Pemalang – Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Pemalang kali pertama mengadakan press release mengenai kondisi makro di kabupaten Pemalang.

“Pres release ini bukan suatu kewajiban bagi BPS di kabupaten seperti Pemalang ini, akan tetapi kami memberanikan diri dan mewajibkan diri sendiri untuk merilis capaian indikator makro di kabupaten Pemalang” kata kepala BPS kabupaten Pemalang Dra. Prita Rextiana, MM, Pada awal paparannya di ruang rapat, Kantor BPS, Jl. Tentara Pelajar No.16, Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52312, Senin (17/12/2018).

Dalam paparannya kepala BPS kabupaten Pemalang mengangkat perkembangan indeks harga konsumen/inflansi di Pemalang , profil kemiskinan di kabupaten Pemalang tahun 2018 dan keadaan ketenagakerjaan kabupaten Pemalang Agustus 2018.

Laju Inflansi

Pada paparan Kepala BPS kabupaten Pemalang terkuak bahwa pada November 2018 di Pemalang terjadi inflasi sebesar 0,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 130,22 lebih rendah di bandingkan bulan Oktober 2018 yang mengalami inflasi sebesar 0,33 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,82.

Inflasi di Pemalang terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,20 persen; kelompok sandang sebesar 0,42 persen; kelompok transportasi dan komunikasi 0,22 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,17 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,09 persen; kelompok kesehatan 0,01 persen. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau
turun sebesar -0,10 persen.

Penyebab utama inflasi pemalang adalah naiknya harga bawang merah, beras, telur ayam ras, semen dan bensin. Sementara yang menahan laju
inflasi adalah turunnya harga cabai merah, gula pasir, tongkol, bawang putih dan kemiri.

Tingkat inflasi tahun kalender pada bulan November tahun 2018 (perubahan IHK November 2018 terhadap IHK Desember 2017) sebesar 2,44 persen dan laju Inflasi “year on year” (perubahan IHK November 2018 terhadap IHK November 2017) sebesar 2,93 persen.

Profil Kemiskinan

Profil kemiskinan di kabupaten Pemalang tahun 2018, menurut paparan Kepala BPS kabupaten Pemalang dimana pada bulan Maret 2018, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Kabupaten Pemalang mencapai 208,34 ribu orang (16,04 persen), berkurang sebesar 16,66 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 225 ribu orang (17,37 persen).

Sedangkan Indeks Kedalaman Kemiskinan/Poverty Gap Index (P1) yang merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan di Kabupaten Pemalang Maret 2018 sebesar 2,96. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan.

Pada Indeks Keparahan Kemiskinan/ Proverty Severity Index (P2) memberikan gambararn mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin di Kabupaten Pemalang sebesar 0,83. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

Secara umum, sejak 2008, tingkat kemiskinan di Kabupaten Pemalang mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, kecuali pada tahun 2011. Perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut disajikan pada Gambar 1.

Ketenagakerjaan
Keadaan ketenagakerjaan kabupaten Pemalang Agustus 2018 terpotret oleh BPS kabupaten Pemalang dimana Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Pemalang sebanyak 621.508 orang, sejalan dengan itu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 65,01 persen.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pemalang Agustus 2018 sebesar 6,21 persen. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tertinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 23,73 persen.

Penduduk bekerja ada sebanyak 582.895 orang, jika dilihat dari lapangan pekerjaan utama, lapangan usaha yang penyerapan tenaga kerja mencapai dua digit terjadi di sektor Pertanian (25,82 persen), sektor Industri Pengolahan (20,54 persen) dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reperasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (18,97 persen). Sedang sektor-sektor
lain penyerapannya dibawah 10 persen. (RedG)

Tinggalkan Komentar