oleh

Kidung Pena: Harmoni Puisi dan Digitalisasi

Penulis : Elma Abda Sakinah  (SMAN 1 Pemalang)

Pemalang – Sore itu matahari mulai memendarkan cahaya jingga. Seorang Guru Bahasa Indonesia duduk di taman depan ruang kelas. Sebuah foto ditunjukannya: lanskap hutan, dua anak laki-laki dan lima perempuan duduk berjajar. Sebuah foto yang mengantarkan pada kisah panjang komunitas sastra  bernama Kidung Pena. Kisah itu menggelitik pendengarnya untuk kemudian  menjelajah lebih jauh. Berselancar mencari sepenggal akun Instagram yang  sama dengan isi cerita: @kidungpena. Rupanya cerita itu bukan isapan jempol belaka. Akun Kidung Pena di jagat maya benar-benar ada, lengkap dengan unggahan karya yang menjadi rekam cerita, sekaligus memantik tanya banyak tanya. Bagaimana komunitas ini dapat terbentuk? Apa motivasi untuk membentuk komunitas ini? Juga, bagaimana  kabar komunitas tersebut hari ini?

Segala pertanyaan tersebut terjawab ketika Bu Dewi, sang empunya cerita, dengan  senang hati memberikan kontak para perintis Kidung Pena. Lugas, Jihan, Naufal, dan Dewinta. Nomor-nomor yang ternyata bukan sekadar nomor. Nomor tersebut menjadi pengait mereka. Waktu dan jarak rupanya sudah tak berlaku bagi guru dan pendiri komunitas tersebut. Dari cara mereka berkomunikasi, terasa kedekatan dan kehangatan yang tak lekang oleh keadaan. Hal tersebut terbukti ketika mereka berkomunikasi melalui tatap maya via zoom. Seakan tidak ada
canggung khas siswa dan guru. Mereka berbincang layaknya kawan lama.

Para penggagas Kidung Pena rupanya merupakan pribadi hangat yang tak segan berbagi pengalaman. Jihan, misalnya. Dengan antusias, ia bercerita bahwa sejak awal, mereka memiliki angan untuk merubah pandangan banyak orang perihal sastra. Menurut Jihan, “sastra itu bebas tidak eksklusif”. Dengan adanya sastra, kita dapat memiliki pandangan yang luas, tak terpaku oleh idealis dalam diri. Karya sastra merupakan pintu, dan pembacanya adalah tamu yang  berkunjung.

Persahabatan para pendiri Kipen, begitu para anggota komunitas biasa menyebut, bermula di tahun pertama mereka duduk di SMA. pada saat itu, mereka memiliki kesempatan mengikuti ajang FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional). Saat sesi sambutan pada pembukaan, tutur Jihan, seseorang menyampaikan, “talenta dan pengalaman yang kalian dapatkan, jangan sampai berhenti pada diri kalian sendiri”. Melalui sambutan itu mereka pun  kian termotivasi untuk mendalami karya sastra. Mereka bahkan sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan sekolah, berharap sekolah berkenan memberikan ruang semacam ekstrakurikuler atau semacamnya pada minat mereka itu.

Sayangnya, di tahun itu pihak sekolah belum mengakomodasi keinginan mereka itu. Mereka sempat putus asa. Namun, itu tidak lama. Penolakan sekolah akhirnya memantik gagasan baru: membuat sebuah komunitas mandiri. Setelah berdiskusi panjang, mereka sepakat meminta bantuan Bu Dewi untuk bersama-sama membentuk sebuah komunitas kecil. Hingga pada akhirnya, komunitas tersebut diberi nama “Kidung Pena”.

Baca Juga  Kemendikbud : Upacara  Hardiknas 2020 Melalui Siaran Langsung di Youtube

Ada kisah lucu di balik lahirnya nama Kidung Pena. Waktu itu, anak-anak mengadakan pertemuan pertama dengan adik kelas dan anggota baru lainnya. Namun, ternyata yang datang hanya sedikit orang. Itu pun kemudian bubar dan menyisakan satu orang saja.

“Namanya Mailya. Anak itu sekarang kuliah di Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman). Ketika para perintis Kipen putus asa karena para member bubar, mereka akhirnya meminta Mailya untuk memcetuskan nama komunitas. Mailya pun mengusulkan nama Kidung Pena. Nama itu langsung diterima dan setelah itu, mereka langsung pulang,” kenang Bu Dewi sambil tertawa.

Kidung Pena dibentuk dengan tujuan sebagai wadah bagi siswa-siswi yang ingin mengembangkan potensinya di bidang sastra. Melalui talenta, mereka ingin menyumbangkan sebuah perubahan. Puisi yang pada masa itu masih awam bagi masyarakat di kampung halaman mereka, sangat sulit untuk dikembangkan. Membentuk suatu komunitas mandiri juga bukanlah hal yang mudah. Dari awal pembentukannya, Kidung Pena beberapa kali mengalami kesulitan.

Lugas, selaku ketua Kidung Pena sangat ingin seluruh anggotanya bisa berusaha menangani  segala permasalahan yang ada dan mengusahakan yang terbaik untuk Kidung Pena.

“Kita dulu bahkan ga dikasih basecamp dari pihak sekolah, tapi untungnya Lugas jago
nge-lobby, jadinya kita bisa punya basecamp sendiri”, ungkap Jihan.

Tak hanya itu, di awal-awal Kidung Pena terbentuk, mereka harus melakukan promosi mandiri, mengupayakan segala cara agar Kidung Pena bisa menarik lebih banyak orang untuk bergabung. Nyatanya, mencari anggota baru tidak semudah yang dibayangkan, karena pada saat itu minat warga sekolah terhadap sastra masih kurang. Awalnya Kidung Pena juga kesulitan untuk menyimpan buku-buku yang mereka miliki. Fasilitas untuk menyimpan buku pun tak ada, bagaimana mereka bisa sangat yakin untuk melanjutkan komunitas ini?

Namun Kipen adalah Kipen, komunitas siswa berkemauan keras dan bodo amat pada penolakan sekolah. Dengan segala cara, mereka harus mempertahankan komunitasnya, agar suatu saat komunitas mereka bisa lebih dikenal, menarik, dan bermanfaat bagi banyak orang. Mereka rutin berkegiatan sepulang sekolah, sepekan atau dua pekan sekali. Beragam agenda mereka lakukan meski anggotanya datang dan pergi. Banyak hal yang mereka diskusikan. Mulai dari bedah puisi, cara membuat puisi, hingga memgikuti berbagai kompetisi penulisan karya
sastra di media sosial.

Perlahan waktu berlalu. Para pendiri Kidung Pena akhirnya dinyatakan lulus dari SMA. Mereka kembali menatap realita: melanjutkan ke perguruan tinggi. Siapa sangka ketika mereka berhasil masuk ke perguruan tinggi, minat mereka pada puisi tak hilang. Semangat mereka semakin membara, mengingat seluruh perjuangan yang tak mungkin disia-siakan begitu saja. Masih dengan tujuan yang sama, mereka ingin memperkenalkan sastra kepada masyarakat luas, tetapi kali ini dibantu oleh jejaring media sosial dan relasi yang mereka bangun di kampus
mereka masing-masing.

Baca Juga  PPGS Gelar BaksosTrabas Adventure

Kidung Pena perlahan mengembangkan sayapnya. Mereka mulai memperkenalkan Kidung Pena melalui acara sosialisasi yang diadakan oleh perguruan tinggi. Di acara tersebut, mereka membawakan pembacaan puisi. Tak dinyana, pentas baca puisi tersebut ternyata memukau banyak orang. Reaksi positif penonton pun mereka anggap sebagai awal sebuah proses baru. Sayap sudah berkembang, Kidung Pena siap untuk terbang lebih jauh. Mereka bahkan bersepakat untuk melupakan luka dari sekolah. Dengan atau tanpa izin sekolah, Kidung Pena
akan terbang dengan caranya.

Kidung Pena berani untuk bangkit bersama para pendiri dan anggota yang terus bertambah. Perkembangan komunitas tersebut sepenuhnya berdasar pada satu hal: talenta dan kecintaan terhadap sastra. Mereka juga mengoptimalkan media sosial untuk memperkenalkan sastra kepada masyarakat. Melalui akun media sosial, mereka seringkali melakukan siaran langsung bersama beberapa narasumber ternama. Program yang dilakukan Kidung Pena hampir semuanya didukung oleh media sosial, seperti tadarus puisi saat bulan Ramadhan, perayaan
bulan bahasa, serta pentas bebas membaca puisi. Kekuatan digitalisasi kehidupan berhasil
membantu Kidung Pena meraih mimpinya. Kidung Pena bahkan sempat menjadi inisiator sebuah
demonstrasi di Kabupaten Pemalang, ketika pada saat itu organisasi-organisasi besar tidak
memiliki inisiatif, justru Kidung Pena yang hanya sebuah komunitas berhasil mengumpulkan
massa sebanyak itu.

Jungkir balik Kidung Pena membuat kita sadar bahwa digitalisasi tidak selamanya  membawa dampak buruk. Digitalisasi justru menguntungkan Kidung Pena untuk mengembangkan namanya lebih jauh. Tujuan mereka untuk mengubah pandangan masyarakat luas dan membentuk karakter yang cinta terhadap sastra sudah hampir terealisasikan. Bersama 566 pengikut di akun Instagram, Kidung Pena siap menjadi agen perubahan.
Kidung Pena bukan sekadar komunitas. Lebih dari itu, Kidung Pena adalah rumah.

Rumah bagi pecinta sastra sekaligus pelepas penat setelah seharian belajar dan bekerja. Kidung
Pena juga memberikan ruang bagi anggotanya untuk berekspresi. “Solidaritas dan kekeluargaan di dalam Kidung Pena tak pernah saya rasakan berubah. Kami tak pernah kesulitan untuk saling terhubung dengan segera. Dengan atau tanpa label komunitas, saya harap para pendiri dan anggota Kidung Pena bisa menjadi pecinta sastra yang
jujur, inspiratif, dan tidak pelit berbagi ilmu,” tutur Bu Dewi. (RedG/*)

Komentar

Tinggalkan Komentar