oleh

Esensi dari Teori Kognitivisme

Penulis : Astutiati, S.Pd (Guru SDN 1 Brangkal, Wedi, Klaten)

 

Klaten – Belajar dalam dunia pendidikan merupakan konsep pengetahuan yang banyak dilakukan oleh pendidik. Proses belajar mengajar adalah ilmu pengetahuan yang didapat dan bertambahnya ilmu pengetahuan hanya salah satu bagian kecil dari kegiatan untuk membentuk kepribadian seutuhnya. Dalam proses belajar ada yang namnya teori belajar yang dapat membantu guru atau pendidik untuk mendidik dan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid. Akan tetapi, ada beberapa guru yang lebih suka mengajar berdasarkan pengalaman saat belajar, seperti dalam beberapa kasus guru sudah menemukan cara jitu untuk mendidik dan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya tanpa harus mengetahui teori belajar.

Pada dasarnya, teori belajar sangatlah banyak, akan tetapi teori belajar yang sering digunakan oleh beberapa guru atau pendidik yaitu teori belajar behavioristik, kognitivisme, konstruktivistik, dan humanistik. Secara aplikatif, seorang pendidik tanpa disadari dapat dipastikan pernah mempraktekkan berbagai teori-teori belajar tersebut. Dalam prakteknya, apabila seorang pendidik menemukan dan mendapatkan kesulitan-kesulitan pada satu teori yang menjadi kerangka berpikirnya, maka kemungkinan, maka kemungkinan besar dia akan mencoba teori lain dalam mengatasi masalah yang dihadapi tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu pun teori yang sempurna, satu teori dapat menjadi pelengkap kekurangan teori yang lain, tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi saat proses pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, sebuah keharusan dan hal yang urgen bagi seorang pendidik untuk memahami teori-teori tersebut, sehingga betul-betul dapat dimanfaatkan dalam situasi nyata.

Teori kognitivisme , belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, akan tetapi hakikat belajar menurut teori belajar ini adalah suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal sehingga melahirkan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diukur. Peranan pendidik menurut teori belajar kognitivisme adalah sebagai pembimbing untuk mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap murid. Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan murid secara aktif amat dipentingkan karena untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar guna meningkatkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya. Tugas guru yaitu menentukan tujuan, menentukan materi pelajaran, menentukan topik-topik secara aktif, menentukan dan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk topik yang akan dipelajari oleh murid, menyiapkan pertanyaan yang akan memacu kreativitas murid, serta mengevaluasi proses dan hasil belajar. Teori kognitivisme berusaha menjelaskan bagaimana belajar terjadi dan menjelaskan secara alami kegiatan mental internal dalam diri peserta didik. Oleh sebab itu, teori kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri.

Baca Juga  Saatnya Menjadi Pahlawan Millenial di Era Disrupsi 4.0

Setiap teori belajar mempunyai kelebihan dan kekurangan, jadi setiap guru atau pendidik sebaiknya mencari teori belajar yang sesuai dengan karakter dari setiap murid. Dengan pemilihan teori yang benar, maka proses belajar mengajar akan lebih maksimal dan hasil yang didapatkan dari proses itu berdampak baik bagi murid. Adapun kelebihan teori belajar kognitif adalah memudahkan murid untuk memahami materi belajar, murid menjadi mandiri dan lebih kreatif, sebagian besar dalam kurikulum pendidikan negara Indonesia lebih menekankan pada teori kognitif yang mengutamakan pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki pada setiap individu, pendidik hanya perlu memberikan dasar-dasar dari materi yang diajarkan untuk pengembangan dan kelanjutannya diserahkan pada murid sehingga pendidik hanya perlu memonitoring dan menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah diberikan, serta dengan menerapkan teori kognitivisme ini, maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh murid guna mengingat semua materi yang diberikan. Sedangkan untuk kekurangan teori belajar kognitivisme yaitu teori ini belum dapat digunakan pada semua tingkat pendidikan; pada pendidikan tingkat lanjut; teori ini susah untuk diterapkan; lebih menekankan pada kemampuan ingatan murid dan menganggap semua murid itu mempunyai kemampuan daya ingat yang sama dan tidak dibeda-bedakan; adakalanya metode ini tidak memperhatikan cara murid dalam mengeksplorasi, mengembangkan pengetahuan, dan cara-cara murid dalam mencarinya; apabila menggunakan metode kognitif, maka dipastikan murid tidak akan mengerti sepenuhnya materi yang diberikan; serta dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif perlu diperhatikan kemampuan peserta didik untuk mengembangkan suatu materi yang telah diterimanya.

Karakteristik materi/konteks materi yang sesuai dengan teori kognitivisme yaitu lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya; menggunakan model perseptual, menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut; belajar merupakan proses internal yang mencakup ingatan retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya; pada praktek pembelajaran terdapat tahap-tahap perkembangan kognitif. Menurut Piaget, proses belajar akan terjadi apabila mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Sebagai contoh, seorang anak sudah mampu memahami prinsip pengurangan. Ketika mempelajari prinsip pembagian, maka terjadi proses pengintegrasian antara prinsip pengurangan yang sudah dikuasainya dengan prinsip pembagian (informasi baru), yang disebut proses asimilasi. Apabila anak tersebut diberikan soal-soal pembagian, maka situasi ini disebut akomodasi, artinya anak tersebut sudah mampu mengaplikasikan atau menggunakan prinsip-prinsip pembagian dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar anak tersebut dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan proses penyeimbangan dengan cara menyeimbangkan antara lingkungan luar dengan struktur kognitif yang ada dalam dirinya, proses ini disebut ekuilibrasi. Tanpa proses ekuilibrasi, perkembangan kognitif seseorang akan mengalami gangguan dan tidak teratur seperti tampak pada cara berbicaranya yang tidak runtut, berbelit-belit, terputus-putus, tidak logis, dan sebagainya. Adaptasi akan terjadi apabila terdapat keseimbangan di dalam sruktur kognitif. Semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang maka akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru harus mampu memahami tahap-tahap perkembangan kognitif murid-muridnya agar  dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahapnya. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik murid, maka tidak akan ada maknanya bagi murid tersebut. (RedG/O)

Baca Juga  Pembentukan Karakter Anti Korupsi Di Lingkungan Sekolah Kedinasan Poltekip

 

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed