Wonogiri -Bunyi-bunyian kenthongan yang semula hanya monoton dan tak memiliki nada dasar, kini menjadi suara yang enak untuk didengar dan dirasakan. Yang menciptakan alunan bunyi musik yang enak di dengar. Kegiatan menabuh kentongan sendiri berawal dari kebiasaan penduduk yang melakukan ronda, yang biasanya berjumlah 4-5 orang dengan menabuh kenthongan keliling desa.

 

Namun kini dengan sentuhan seni, kenthongan atau sering disebut dengan “thek-thek” dapat menjadi seni musik dengan ritme yang indah dan enak didengar tanpa harus meninggalkan nuansa ketradisionalannya. Dan masyarakatpun kemudian mengenal kenthongan juga sebagai alat musik.

Seperti tampak dalam gambar yang bertempat di halaman rumah Samiyono Ketua RT 05/RW 02 Dusun Jatinom, Desa Jatisrono beberapa pemuda yang tergabuing dalam karangtaruna sedang asyik berlatih dan bermain thek-thek hingga larut malam, Kamis (16/8/2018).

Adapun kegitan ini di samping untuk melestarikan budaya bangsa juga untuk menyambut karnaval di Kecamatan Jatisrono dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun kemerdekan Republik Indonesia yang ke 73 di tahun 2018 ini.

Salah satu pemuda yang bernama Kasdi selaku Ketua Karangtaruna setempat menuturkan semakin maju perkembangan zaman samakin banyak juga variasi musik yang dimainkan dalam permainan thek-thek.

“Itulah yang membuat thek-thek semakin digandrungi masyarakat. Saya berharap masyarakat khususnya pemuda tidak hanya memainkan alat-alat musik barat saja tetapi cintailah budaya kita sendiri karena budaya kita adalah nyawa kita, jangan sampai kebudayaan kita jatuh ketangan orang lain,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama tokoh pemuda setempat Is Sukatno menambahkan sebenarnya sejak dulu kesenian musik tradisional thek-thek kentongan sudah ada di kampungnya.

“Kesenian ini merupakan bagian dari tradisi budaya masyarakat sekitar Jatisrono. Jadi, kita hanya melestarikan dan meneruskan simbah-simbah kita dulu,” tambahya. (RedG)

 

 

Tinggalkan Komentar