Boyolali – Realitas peta politik di Kabupaten Boyolali kini secara perlahan tampak mulai berubah arah anginnya. Hasil dari survey PollingKita.com justru kini menunjukkan pilihan Kotak Kosong unggul telak dari pasangan calon (Paslon) tunggal M Said Hidayat-Wahyu Irawan.

Menurut hasil survey PollingKita.com terakhir, pasangan M Said Hidayat-Wahyu Irawan hanya meraih 14,9 %, sedangkan Kotak Kosong menang telak dengan meraih 85,1 % pada hari Senin, 9/11.

Kemenangan Kotak Kosong dalam survey PollingKita.com ini telah menarik dan menjadikan perhatian serius bagi masyarakat grassroot di Kabupaten Boyolali, salah satunya Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Kabupaten Boyolali.

Menurut Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Kabupaten Boyolali, Suprapto mengatakan bahwa kini pengaruh Bupati Boyolali Seno Samodro yang akan habis masa jabatannya pada 16 Februari 2021 ke depan tampak mulai memudar. Pelan-pelan dan pasti, mayoritas rakyat Boyolali secara diam-diam sudah ingin lepas dari belenggu oligarki saat ini.

Para mantan Aparat Sipil Negara (ASN), mantan vb, Kepala Desa serta mantan Aparat pemerintah desa banyak yang menginginkan ada perubahan iklim politik di Kabupaten Boyolali.

Di arus bawah pun kini sudah banyak muncul gerakan Kotak Kosong yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh masyarakat grassroot di Kabupaten Boyolali. Bahkan kabarnya para ASN, Kades dan perangkat desa sudah terpecah dan mulai kesal dengan adanya keharusan dukungan mensukseskan serta mendukung Paslon tunggal ini.

Para ASN, Kades dan perangkat desa yang semestinya netral sebagaimana Undang-undang, dalam hati mereka sebenarnya sangat keberatan untuk mendukung Paslon tunggal ini, cuma mereka lewat cara diam-diam dan tidak berani dengan bersuara secara lantang.

Ingin Netral

Menurut Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Kabupaten Boyolali ada sinyalemen yang kini mulai tampak, para ASN, Kades dan perangkat desa banyak yang ingin perubahan karena Bupati Seno Samodro sudah tidak bisa maju lagi karena sudah dua kali periode dari masa jabatannya. Para ASN, Kades dan perangkat desa sudah banyak yang tahu bahwa 16 Februari 2021 adalah masa akhir jabatan Seno Samodro sebagai Bupati Boyolali. Sehingga wajar bila menilai hasil survey di PollingKita.com yang memenangkan Kotak Kosong merupakan keinginan rakyat supaya kedepan ada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Boyolali yang di drop dari propinsi, maka kehidupan politik di Kabupaten Boyolali akan terasa lebih baik dan netral.

“Banyak yang sadar bila Kotak Kosong menang, maka para ASN, Kades dan perangkat desa serta rakyat Boyolali akan punya kehidupan politik yang normal, sehat dan netral tanpa rasa cemas serta ketakutan dengan yang memimpin Boyolali untuk lima tahun ke depannya. Ikuti arus dulu saja saat di tekan sana-sini, yang penting kuncinya nanti 9 Desember 2020, “ujar Suprapto selaku Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Kabupaten Boyolali.

Tinggalkan Komentar