Dimensi Sosial Dalam Hari Raya Idul Adha

Pemalang – Gema takbir, tahmid, tasbih berkumandang di stadion Mochtar, Pemalang. Lebih dari seribu muslimin dan muslimah baik orangtua, remaja dan anak anak menunaikan sholat idhul adha dan mendengarkan kotbah, Rabu (22/8/2018).

 

Bertindak sebagai imam dan khotib Inggit Prabowo, SPdI. dari Yogyakarta. Mengambil tema “Berq urban Membangun Dimensi Sosial“

Khotib mengajak meneladani ketakwaan dan keikhlasan nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Dimana Ketika kaum Muslim di negeri ini tengah menunaikan shalat Idul Adha, saudara-saudara kita kaum muslim sedunia sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Idul Adha, ibadah haji, dan berqurban bagi setiap Muslim merupakan wujud kita bertaqarraub kepada Allah, yang mengandung makna ruhaniah tentang ajaran kepasrahan diri. Sebuah kepasrahan autentik (al-hanif) yang secara vertikal menjadikan setiap kaum beriman meneguhkan ketauhidan untuk selalu taat kepada Allah Yang Maha Esa sekaligus merawat setiap perilaku agar tetap lurus di jalan yang benar dan tidak terjerembab ke jurang bathil dan kemusyrikan.

Dalam dimensi sosial Ibadah qurban mengajarkan amal shaleh dan Ihsan. Setiap insan beriman yang memiliki kelebihan rizki dan akses kehidupan dia niscaya untuk peduli dan berbagi bagi sesama yang membutuhkan tanpa diskriminasi. Si kaya berbagi rizki untuk si miskin. Kaum cerdik pandai berbagi ilmu kepada yang awam. Sesama manusia saling menjujung tinggi
martabat. Laki-laki dan perempuan saling memuliakan. Siapapun yang diberi akses kekuasaan dan kekayaan sedangkan dia beriman maka harus mau berkorban bagi sesama, lebih-lebih bagi yang membutuhkan. Semuanya
dilandasi spirit pengorbanan yang memiliki akar pada ajaran Ilahi, yang melahirkan tindakan-tindakan praksis altruisme relijius yang mencerahkan. Menurut ajaran Nabi, Allah berada di tengah para hamba sejauh hamba-hamba itu membela sesamanya.

Sebelum khotib mengakhiri kotbahnya, mengingatkan kembali para jamaah bahwa sejatinya berkorban itu memiliki harmoni fungsional antara Habluminallah dan habluminannas untuk membangun kehidupan yang luhur dan utama. (RedG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *