Gorontalo – Populasi dan habitan Anoa dan Babirusa sebagai satwa endemis Pulau Sulawesi mulai terancam. The International Union for Conservation of Nature [IUCN] memasukkan Anoa sebagai jenis terancam punah secara global dengan kategori Endangered. Sementara, tiga spesies Babirusa; Babyrousa babyrussa berstatus Vulnerable, Babyrousa togeanensis berstatus Endangered, dan Babyrousa celebensis berstatus Vulnerable. Bahkan, jenis – jenis Babirusa telah dilindungi sejak 1931 oleh Pemerintah Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] meluncurkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Anoa dan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Babirusa pada 2013 – 2024. Dokumen ini telah disahkan melalui Peraturan Menteri Kehutanan No: P. 54/Menhut-II/2013 dan Peraturan Menteri Kehutanan No: P.55/ Menhut-II/2013.

Untuk memotret capaian yang sudah dijalankan para pihak serta tantangan dan hambatan dalam mengimplementasikan SRAK Anoa dan Babirusa. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Burung Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Pemantauan Implementasi SRAK Anoa dan Babirusa tahun 2019. Harapannya, selain mendapatkan update data dan informasi capaian SRAK, juga dapat memperkuat konsolidasi para pihak yang berkepentingan dalam upaya konservasi Anoa dan Babirusa di Sulawesi.

Dalam sambutannya pada Lokakarya Pemantauan SRAK Anoa dan Babirusa di Gorontalo Noel Layuk Noel Kepala Balai KSDA Sulawesi Utara menyampaikan, “konservasi Anoa, Babirusa dan habitatnya diharapkan selaras dengan program pembangunan.”

Noel mengatakan, pihaknya ingin konservasi Anoa dan Babirusa lebih maksimal lagi, harus dikomunikasikan dengan para pihak. Mengingat, KLHK sendiri saat ini dibebankan tugas untuk meningkatkan populasi spesies terancam punah, termasuk Anoa dan Babirusa sebesar 10%.

”Kondisi eksisting Anoa dan Babirusa sekarang ini, populasinya dihabitat kurang dari 5.000 individu. Data mencatat, tingkat perburuan Anoa per tahunnya sebanyak 275 individu dewasa. Sementara Babirusa sebanyak 100 individu dewasa. Meski data perburuan terkesan kian menurun dari tahun ke tahun. Hal ini memberikan warning kepada kita bahwa populasi Anoa dan Babirusa sudah menurun dan dianggap punah secara lokal.

Sementara Program Maneger Gorontalo – Burung Indonesia, Amsurya Warman Amsa menjelaskan “Burung Indonesia ikut berkontribusi dalam mengimplementasikan SRAK Anoa dan Babirusa, mengingat wilayah kerja kami merupakan habitat penting bagi Anoa dan Babirusa. Khususnya di Provinsi Gorontalo.”

Selain mendukung implementasi SRAK Anoa dan Babirusa, Burung Indonesia juga aktif mendukung penyusunan SRAK Rangkong Gading dan Elang Flores serta mendukung advokasi kebijakan perlindungan spesies sebagaimana PemenLHK No. 106/2018 tentang Jenis dan Tumbuhan yang Dilindungi.

Dinas Kehutanan Provinsi Gorontalo menambahkan “Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) di tingkat tapak sangat mendukung agenda SRAK Anoa dan Babirusa melalui sinkronisasi didalam rencana pengelolaan hutan KPH. Misalnya, melalui kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan yang menjadi habitat Anoa dan Babirusa.”

Hoeruddin yang yang mewakili Kepala Dinas LHK Gorontalo menambahkan, bahwa habitat dari Anoa dan Babirusa sekarang ini kian mengkhawatirkan akibat tingginya laju perburuan hewan dan diperdagangkan. Karena itu, kolaborasi pusat dan daerah sangat diharapkan untuk bisa menekan situasi ini. Salah satunya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, ujar Hoeruddin.

Acara lokakarya SRAK ini sendiri diikuti oleh 40 peserta yang merupakan perwakilan dari Balai KSDA dan Taman Nasional se – Sulawesi, akademisi dan praktisi. Lokakarya ini dijadwalkan akan dilaksanakan selama dua hari dengan agenda pemaparan capaian implementasi dari masing masing wilayah konservasi di Sulawesi, pembahasan kendala dan masalah serta merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut SRAK Anoa dan Babirusa kedepan. (RedG)

Tinggalkan Komentar