oleh

Guru Professional yang Berpihak Pada Peserta Didik

Tegal -Guru professional itu adalah guru yang bisa menempatkan posisi, situasi dan kondisi sesuai dengan keadaan serta kondisi peserta didik. Guru professional mampu menerapkan Case-Based Learning. Apa itu CBL? Case Based Learning (CBL) adalah pembelajaran berbasis kasus yang berupa cerita tentang situasi aktual atau realistis dan mempersyaratkan siswa untuk memiliki pengetahuan sebelumnya sehingga dapat menyelesaikan kasus yang ada. Tujuan utama dari case-based learning adalah membangun empati dan nalar kritis peserta didik. Level kognitif pada taksonomi Bloom di model pembelajaran ini adalah level analisis dan evaluasi. Format pembelajaran yang terjadi di kelas tidak lagi ceramah panjang, tetapi proses konfirmasi, diskusi, dan bahkan debat. Dalam hal ini saya menerapkan perubahan tentang pendidikan yang berpihak pada peserta didik dan memerdekakan peserta didik dalam pendidikan abad 21 dengan sekolah mitra di SMP Negeri 2 Talang.

Change Project Pendidikan Berpihak Pada Peserta Didik dalam Pendidikan Abad-21

Strategi penerapan merdeka belajar

  • Pemahaman untuk memfasilitasi kebutuhan peserta didik
  • Topik penerapan dan strategi pendidikan sesuai KHD.
  • Penerapan student center learning
  • Memanfaatkan teknologi yang tersedia

Strategi Pembelajaran

  • Penerapan merdeka belajar
  • Pembelajaran berdiferensiasi
  • Memfasilitasi agar peserta didik tumbuh sesuai fase
  • Pembelajran yang berpihak pada peserta didik

Proses Pembelajaran

  • Guru melakukan asesmen diagnostik
  • Guru menampilkan video terkait pelajaran dan diselingi dengan ice breaking
  • Guru mebuat game pertanyaan melalui Kahoot dll
  • Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok sesuai dengan gaya belajar
  • Peserta didik menampilkan hasil karya sesuai dengan keahliannya,
  • Guru memberi kesimpulan terkait materi
  • Guru memberi post test yang sesuai dengan materi Guru dan peserta didik

Penerapkan pembelajaran CBL di SMP Negeri 2 Talang

Baca Juga  Akhirnya Forum Pendidik Madrasah Inklusif Jawa Tengah Dideklarasikan

Hal pertama yang dilakukan saya sebagai guru adalah melakukan asemen diagnostik. Asesmen diagnostik merupakan penilaian awal yang dilakukan sebelum proses pembelajaran untuk mengetahui kemampuan kognitif dan non kognitif peserta didik dalam materi yang akan di sampaikan.  Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 2 Talang pada kelas 9E diperoleh data yang bervariasi mengenai gaya belajar dan juga tingkat pemahaman peserta didik. Hasil test ini digunakan sebagai dasar awal pengelompokan minat dan juga gaya belajar peserta didik.

Selain itu, dalam proses pembelajaran menggunakan stimulus dari kehidupan sehari-hari. Hal ini membantu peserta didik lebih mudah menerima kegiatan pembelajaran serta lebih cepat mengerti terhadap materi yang disampaikan dan dapat menyelesaikan kasus dengan tepat. Pembelajaran CBL bisa meningkatkan keaktifan peserta didik didalam kelas yaitu dengan menciptakan kelas yang aman dan nyaman untuk peserta didik serta model pembelajaran bervariatif dan kreatif. Dalam penerapannya saya menggunakan model pembelajaran TGT tipe Kooperatif.

Pembelajaran abad-21 sebagai guru perlu untuk mengenalkan teknologi didalam pembelajaran. Pengenalan teknologi ini memiliki tujuan untuk menyelaraskan dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan perubahan zaman, dimana teknologi sangat berpengaruh dan penting dalam perkembangan pendidikan dan sebagai upaya untuk daya saing global.

SMP Negeri 2 Talang sudah menerapkan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Hal ini karena proses belajar mengajar berdasarkan kebutuhan dan minat anak (Oemar Hamalik,2004:201) .Guru disini berperan sebagai fasilitator untuk membantu peserta didik dalam belajar memahami materi atau meluruskan konsep. Pembelajaran digunakan menggunakan kurikulum merdeka yang mana implementasi pembelajaran berdiferensiasi sudah dilaksankan. Berdasarkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan, pembelajaran berdiferensiasi sangat membantu peserta didik dalam belajar hal ini terlihat keantusian siswa dan keaktifan siswa pada saat proses pembelajaran. Peserta didik lebih mudah memahami dan juga mendapatkan ilmu bari dari kelompok lain dengan gaya belajar yang berbeda hal ini dibuktikan dengan peserta didik dapat menyimpulkan kegiatan dan juga tercapaianya tujuan pembelajaran yang telah dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Adapun umpan balik yang didapat yaitu peserta didik merasa senang dan juga ada yang minta pembelajaran selalu dilakukan dengan praktik karena pembelajaran dengan model ini lebih mudah dipahami dan tidak membuat tertekan saat belajar. (RedG/Rizanti Amalia, NIM : 1923780032, Kelas IPA B PPG PRAJABATAN UPS TEGAL)

Komentar

Tinggalkan Komentar