oleh

Integritas Dalam Berpemilu dan Pentingnya Berliterasi Yang Baik di Media Sosial

Penulis : Sri Yuniarti, S.Pd. (Guru SMP N 6 Sungaiselan)

Bangka Tengah – Pada masa digitalisasi yang terus berkembang dengan cepat hingga saat ini, penyebaran hoax terkait informasi Pemilu 2024 menjadi tantangan yang serius di banyak negara, khususnya Indonesia. Penyebaran hoax sangat berpotensi merusak integritas Pemilu 2024 serta seringkali menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat Indonesia. Penyebaran hoax terkait informasi Pemilu 2024 memiliki dampak yang sangat fatal karena dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat dalam sistem pemilihan umum di Indonesia. Ketika informasi hoax menyebar luas di banyak media sosial, masyarakat khususnya yang masih minim literasi akan kebingungan dan kehilangan kepercayaan terhadap calon partai politik dan calon presiden dan wakil presiden yang sebenarnya memiliki rekam jejak yang baik dan memiliki kontribusi yang baik untuk masyarakat Indonesia. Hal tersebut bisa mempengaruhi perubahan persepsi masyarakat dan bisa mempengaruhi hasil pemilu secara keseluruhan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, literasi sangat berperan penting untuk membantu masyarakat Indonesia dalam meningkatkan pemikiran kritis dalam mengevaluasi informasi-informasi yang mereka terima di media sosial. Lewat literasi, masyarakat dapat mengidentifikasi, memeriksa sumber informasi dan menganalisis konteks dari informasi tersebut sebelum dibagikan di media sosial. Kemampuan berliterasi yang baik juga meningkatkan kemampuan untuk memahami statistik, bisa memilah-milah antara fakta dan opini serta menghargai berbagai macam interpretasi dari masyarakat yang berbeda pandangan.

Untuk bisa meningkatkan literasi, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan. Pertama, pendidikan literasi harus terintegrasi dalam kurikulum pendidikan formal di Indonesia, mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Siswa perlu diajarkan tentang pentingnya melakukan verifikasi informasi, analisis kritis dan etika digital, khususnya ketika berinteraksi di media sosial. Selain itu, kampanye kesadaran publik perlu dilakukan untuk mendidik masyarakat tentang bahayanya penyebaran informasi hoax serta memberikan panduan praktis dalam menghadapinya. Dengan meningkatkan kemampuan berliterasi yang baik, diharapkan masyarakat Indonesia bisa membedakan antara informasi yang sudah tervalidasi secara akurat dengan informasi yang bersifat hoax, melindungi integritas Pemilu 2024 dan memastikan partisipasi yang cerdas pada proses demokrasi. Oleh karena itu, penting untuk terus mendorong pengembangan literasi yang kokoh demi membangun masyarakat Indonesia yang lebih kritis dan memiliki kemampuan analitis yang baik.

Dengan masifnya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia perlu disertai dengan pemahaman dan kecerdasan yang baik supaya tidak terjebak dalam berita bohong atau hoaks. Masyarakat di Indonesia dapat memaksimalkan pemanfaatan kecanggihan teknologi informasi, termasuk media sosial, dengan beradab dan beretika. Sekitar 73,7 persen atau tidak kurang 204,7 juta orang dari total 277,7 juta penduduk Indonesia dinyatakan sebagai pengguna internet. Terdapat sekitar 191,4 juta orang di Indonesia menjadi pengguna media sosial. Jumlah yang sangat besar itu mengindikasikan Indonesia berada dalam era revolusi teknologi informasi.

Sejak pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi selama dua dasawarsa terakhir, dunia mengalami guncangan hebat. Harus diakui, kehadiran internet telah banyak membuka cakrawala kita akan banyak hal yang ada di sekitar, bahkan di belahan bumi nun jauh di sana. Seperti bola salju yang menggelinding dan terus membesar, internet dan segala sesuatu tentangnya terus berkembang, melahirkan kreativitas tanpa batas. Rasanya, apapun yang berbau digital kini menunjukkan tajinya. Terbukti, banyak kesuksesan abad ini, lahir dari kemampuan mereka mengelola dunia maya.

Baca Juga  Catatan Kritis Penegakan Hukum di Indonesia Selama Tahun 2020

Digitalisasi, harus diakui telah merajai dunia. Perlahan tapi pasti, mengalihkan dunia konvensional. Kita seperti dipaksa memilih untuk ikut bermetamorfosis, atau tergilas oleh kemajuan. Lihat saja di sekitar, nyaris tak ada lagi koran atau radio yang bertahan. Setelahnya, warung dan toko juga perlahan mulai berjualan online. Bahkan kini, sejak Pandemi Covid-19 melanda dunia, berbagai aktivitas tatap muka pun berubah menjadi tatap maya, demi menjaga eksistensi dan pentingnya kegiatan.

Sulit dipungkiri bila hari ini media sosial kita kerap hadir dengan wajah ganda, postingan-postingan yang ada tak selalu seiring dengan adat ketimuran dan kebiasaan pergaulan sosial kita. Sebaliknya, ia kadang kala berisi kebencian dan fitnah. Wajah media sosial hari ini berpotensi menyesatkan mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman akan lika-likunya yang relatif penuh dengan hal baru. Tak salah bila ada yang menyebut bahwa media sosial mirip seperti tempat sampah. Beragam konten negatif bisa kita temukan, termasuk akun-akun palsu yang punya tujuan beragam.

Wajah buruk media sosial kian bertambah pada berbagai momen besar yang melibatkan banyak orang, seperti pemilihan umum dan even-even publik lainnya. Tentu masih segar dalam ingatan kasus Cambridge Analytica yang pernah dituduh memanfaatkan data facebook untuk kepentingan Kampanye Pemilihan Presiden Amerika tahun 2018 silam. Ada juga “tren” buzzer yang sudah menjadi rahasia umum. Sulit pula rasanya membantah peran media sosial dalam memperbesar polarisasi Cebong dan Kampret dalam Pemilihan Presiden 2019 silam.

Pada wajah lain, media sosial adalah tempat belajar gratis yang sarat ilmu. Sulit dinafikan bahwa banyak grup-grup media sosial yang juga menjadi sarana positif di berbagai bidang, mulai dari forum jual beli, berbagi informasi, bahkan tips -tips penting yang sulit kita temui di sekitar. Setidaknya, ada beberapa kawan saya yang banyak terbantu profesinya sebagai penyedia jasa perbaikan elektronik dan komputer berkat grup-grup media sosial. Termasuk saya juga banyak belajar dan mendapatkan pengetahuan baru dari para pakar melalui media sosial mereka.

Saat ini, berbagai instansi pemerintah juga telah memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari pusat informasi dan pelayanan publik, cara tersebut dinilai cukup efektif dibandingkan bila menggunakan website biasa. Wajar pilihan itu diambil. Berdasarkan Laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia per bulan Januari 2022 mencapai 191 juta. Jumlah itu meningkat 12,35% dibandingkan tahun 2021.

Gambaran singkat yang penuh paradoks di atas jelas membuat kita semua harus berpikir lebih terbuka, kreatif, tidak hitam putih atas media sosial hari ini. Kata kuncinya adalah, media sosial adalah alat, sarana atau media. la relatif bebas nilai dan sangat tergantung pada para penggunanya.

Saya kira kita juga tahu, bahwa sebenarnya media sosial itu juga punya batasan-batasan. Meski nilai dan norma yang berlaku bisa saja tidak berbanding lurus dengan budaya kita, namun setidaknya para pengguna masih diberikan fitur untuk melaporkan akun atau postingan tertentu yang mengganggu. Bukan Sekadar Literasi

Baca Juga  Lindungi Anak dari Covid-19

Kampanye literasi bukanlah sesuatu yang baru. Kita semua tentu bergembira bila belakangan hal itu kian gencar disuarakan banyak pihak, yang peduli pada dunia pendidikan, baik secara formal sesuai kurikulum pendidikan sekolah, atau yang non- formal dengan menggunakan metode-metode pilihan mereka. Apapun bentuk dan jenisnya, perhatian terhadap dunia literasi jelas harus diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, sebagai bagian dari partisipasi kita dalam mendorong peningkatan sumber daya manusia di wilayah masing-masing.

Secara umum, tentu kita pun akan cenderung sepakat, bahwa konten dan konteks adalah dua hal yang sama pentingnya. Hal itu adalah modal penting bagi siapapun yang menggunakan internet dan bermedia sosial, termasuk dalam memilih informasi.

Lebih teknis, sumber informasi hendaknya disaring berdasarkan filter-filter pengetahuan, dengan memperhatikan latar belakang, seluk-beluk sumber, serta penulis atau kreatornya. Sebagai contoh, pemilihan media pemberitaan yang kredibel bisa dilihat dari status mereka pada Dewan Pers, yang tentu akan diikat oleh etika jurnalistik.

Pada sisi lain, saya melihat bahwa tantangan beratnya adalah ketika kita dihadapkan pada media sosial dan kekuatannya, yang kini dihuni oleh ratusan juta pengguna. Mau tidak mau, dunia literasi harus mampu beradaptasi, bukan sekadar melek huruf atau angka, dan persoalan karakter belaka. Literasi digital harus naik kelas. Hal itu disebabkan karena dunia media sosial cenderung bebas nilai, sehingga lebih kompleks.

Lebih jauh, penting untuk diketahui, bahwa dunia digital yang saling terintegrasi itu akan merangkai siapapun yang menggunakannya pada sebuah sistem besar. Sebagai pengguna, jejak perjalanan kita tidak akan serta merta hilang, bahkan berpotensi dapat terus “dimanfaatkan”.

Serta merta, atau dalam jangka panjang, kita bukan hanya akan terus saling terkoneksi, namun terus “dipantau” oleh mereka yang punya akses atas sistem yang kita gunakan. Contoh sederhana atas masalah yang dimaksud bisa anda lihat ketika membuka aplikasi toko online dan mencari sepatu merk tertentu, maka iklan sepatu tersebut kelak akan muncul juga di halaman media sosial atau peramban kita, meski sebelumnya kedua aplikasi itu tidak pernau ditautkan.

Lalu kita harus bagaimana? Apakah dunia digital serumit itu ? bisa ya, bisa tidak. Segala sesuatu akan tampak sulit karena kita kadangkala tak punya cukup waktu untuk belajar, dan tak punya keinginan membuka cakrawala. Sebaliknya, juga akan tampak mudah karena dalam banyak hal sesungguhnya kita cukup sering mempelajari hal baru, dan dalam waktu singkat ternyata kita bisa. Kuncinya adalah rasa ingin tahu, serta ada media atau sarana untuk belajar, termasuk mau bertanya.

Klise memang, sebagaimana berbagai alat atau sarana lain dalam kehidupan sehari-hari, maka, media sosial pun demikian. la sangat tergantung pada penggunanya, serta seberapa paham dan mampu kita menggunakannya. Jangan terbiasa mencari kambing hitam, atau menyalahkan wajah ganda yang sepertinya niscaya ada pada diri kita. (RedG)

 

Komentar

Tinggalkan Komentar