Foto bersama, peserta penguatan pendidikan inklusi Depag

Semarang- Dalam rangka implementasi Proyek Realizing Education’s Promise: Support to Indonesia’s Ministry of Religious Affairs for Improved Quality of Education (Madrasah Education Quality Reform) IBRD Loan Number 8992-ID Tahun Anggaran 2020 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menyelenggarakan kegiatan Penguatan Kapasitas Pendidik Inklusi Angkatan I, para peserta yang hadir dari berbagai kabupaten sangat antusias dalam mengikuti kegiatan yang digelar di Hotel Pandanaran selama lima hari.

Acara yang digelar pada 5-9 November 2020 di Semarang dibuka pada pukul 09.00 WIB.

Dalam sambutannya, Agus Mahasin yang kini menjadi kepala seksi guru bidang pendidikan madrasah menyatakan bersedia untuk mengawal pendidikan inklusi di Jawa Tengah.

Bahkan, Agus Mahasin meminta untuk dimasukkan dalam grup whatsapp yang dihuni para peserta pelatihan inklusi.

Pelatihan ini dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dimulai dengan pre test terlebih dahulu.

Harapan dari panitia ini dengan adanya pre test ini, kita dapat mengetahui pengetahuan para peserta tentang pendidikan inklusi.

Lalu dilanjutkan dengan serangkain materi lainnya seperti sejarah inklusi, landasan hukum, isi, dan lain sebagainya.

Di tengah-tengah acara, Siti Sakdiyah selaku Kasubdit Bina GTK RA menyatakan dukungan terhadap acara Penguatan Kapasitas Pendidik Inklusi.

Lebih lanjut, Siti Sakdiyah juga berharap, madrasah di Jawa Tengah banyak yang bersedia untuk menjadi madrasah inklusi. Karena di tahun 2016 Direktorat Pendidikan Islam baru menetapkan 22 madrasah di Indonesia sebagai penyelenggara madrasah inklusi, diantaranya di Jawa Tengah ada enam madrasah.

Satu hari menjelang acara selesai, Muhamad Zain selaku direktur GTK mengatakan pelatihan harus diadakan untuk melatih kompetisi guru sehingga kualitas madrasah meningkat.

“Pelatihan bagi guru penting dilakukan karena kualitas madrasah ditentukan oleh para guru, “kata Muhamad Zain.

Selain itu, Muhamad Zain mengatakan sekolah yang memiliki murid ABK (anak berkebutuhan khsusu) guru untuk lebih fokus dalam penanganan yang khusus.

“Guru-guru yang mempunyai perhatian lebih kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah guru yang luar biasa, “imbuh dia.

Sementara itu, kegiatan pelatihan tersebut dimulai dari dihadiri guru, kapala sekolah, dan pengawas ini diisi oleh Tim Treiner dari LP.

Ma’arif PWNU Jawa tengah yang beranggotakan Supriyono berasal dari MI Keji yang sudah mendapat SK sebagai Madrasah Inklusi, Irma Listiyana adalah Pengawas SLB Jawa Tengah, dan Siti Nurhidayati adalah seorang dosen.

Diakhir acara para treiner berharap agar peserta tidak hanya semangat saat di dalam pelatihan. Namun, juga setelah pulanng dalam pelatihan harapannya para peserta dapat menyebarkan pengetahuan inklusi kepada para pendidik dan harapan lebihnya dapat membuat madarah yang di tempati dapat menerima siswa ABK.(RedG/Dicky Tifani Badi)

Tinggalkan Komentar