan Inspektur Upacara bupati Pemalang H. Junaedi didahului dengan pengibaran Bendera sebanyak 17 bersama-sama yang dikibarkan oleh Bupati Pemalang H. Junaedi, S.H., M.H., Dandim Pemalang Letkol Inf Edy Supriyadi, S.S., M.M., M. Tr. (Han), Kapolres Pemalang diwakili oleh Wakapolres Pemalang Kompol Malpa Malacoppo S.H., S.I.K., M.I.K., Dan Satradar 214 diwakili Mayor Hartono, Dan Lanal Tegal Letkol Laut Agus Haryanto, S.E., M.Tr (Han), Habib Luthfi bin Yahya dari Kota Pekalongan, Forkompinda kabupaten Pemalang, Perwakilan FKUB, pemuda dan komunitas

Dalam amanatnya bupati Pemalang mengajak keseluruhan masyarakat Pemalang untuk bersyukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Yang telah mengkaruniakan kepada kita bangsa yang merdeka
17 Agustus 1945, momentum sejarah yang tak akan pernah terlupa oleh rakyat Indonesia. Momentum sejarah yang selalu menjadi buah cerita untuk anak-anak bangsa. Karena Indonesia adalah cerita yang berbeda, Sebuah negara yang lahir bukan karena hadiah dari kaum yang menjajahnya, Kita adalah bangsa yang berdaulat dengan segenap usaha, yang berdarah-darah untuk menggapai merdeka.” kata bupati dalam amanatnya.

Selain itu kebhinekaan bangsa Indonesia merupakan suatu keniscayaan yang harus kita terima. Perbedaan suku, ras antar golongan merupakan suatu kebhinekaan yang ika yang dipunyai bangsa Indonesia, oleh karena itu kebhinekaan bukanlah suatu sekat bang memisahkan bangsa Indonesia.

“Kemajemukan kita sebagai sebuah bangsa memang sedang dicoba, Identitas seakan menjadi sekat ditengah pluralitas, kita seakan lupa bahwa para pendiri bangsa berasal dari Ras yang berbeda. Bung Karno dan Bung Hatta sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tentu berduka, melihat kondisi kita tercerai-berai sebagai sebuah
bangsa, hanya karena ego yang mementingkan golongannya saja.” sambung bupati dalam amanatnya.

Acara di tutup dengan tausiyah kebangsaan oleh Habib Luthfi Bin Yahya. (RedG)

Tinggalkan Komentar